DI DUNIA yang serba cepat dan serba terlihat ini, manusia semakin mudah terjebak dalam penilaian palsu. Ukuran keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh kualitas diri, tetapi oleh seberapa banyak likes yang kita dapatkan. Banyak orang yang merasa bernilai ketika unggahannya viral, merasa dihargai ketika komentarnya dipuji, dan merasa berharga ketika pengikutnya bertambah. Padahal, di balik layar yang berpendar itu, ada risiko besar: kita sibuk memikat manusia, tetapi tidak dinilai sedikit pun oleh langit.
Rasulullah SAW memberikan peringatan penting: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Hadis ini seakan memberi tamparan bahwa apa yang manusia lihat di media sosial hanyalah permukaan. Foto terbaik, sudut kamera paling menawan, retouch warna yang memikat—semuanya bisa menipu pandangan manusia, tetapi tidak menipu Allah. Nilai diri tidak ditentukan oleh penampilan dan pencitraan, tetapi oleh hati dan amal.
Inilah masalah besar era digital: manusia takut tidak viral, tetapi tidak takut kehilangan keberkahan. Mereka takut tidak disukai manusia, tetapi tidak takut kehilangan rida Allah. Kita hidup di zaman ketika orang berlomba menjadi “yang paling terlihat,” padahal yang paling Allah cintai adalah “yang paling ikhlas.”
Popularitas bukan ukuran kebenaran. Ia bisa menjadi ujian yang membutakan. Seseorang bisa terlihat sangat dermawan, sering unggah konten religi, sering berbicara tentang moral dan kebaikan—namun semua itu tidak bernilai jika dilakukan karena ingin dipuji. Rasulullah SAW menyebut riya’ sebagai syirik kecil, sesuatu yang sangat beliau khawatirkan menimpa umat. Mengapa? Karena riya’ masuk ke dalam hati begitu halus. Ia datang perlahan, tanpa kita sadari. Kita memulai sesuatu dengan niat yang bersih, namun ketika komentar pujian mulai berdatangan, niat itu berubah arah.
Baca Juga: Menjaga Hati dari Dengki di Bulan Ramadhan
Allah pun memperingatkan melalui hadis qudsi: “Aku paling tidak butuh sekutu. Barangsiapa melakukan amal lalu mencampurinya (dengan tujuan selain Allah), maka Aku tinggalkan dia bersama sekutunya.” (HR. Muslim). Artinya, amal yang tampak besar di mata manusia bisa runtuh nilainya karena niat yang rusak. Kita bisa tampil saleh, tetapi di hadapan Allah, amal itu berdebu.
Sementara itu, para ulama salaf mengajarkan sesuatu yang sangat berlawanan dengan budaya pamer zaman modern: mereka menyembunyikan amal-amal mereka seperti menyembunyikan aib. Ada yang shalat malam bertahun-tahun tanpa diketahui siapa pun. Ada yang bersedekah secara diam-diam, sehingga tangan kiri tidak tahu apa yang diberikan tangan kanan. Mereka memahami bahwa semakin tersembunyi suatu amal, semakin kuat pula nilai keikhlasan di hadapan Allah.
Namun ini bukan berarti kita tidak boleh menampilkan kebaikan. Islam mendorong manusia untuk menjadi teladan. Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang memberi contoh kebaikan akan mendapatkan pahala orang yang mengikutinya. Namun permasalahannya selalu kembali kepada niat. Amal yang tampak sama bisa menjadi sangat berbeda nilai akhirnya, tergantung apa yang bersemayam di hati.
Media sosial sebenarnya dapat menjadi ladang pahala besar. Satu unggahan yang menguatkan iman orang lain bisa menjadi sedekah jariyah. Satu tulisan yang membuat seseorang bertaubat bisa menjadi penyelamat kita di akhirat. Bahkan satu kalimat pendek yang mengingatkan orang pada Allah bisa menjadi alasan turunnya rahmat. Namun semua itu hanya bernilai jika ditulis dengan niat yang benar—bukan demi dikenal, bukan demi dipuji, bukan demi sekadar tampil saleh.
Baca Juga: Syukur yang Menyelamatkan, Pergaulan yang Menentukan
Yang perlu diingat adalah bahwa ketenangan tidak datang dari pujian manusia. Banyak orang yang viral tetap merasa kosong. Banyak yang terkenal justru semakin gelisah. Ini karena hati tidak pernah puas dengan validasi manusia. Setiap like hanyalah suntikan kecil yang cepat menghilang.
Sebaliknya, keikhlasan memberi ketenangan yang tidak tergantikan. Ketika seseorang fokus memperbaiki hubungan dengan Allah, ia tidak lagi gelisah saat tidak ada yang “like”, tidak patah hati ketika tidak viral, dan tidak minder ketika tidak dikenal. Ia memahami bahwa penilaian manusia hanyalah bayangan, sementara penilaian Allah adalah cahaya.
Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa jika Allah mencintai seorang hamba, Allah akan menyeru malaikat Jibril untuk mencintainya. Jibril pun menyeru para malaikat di langit, lalu Allah menanamkan rasa cinta itu di hati manusia. Artinya, cinta manusia yang benar-benar tulus justru datang ketika Allah lebih dulu mencintai kita. Maka fokus utama bukanlah memikat manusia, melainkan memikat Allah.
Pada akhirnya, dunia maya akan hilang. Akun akan terhapus. Semua jejak digital akan lenyap. Yang tersisa hanyalah catatan amal yang kita bawa ke hadapan Allah. Karena itu, jangan sampai kita menjadi orang yang terkenal di bumi tetapi asing di langit. Lebih baik tidak viral tetapi dicintai Allah, daripada populer di dunia namun dicatat sebagai hamba yang riya’.
Baca Juga: Memaknai Nuzulul Qur’an sebagai Pedoman Kehidupan
Jangan tertipu oleh likes. Yang harus kita kejar bukan tepuk tangan manusia, tetapi rida Yang Maha Melihat. Karena di akhirat, yang menjadi saksi bukan jumlah follower, tetapi ketakwaan dan amal saleh yang ikhlas. Semoga Allah membersihkan hati kita, menjaga niat kita, dan menjadikan setiap aktivitas—baik di dunia nyata maupun dunia maya—sebagai jalan menuju surga-Nya. Aamiin.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Rahasia Amal Diterima: Hati yang Merasa Amalnya Belum Seberapa
















Mina Indonesia
Mina Arabic