Tek Aviv, MINA – Menjelang pemilu Oktober mendatang, netanyahu/">Benjamin Netanyahu mengatakan tidak akan membiarkan berdirinya negara Palestina di Gaza maupun Tepi Barat selama dirinya masih menjabat sebagai perdana menteri.
Pernyataan Netanyahu disampaikan Sabtu (22/8), sebagai tanggapan atas pernyataan Ketua United Arab List (Ra’am), Mansour Abbas, yang mengatakan bahwa negara Palestina telah ada dan diakui oleh sebagian besar negara di dunia.
Abbas juga menyerukan agar Amerika Serikat dan Zionis Israel mengakui Palestina sebagai sebuah negara.
“Selama saya menjadi perdana menteri, tidak akan ada negara Palestina yang dikendalikan Iran, baik di Gaza maupun Yudea dan Samaria,” kata Netanyahu, menggunakan istilah biblikal untuk menyebut wilayah Tepi Barat yang dijajah. Mengutip Middle East Monitor.
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu setelah Abbas berbicara dalam konferensi umum partainya di Tayibe.
Abbas mengatakan Ra’am berupaya mendorong perdamaian antara Palestina dan Israel.
“Negara Palestina ada, dan dunia mengakuinya,” kata Abbas, seraya menyerukan Washington dan Tel Aviv untuk memberikan pengakuan yang sama.
Pernyataan Netanyahu mengenai negara Palestina muncul menjelang pemilihan Knesset yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026.
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
Sejumlah jajak pendapat menunjukkan Partai Likud yang dipimpin Netanyahu bersama partai-partai koalisinya belum memperoleh dukungan yang cukup untuk mencapai 61 kursi, jumlah minimum yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan.
Likud saat ini memiliki 32 kursi, tetapi dukungannya dalam sejumlah survei terbaru menurun.
Survei yang dirilis Jumat memperkirakan Likud hanya memperoleh sekitar 20 kursi.
Sementara itu, jajak pendapat Channel 13 yang dipublikasikan 19 Agustus memproyeksikan Likud bersama sekutu sayap kanan dan partai ultra-Ortodoks hanya memperoleh 51 kursi, atau 10 kursi di bawah ambang mayoritas parlemen.
Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka
Sikap Netanyahu yang menolak pembentukan negara Palestina di Gaza dan Tepi Barat juga muncul di tengah persaingan politik menjelang pemilu.
Media internasional sebelumnya melaporkan bahwa prospek terpilih kembali Netanyahu menghadapi ketidakpastian akibat menurunnya dukungan terhadap Likud dan dinamika internal partai tersebut.
Sementara itu, sistem pemilu Knesset menggunakan sistem proporsional, dengan ambang batas parlemen sebesar 3,25 persen. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza
















Mina Indonesia
Mina Arabic