Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Media dan Zakat: Kolaborasi Strategis untuk Indonesia Berkeadilan

Bahron Ansori Editor : Rudi Hendrik - Selasa, 3 Februari 2026 - 22:15 WIB

Selasa, 3 Februari 2026 - 22:15 WIB

12 Views ㅤ

Ilustrasi: seorang pria Muslim menakar beras untuk zakat. (Gambar: Dreamina)

DI TENGAH derasnya arus informasi yang membanjiri kehidupan sehari-hari, umat Islam dihadapkan pada satu ironi besar: ajaran zakat yang begitu kuat secara spiritual dan sosial, belum sepenuhnya hadir sebagai kekuatan perubahan yang terasa luas di tengah masyarakat. Padahal, Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.

Zakat bukan sekadar kewajiban individual, melainkan sistem ilahiah yang dirancang untuk menghadirkan keadilan, mengikis kesenjangan, dan menjaga martabat manusia. Namun, potensi besar itu sering kali teredam, bukan karena umat enggan berzakat, melainkan karena pesan zakat belum disampaikan dengan cara yang benar, menyentuh, dan membangkitkan kesadaran kolektif. Di sinilah peran media menjadi sangat menentukan.

Zakat sejatinya adalah bahasa kepedulian. Ia bukan hanya angka, laporan, atau tabel distribusi, melainkan kisah tentang kehidupan yang terangkat, harapan yang tumbuh, dan martabat yang dipulihkan. Sayangnya, banyak umat masih memandang zakat sebagai rutinitas tahunan yang bersifat administratif. Zakat dikeluarkan, kewajiban dianggap selesai, tanpa sempat merasakan denyut kehidupan di baliknya.

Sebagian umat bahkan menyimpan keraguan: apakah zakat benar-benar sampai kepada yang berhak, apakah dikelola dengan amanah, dan apakah berdampak nyata. Keraguan-keraguan ini tidak cukup dijawab dengan dalil atau laporan keuangan semata, tetapi dengan narasi yang jujur, transparan, dan menyentuh hati—dan itu adalah wilayah kerja media.

Baca Juga: Pemilu Israel: Netanyahu Gagal, Jalanan Menuntut “Bibi Masuk Penjara”

Media memiliki kekuatan untuk mengubah cara pandang. Ia mampu menjembatani jarak antara muzaki dan mustahik, antara niat baik dan dampak nyata. Melalui media, zakat tidak lagi terasa jauh dan abstrak, tetapi dekat dan manusiawi. Kisah seorang ibu yang bangkit dari keterpurukan melalui zakat produktif, atau seorang anak yatim yang kembali bersekolah karena kepedulian umat, jauh lebih menggugah daripada sekadar angka statistik. Media memberi wajah pada zakat, memberi suara pada yang selama ini tak terdengar, dan memberi makna pada setiap rupiah yang dititipkan.

Media sebagai Mitra Perjuangan Zakat

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) telah berkali-kali menegaskan bahwa perjuangan zakat hari ini adalah perjuangan narasi. Zakat tidak bisa lagi berjalan dengan cara lama di tengah masyarakat yang hidup di era digital. Umat kini berpikir, merasa, dan mengambil keputusan melalui informasi yang mereka konsumsi setiap hari. Karena itu, BAZNAS memandang media bukan sekadar alat publikasi, tetapi mitra strategis dalam membangun kesadaran, kepercayaan, dan partisipasi umat. Program zakat yang baik tanpa komunikasi yang baik akan sunyi, bahkan berisiko disalahpahami.

Transparansi zakat membutuhkan media agar bisa dirasakan, bukan hanya dibaca. Akuntabilitas zakat perlu diceritakan agar sampai ke hati umat. Media membantu menjelaskan program yang kompleks dengan bahasa yang sederhana, menyampaikan laporan yang panjang dalam kisah yang mudah dipahami, serta menampilkan dampak zakat dengan cara yang bermartabat dan penuh empati. Di sisi lain, praktisi zakat menyediakan konten yang bernilai: solusi, harapan, dan inspirasi yang sangat dibutuhkan masyarakat. Ketika keduanya bersinergi, zakat tidak lagi berjalan sendiri, tetapi menjadi gerakan sosial yang hidup.

Kolaborasi ini juga sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik. Di era media sosial, satu informasi keliru dapat merusak kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun. Media yang kredibel, profesional, dan berpihak pada kemaslahatan umat menjadi benteng penting bagi lembaga zakat. Bukan untuk menutup kekurangan, tetapi untuk menyampaikan kebenaran dengan jujur dan bertanggung jawab. Zakat tidak butuh pencitraan berlebihan, ia hanya perlu disampaikan apa adanya, dengan hati yang lurus dan niat yang bersih.

Baca Juga: Mesir Negara Pertama yang Mengakui Kemerdekaan Indonesia, Ini Sejarahnya

Lebih jauh, media dapat membantu menggeser cara pandang umat terhadap zakat. Dari sekadar bantuan konsumtif menjadi solusi berkelanjutan. Dari rasa iba sesaat menjadi komitmen jangka panjang. Ketika media menampilkan keberhasilan zakat produktif, pemberdayaan ekonomi, dan transformasi mustahik menjadi muzaki, umat belajar bahwa zakat adalah investasi sosial yang nyata. Di titik ini, zakat tidak lagi dipahami sebagai “pengeluaran”, tetapi sebagai jalan menuju keberkahan dan keadilan.

Indonesia yang berkeadilan tidak lahir hanya dari kebijakan negara atau pertumbuhan ekonomi, tetapi dari kepedulian yang hidup di tengah masyarakat. Zakat adalah salah satu instrumen paling otentik yang dimiliki bangsa ini untuk mewujudkan keadilan tersebut. Media adalah pengeras suaranya. Ketika zakat dan media berjalan bersama, lahirlah optimisme kolektif bahwa kemiskinan bisa dikurangi, kesenjangan bisa dijembatani, dan nilai-nilai Islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi semesta.

Pada akhirnya, baik media maupun zakat sama-sama memikul amanah. Media memikul amanah informasi, zakat memikul amanah harta. Jika keduanya dijalankan dengan kejujuran, keikhlasan, dan kolaborasi yang strategis, maka kata-kata akan berubah menjadi cahaya, dan harta akan berubah menjadi kehidupan. Indonesia tidak kekurangan orang baik, tidak pula kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah sinergi yang tulus, agar zakat benar-benar menjadi kekuatan yang menggerakkan nurani dan menuntun bangsa ini menuju Indonesia yang lebih berkeadilan.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji

Rekomendasi untuk Anda

MINA Preneur
Indonesia