Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika Nasihat Tak Lagi Dirindukan

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Senin, 26 Januari 2026 - 14:28 WIB

Senin, 26 Januari 2026 - 14:28 WIB

37 Views

Namun nasihat yang mengingatkan tentang akhirat justru dianggap racun, karena ia merusak kenyamanan dunia.(Foto: ig)

ADA satu ironi besar di zaman ini yang pelan-pelan merusak iman, namun jarang disadari. Nasihat yang lahir dari Al-Qur’an dan Sunnah justru dianggap “toxic”, menyakitkan, dan tidak relevan, sementara maksiat yang jelas melanggar syariat dipromosikan sebagai hiburan, kebebasan, bahkan healing. Yang mengingatkan disebut sok suci dan kolot, sementara yang mengajak pada dosa dielu-elukan.

Padahal sejak awal, agama ini berdiri di atas nasihat. Rasulullah SAW menegaskan, “Ad-dīnu an-naṣīḥah”—agama itu adalah nasihat (HR. Muslim). Ketika nasihat dibenci, sejatinya yang ditolak bukan manusia yang berbicara, melainkan kebenaran yang sedang mengetuk hati.

Fenomena ini bukan hal baru. Al-Qur’an telah mengabarkan bahwa manusia sering menolak petunjuk bukan karena tidak tahu, tetapi karena enggan tunduk. Allah berfirman, “Apabila dikatakan kepada mereka: ikutilah apa yang diturunkan Allah, mereka menjawab: tidak, kami mengikuti apa yang kami dapati dari kebiasaan kami.” (QS. Al-Baqarah: 170).

Hanya saja, di zaman ini kebiasaan itu berganti rupa menjadi tren, budaya populer, validasi media sosial, dan suara influencer yang lebih didengar daripada ayat dan hadis. Kebenaran terasa mengganggu karena ia menuntut perubahan, sementara kebatilan terasa nyaman karena membiarkan hawa nafsu berkuasa.

Baca Juga: Menjaga Hati dari Dengki di Bulan Ramadhan

Maksiat hari ini jarang tampil dengan wajah kasar dan menakutkan. Ia dikemas rapi, estetik, dan penuh narasi pembenaran. Zina disebut cinta dewasa, membuka aurat disebut ekspresi diri, khamr disebut pelepas stres, dan pacaran bebas disebut proses mengenal diri. Padahal Allah ﷻ telah memperingatkan dengan bahasa yang sangat tegas, “Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu perbuatan keji dan jalan yang buruk. (QS. Al-Isrā’: 32).

Namun manusia justru mendekatinya, lalu marah kepada nasihat yang mencoba menariknya kembali. Yang disalahkan bukan dosa, tetapi orang yang mengingatkan dosa.

Sesungguhnya, masalah utama bukan pada nasihat, tetapi pada kondisi hati. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa setiap dosa akan meninggalkan noda hitam di hati. Jika seseorang bertaubat, noda itu dibersihkan, tetapi jika ia terus mengulanginya, noda itu akan menumpuk hingga menutupi hati (HR. Tirmidzi).

Ketika hati tertutup dosa, kebenaran tidak lagi terasa menenangkan, melainkan menyakitkan. Sebaliknya, kebatilan terasa nikmat dan membebaskan. Ibnu Qayyim rh. berkata bahwa hati yang hidup akan merasakan sakit ketika berbuat dosa, sebagaimana tubuh merasakan sakit ketika terluka, sementara hati yang mati tidak lagi merasakan apa-apa. Inilah musibah terbesar: bukan banyaknya dosa, tetapi matinya rasa bersalah.

Baca Juga: Syukur yang Menyelamatkan, Pergaulan yang Menentukan

Ironisnya, istilah “toxic” justru jarang disematkan pada dosa, padahal dosa adalah racun paling berbahaya bagi jiwa. Allah berfirman, “Sekali-kali tidak, bahkan apa yang mereka kerjakan telah menutupi hati mereka” (QS. Al-Mutaffifin: 14). Dosa mengeraskan hati, menggelapkan pandangan, dan menjauhkan manusia dari cahaya petunjuk.

Namun nasihat yang mengingatkan tentang akhirat justru dianggap racun, karena ia merusak kenyamanan dunia. Hasan Al-Basri rh. pernah berkata bahwa orang beriman adalah orang yang paling keras menasihati dirinya sendiri, sedangkan orang munafik membiarkan dirinya tanpa koreksi dan tanpa rasa takut.

Sesungguhnya banyak orang tidak membenci Islam, tetapi membenci konsekuensi dari kebenaran. Mereka tidak menolak ayat, tetapi menolak tuntutan ayat. Allah berfirman, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jātsiyah: 23). Ketika hawa nafsu menjadi tuhan, wahyu akan terasa mengganggu, dan nasihat akan dianggap ancaman. Bukan karena nasihat itu salah, tetapi karena ia menuntut pengorbanan dan ketaatan.

Padahal nasihat sejati tidak lahir dari rasa ingin menghakimi, melainkan dari kasih sayang dan keinginan menyelamatkan. Rasulullah SAW menangis memikirkan umatnya. Para ulama menasihati dengan hati yang penuh empati, bukan dengan kesombongan.

Baca Juga: Memaknai Nuzulul Qur’an sebagai Pedoman Kehidupan

Imam Syafi’i rh. berkata bahwa orang yang menasihati secara sembunyi telah benar-benar menasihati, sedangkan yang menasihati untuk mempermalukan hanyalah melukai. Maka ketika ada nasihat yang tulus dan sesuai syariat, jangan tergesa-gesa menolaknya. Bisa jadi itulah bentuk rahmat Allah yang terakhir sebelum hati benar-benar mengeras.

Kelak, saat kematian datang dan tabir dunia tersingkap, manusia akan menyesal. Bukan karena terlalu banyak dinasihati, tetapi karena terlalu sering menolak nasihat. Allah menggambarkan penyesalan itu, “Ya Rabbku, kembalikan aku ke dunia agar aku dapat beramal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan. (QS. Al-Mu’minūn: 99–100).

Namun saat itu, penyesalan tidak lagi berguna. Selama napas masih ada dan nasihat masih terdengar, itu bukan racun, melainkan rahmat. Karena yang benar-benar toxic bukanlah nasihat yang menyentuh ego, tetapi maksiat yang perlahan membinasakan jiwa.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Rahasia Amal Diterima: Hati yang Merasa Amalnya Belum Seberapa

 

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Khutbah Jumat
Tausiyah
Tausiyah
Ramadhan 1447 H
Artikel