Tokyo, MINA – Otoritas Jepang menetapkan status “kokushobi” atau hari dengan suhu sangat panas setelah temperatur di sejumlah wilayah menembus 40 derajat Celsius.
Kondisi cuaca ekstrem tersebut mendorong pemerintah mengeluarkan peringatan kesehatan dan meminta masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan guna menghindari risiko serangan panas (heatstroke). Kyodonews melaporkan, Sabtu (25/7).
Badan Meteorologi Jepang (JMA) melaporkan suhu di beberapa kota mencapai lebih dari 40 derajat Celsius selama dua hari berturut-turut. Istilah “kokushobi” diperkenalkan tahun ini untuk menandai kondisi panas yang sangat berbahaya sekaligus meningkatkan kewaspadaan publik.
Peringatan juga diterbitkan di puluhan prefektur, sementara warga diimbau menggunakan pendingin ruangan, mencukupi kebutuhan cairan tubuh, serta menghindari paparan sinar matahari dalam waktu lama.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Gelombang panas tersebut telah berdampak pada kesehatan masyarakat. Ratusan orang dilaporkan harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat dugaan heatstroke, terutama kelompok lanjut usia dan mereka yang bekerja di luar ruangan.
Otoritas penanggulangan bencana Jepang bahkan menyebut situasi ini layak diperlakukan sebagai sebuah bencana karena berpotensi menimbulkan korban jiwa apabila langkah pencegahan tidak dilakukan secara serius.
Fenomena cuaca ekstrem yang melanda Jepang terjadi ketika sebagian besar kawasan Belahan Bumi Utara juga menghadapi musim panas yang lebih intens dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Para ilmuwan menilai perubahan iklim akibat aktivitas manusia telah meningkatkan frekuensi dan intensitas gelombang panas di berbagai negara, termasuk Jepang.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
Pada musim panas tahun lalu, negara tersebut mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah mencapai 41,8 derajat Celsius, sementara lebih dari 100.000 orang sempat dirawat akibat serangan panas.
Selain mengancam kesehatan, suhu ekstrem juga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari.
Sejumlah pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan layanan kesehatan, membuka pusat-pusat pendinginan (cooling centers), serta mengintensifkan penyebaran informasi kepada masyarakat.
Sekolah, perusahaan, dan penyelenggara kegiatan luar ruang juga diminta menyesuaikan jadwal aktivitas untuk meminimalkan paparan panas berlebih.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Gelombang panas di Jepang terjadi di tengah meningkatnya kejadian cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia, mulai dari kebakaran hutan di Eropa hingga lonjakan suhu di sejumlah negara.
Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran komunitas internasional terhadap dampak perubahan iklim yang semakin nyata dan menuntut langkah mitigasi serta adaptasi yang lebih serius untuk melindungi keselamatan masyarakat. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
















Mina Indonesia
Mina Arabic