Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khutbah Jumat: Puasa dan Tazkiyatun Nafs

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 26 Februari 2026 - 14:25 WIB

Kamis, 26 Februari 2026 - 14:25 WIB

212 Views

Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

Khutbah Jumat kali ini berjudul: Puasa dan Tazkiyatun Nafs.

Puasa melatih manusia menahan diri dari sesuatu yang halal pada waktu tertentu. Ini pendidikan pengendalian diri yang luar biasa. Jika yang halal saja mampu ditahan demi Allah, maka yang haram seharusnya lebih mudah ditinggalkan.

Dalam perspektif spiritual, puasa melemahkan dominasi syahwat. Syahwat perut dan kemaluan sering menjadi pintu masuk berbagai penyimpangan. Ketika keduanya dikendalikan, jiwa menjadi lebih jernih dan lebih mudah menerima cahaya hidayah.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Ramadhan dan Al-Qur’an, Cahaya yang Menyinari Jiwa

Puasa juga melatih keikhlasan. Ia adalah ibadah yang tersembunyi. Tidak ada manusia yang dapat memastikan apakah seseorang benar-benar berpuasa atau tidak. Karena itu, puasa sangat terkait dengan kejujuran batin dan hubungan personal dengan Allah.

Khutbah selengkapnya silakan simak berikut:

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم

Khutbah ke-1:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Puasa Ramadhan Membentuk Ketaqwaan Pribadi dan Sosial

إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Segala puji bagi Allah , Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah atas semulia-mulia Nabi dan Rasul, Muhammad ﷺ, keluarganya, sahabatnya, dan para pengikutnya sampai hari pembalasan.

Sebagai bentuk syukur atas nikmat iman dan Islam, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah , takwa yang tertanam dalam hati dan tercermin dalam amal kehidupan.

Puasa di bulan ini bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan menundukkan hawa nafsu, membersihkan hati dari penyakit-penyakitnya, serta menumbuhkan keikhlasan dan kesabaran dalam beribadah kepada Allah .

Baca Juga: Khutbah Gerhana Bulan: Kebesaran Allah dan Ketaqwaan Manusia

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Pada kesempatan Jum’at yang berbahagia ini, marilah kita merenungkan firman Allah  dalam Al-Qur’an Surah QS. Asy-Syams [91]: 9–10, yang berbunyi:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا.  وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا (الشمس (٩١) ا: ٩–١٠ (

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”

Baca Juga: Khutbah Jumat: Hubungan Puasa Ramadhan dan Jihad Pembebasan Al-Aqsa

Allah ﷻ berfirman dalam Surah Asy-Syams setelah sebelas sumpah Beliau terkait ciptaan-Nya.

Para mufasir menjelaskan bahwa ayat ini adalah kesimpulan dari rangkaian sumpah Allah atas matahari, bulan, siang, malam, langit, bumi, dan jiwa manusia. Seakan-akan Allah hendak menegaskan bahwa seluruh sistem kosmik ini bermuara pada satu persoalan besar, yaitu bagaimana manusia mengelola jiwanya (Tazkiyatun Nafs).

Kata tazkiyah berasal dari akar kata زكا yang bermakna suci, tumbuh, dan berkembang. Penyucian jiwa bukan sekadar membersihkan, tetapi juga menumbuhkan potensi kebaikan yang telah Allah tanamkan dalam fitrah manusia.

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa makna “zakkaahā adalah menyucikan jiwa dengan ketaatan kepada Allah dan membersihkannya dari akhlak tercela. Sebaliknya, dassāhā bermakna mengubur jiwa dalam kemaksiatan dan hawa nafsunya.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Puasa dan Taqwa  

Sementara Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menegaskan bahwa Allah telah mengilhamkan kepada jiwa manusia dua kecenderungan: kefasikan dan ketakwaan. Manusia diberi kebebasan memilih arah. Keberuntungan terletak pada upaya sadar untuk menguatkan potensi takwa dan menundukkan dorongan dosa.

Dengan demikian, tazkiyatun nafs adalah proses aktif, bukan keadaan pasif. Ia menuntut mujahadah (kesungguhan), muraqabah (kesadaran diawasi Allah), dan muhasabah (introspeksi).

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Allah ﷻ melalui syariat shaum Ramadhan menghendaki hamba-hamba-Nya menjadi pribadi yang bertakwa; jiwa-jiwanya bersih, akhlaknya terjaga, dan ibadahnya semakin khusyuk. Inilah tujuan agung puasa sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah [2]: 183, agar kalian bertakwa,

Baca Juga: Khutbah Jumat: Keutamaan Bulan Ramadhan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ البقرةِ [٢]: (١٨٣

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”

Ayat ini menjadi dasar utama bahwa tujuan puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi membentuk ketakwaan (التقوى) melalui proses pengendalian diri dan penyucian jiwa.

