Tokyo, MINA – Jepang menuduh jet tempur J-15 China mengarahkan radar penargetan ke pesawat Jepang dalam dua insiden terpisah di dekat Okinawa, menyebut tindakan tersebut “berbahaya dan tidak dapat diterima.”
Dilansir dari Khaama Press pada Senin (8/12), Perdana Menteri Sanae Takaichi mengatakan kepada wartawan bahwa penguncian radar telah melampaui batas yang diperlukan untuk operasi penerbangan yang aman dan menimbulkan risiko eskalasi yang serius.
Ia mengatakan, Jepang telah secara resmi mengajukan protes kepada Pemerintah Beijing atas apa yang ia gambarkan sebagai “insiden yang sangat disesalkan.”
Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi, yang berbicara di Tokyo bersama Menteri Pertahanan Australia Richard Marles, mengatakan, Jepang akan menanggapi tindakan Tiongkok dengan “tegas dan tenang” untuk melindungi stabilitas regional.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Namun, China membantah tuduhan tersebut. Juru Bicara Angkatan Laut China Kolonel Wang Xuemeng mengatakan, pesawat Jepang berulang kali mendekati pasukan angkatan laut Tiongkok yang sedang melakukan latihan terbang berbasis kapal induk yang diumumkan di timur Selat Miyako dan mengganggu operasi.
Jepang mengatakan, pesawat China yang terlibat diluncurkan dari kapal induk Liaoning, yang beroperasi dengan tiga kapal perusak rudal di selatan Okinawa. Jepang menerbangkan pesawat tempur F-15 sebagai respons atas operasi tersebut.
Kedua negara tetangga ini pernah berselisih terkait insiden serupa di masa lalu. Pada tahun 2013, Jepang mengatakan, sebuah kapal China mengunci radar ke sebuah kapal perusak Jepang, dan pada tahun 2016 Beijing menuduh Tokyo menggunakan radar untuk melawan jet-jet China.
Awal tahun ini, Jepang juga melaporkan sebuah pesawat tempur China terbang sangat dekat dengan salah satu pesawat patrolinya.
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
Para analis mencatat bahwa bentrokan udara dan laut semakin sering terjadi seiring kedua negara memperluas patroli di wilayah udara dan perairan yang disengketakan di dekat Laut Cina Timur.
Para pakar keamanan memperingatkan bahwa tanpa mekanisme komunikasi dan pengendalian diri, bahkan penerbangan pengintaian rutin dapat memicu konfrontasi militer yang lebih luas antara dua kekuatan terbesar di Asia tersebut. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran
















Mina Indonesia
Mina Arabic