Puasa melatih manusia menahan diri dari sesuatu yang halal pada waktu tertentu. Ini pendidikan pengendalian diri yang luar biasa. Jika yang halal saja mampu ditahan demi Allah, maka yang haram seharusnya lebih mudah ditinggalkan.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Keistimewaan Bulan Suci Ramadhan

Dalam perspektif spiritual, puasa melemahkan dominasi syahwat. Syahwat perut dan kemaluan sering menjadi pintu masuk berbagai penyimpangan. Ketika keduanya dikendalikan, jiwa menjadi lebih jernih dan lebih mudah menerima cahaya hidayah.

Puasa juga melatih keikhlasan. Ia adalah ibadah yang tersembunyi. Tidak ada manusia yang dapat memastikan apakah seseorang benar-benar berpuasa atau tidak. Karena itu, puasa sangat terkait dengan kejujuran batin dan hubungan personal dengan Allah.

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Sarana tazkiyatun nafs, menurut Imam Al-Ghazali dibagi menjadi tiga metode yaitu, takhalli, tahalli, dan tajalli.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Bulan Sya’ban, Jalan Menuju Cahaya Ramadhan

Pertama takhalli, yaitu membersihkan diri dari sikap dan sifat yang mengikuti dorongan nafsu yang membawa kepada dosa atau dalam makna lainnya takhalli berarti membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, seperti: rasa hasad, ujub, sombong, riya, su’udzon, gadzab, dan sifat-sifat tercela lainnya.

Sifat-sifat inilah yang oleh puasa Ramadhan dikehendaki untuk di hilangkan, sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ، إِنِّي صَائِمٌ  (رواه البخاري ومسلم)

“Puasa adalah perisai. Maka apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, janganlah ia berkata kotor (rafats) dan jangan pula berteriak-teriak atau bertindak bodoh. Jika ada seseorang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menyambut Bulan Ramadhan dengan Gembira

Kedua tahalli, yaitu menghiasi jiwa dengan sifat-sifat terpuji, kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik ditinggalkan dan diganti dengan kebiasaan yang lebih baik di bulan Ramadhan melalui amalan-amalan yang berkesinambungan hingga melahirkan akhlakul karimah.

Sehingga dapat dipahami bahwa tahalli merupakan peningkatan ketaqwaan dengan membekali diri dengan perbuatan positif seperti: sabar, ikhlas, menjaga lisan, istikamah dalam kebaikan seperti menuntut ilmu, tilawah Al-Qur’an, berzikir, memperbanyak doa dan bershadaqah.

Ketiga tajalli, pada tahap ini, seseorang merasakan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupannya. Ia beribadah bukan karena kebiasaan, tetapi karena cinta dan kesadaran penuh bahwa Allah selalu mengawasinya.

Dalam hadis Jibril yang diriwayatkan oleh Muslim ibn al-Hajjaj, Rasulullah ﷺ bersabda:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Momentum Sya’ban, Mempersiapkan Jasmani dan Rohani Menuju Bulan Ramadhan  

الإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.

“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Puasa yang dijalankan dengan kesadaran ruhani akan mengantarkan seseorang kepada tahap-tahap tersebut secara berlahan.

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Kata “aflaha” (beruntung) dalam firman Allah QS. Asy-Syam di atas menunjukkan keberhasilan total dan berkelanjutan. Sedangkan kata “khaba” adalah merugi, gagal, binasa, tidak memperoleh kebaikan

Orang yang berhasil menyucikan jiwanya akan merasakan ketenangan batin. Ia tidak mudah goyah oleh ujian, tidak larut dalam kesenangan dunia, dan tidak putus asa dalam kesulitan.

Sebaliknya, orang yang membiarkan jiwanya terkotori, terkubur dalam dosa akan merasakan kegersangan dalam hatinya, meskipun tampak sukses di mata manusia.

Semoga puasa yang kita lakukan sejatinya bukan hanya ritual tahunan. Melainkan sarana transformasi perbaikan jiwa dan akhlak. Jika setelah menjalani puasa seseorang menjadi lebih jujur, lebih lembut hatinya, lebih peduli terhadap sesama, dan lebih dekat kepada Al-Qur’an, maka tazkiyahnya telah berbuah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.

Khutbah ke-2

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ. فَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم  ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ- وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Khutbah Jumat
Tausiyah
Tausiyah
Ramadhan 1447 H
Tausiyah