Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur
Khutbah Jumat pada kesempatan kali ini berjudul: Sabar Dalam Menghadapi Musibah.
Sabar bukan berarti seseorang tidak boleh merasakan sakit, sedih, atau kehilangan. Sabar juga bukan berarti seseorang harus menyembunyikan kesedihannya. Rasulullah ﷺ sendiri pernah menangis ketika putranya, Ibrahim, meninggal dunia.
Kita boleh menangis, tetapi jangan berputus asa. Kita boleh bersedih, tetapi jangan menyalahkan Allah . Kita boleh merasakan kehilangan, tetapi jangan sampai kehilangan iman dan harapan kepada Allah.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina
Khutbah selengkapnya silakan simak berikut:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Khutbah ke-1:
Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan
إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Segala puji bagi Allah yang menguasai seluruh kejadian di langit dan di bumi. Dialah yang menurunkan berbagai nikmat sebagai ujian syukur, dan menurunkan musibah sebagai ujian kesabaran, agar hati kita kembali kepada-Nya dan mengenal hakikat kehidupan.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, serta seluruh orang yang istiqamah mengikuti jalan beliau hingga hari kiamat.
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Di antara bentuk ketakwaan yang sangat penting adalah bersabar ketika menghadapi musibah dan ujian kehidupan.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Pada kesempatan khutbah Jumat ini, marilah kita merenungkan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 79:
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا (النساء (٤): ٧٩)
“Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, maka itu dari Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, maka itu dari dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada seluruh manusia. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.”
Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna “kebajikan apa pun yang kamu peroleh, maka itu dari Allah” menunjukkan bahwa segala kenikmatan yang diterima manusia, berupa kesehatan, rezeki, keselamatan, pertolongan, dan berbagai kebaikan lainnya, semuanya merupakan karunia dan rahmat Allah .
Sedangkan firman Allah , “keburukan apa pun yang menimpamu, maka itu dari dirimu sendiri,” menunjukkan bahwa keburukan yang menimpa manusia disebabkan oleh dosa dan perbuatan yang dilakukannya.
Karena itu, ketika manusia memperturutkan hawa nafsu, melakukan kezaliman, merusak lingkungan, dan menyimpang dari petunjuk Allah , berbagai kerusakan dapat terjadi. Peristiwa tersebut hendaknya menjadi peringatan agar kita melakukan muhasabah dan memperbaiki diri.
Namun, tidak setiap musibah harus dipandang sebagai hukuman atas dosa tertentu. Musibah dapat menjadi ujian, peringatan, penghapus dosa, atau sarana meninggikan derajat seorang mukmin. Karena itu, kita hendaknya menghadapinya dengan sabar, ikhtiar, dan mengambil pelajaran.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Sabar bukan berarti seseorang tidak boleh merasakan sakit, sedih, atau kehilangan. Sabar juga bukan berarti seseorang harus menyembunyikan kesedihannya. Rasulullah ﷺ sendiri pernah menangis ketika putranya, Ibrahim, meninggal dunia. Beliau bersabda:
إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا (رواه البخاري)
“Sesungguhnya mata menangis, hati bersedih, dan kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridhai oleh Tuhan kami.” (HR. Bukhari)
Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa
Hadis ini mengajarkan bahwa menangis bukan berarti tidak sabar, dan bersedih bukan berarti tidak menerima takdir Allah . Yang menjadi ukuran adalah bagaimana kita mengendalikan hati, lisan, dan perbuatan ketika menghadapi musibah.
Kita boleh menangis, tetapi jangan berputus asa. Kita boleh bersedih, tetapi jangan menyalahkan Allah . Kita boleh merasakan kehilangan, tetapi jangan sampai kehilangan iman dan harapan kepada Allah .
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Seorang mukmin dalam menghadapi musibah memiliki sikap yang berbeda dengan orang yang tidak memiliki iman. Rasulullah ﷺ bersabda:
Baca Juga: Khutbah Jumat: Berbakti Kepada Orang Tua, Kunci Kesuksesan dan Keberkahan Hidup
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ (رواه مسلم)
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya. Hal itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
Hadis ini menjelaskan bahwa dalam berbagai keadaan, seorang mukmin tetap memiliki jalan menuju kebaikan. Ketika memperoleh nikmat, ia tidak terlena, tetapi bersyukur kepada Allah . Ketika menghadapi kesulitan, ia tidak berputus asa, tetapi bersabar dan tetap berpegang teguh kepada Allah .
Karena itu, sabar bukan sekadar menahan diri dari keluhan, tetapi merupakan bentuk keteguhan iman. Orang yang sabar meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, dan tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Allah berfirman:
Baca Juga: Khutbah Jumat: Tugas Besar Rasulullah ﷺ dan Kunci Kesuksesannya
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (البقرة (٢): ١٥٥–١٥٧)
“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.’ Mereka itulah yang memperoleh keberkahan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah [2]: 155-157)
Pada ayat ini Allah tidak hanya menjanjikan pahala bagi orang yang sabar. Allah juga memberikan shalawat, rahmat, dan petunjuk kepada mereka.
Maka, ketika musibah datang, hendaknya kita mengucapkan:
Baca Juga: Khutbah Jumat: Kemerdekaan Hakiki Sebagai Hamba Allah
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya”.
Kemudian kita berdoa sebagaimana yang diajarkan Rasulullah ﷺ:
اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا (رواه مسلم)
Baca Juga: Khutbah Jumat: Meneladani Rasulullah ﷺ dalam Mempersatukan Umat
“Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantilah untukku dengan sesuatu yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim)
Kemudian kita bersabar, berdoa, melakukan ikhtiar, dan mengambil pelajaran dari musibah tersebut.
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Musibah tidak hanya terjadi pada diri kita. Kita juga menyaksikan berbagai musibah yang menimpa masyarakat di berbagai tempat. Kekeringan, kebakaran, erupsi gunung, banjir, dan berbagai bencana alam mengingatkan kita akan lemahnya manusia dan besarnya kebutuhan kita kepada pertolongan Allah.
Dalam keadaan seperti ini, kita tidak hanya diperintahkan untuk bersabar, tetapi juga melakukan ikhtiar, menjaga lingkungan, tidak berlebih-lebihan dalam menggunakan sumber daya, saling membantu, dan meringankan beban saudara-saudara kita yang tertimpa musibah.
Demikian pula saudara-saudara kita di Palestina yang hingga hari ini masih menghadapi penderitaan berat akibat agresi dan kejahatan Zionis Israel. Kelaparan, pembunuhan, kehancuran, dan berbagai kesulitan yang mereka hadapi hendaknya mengetuk hati dan membangkitkan kepedulian kita.
Kita mungkin tidak mampu melakukan semuanya, tetapi kita dapat berdoa, membantu sesuai kemampuan, dan tidak melupakan mereka dalam kepedulian kita.
Berbagai peristiwa tersebut mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan sangat membutuhkan pertolongan Allah. Allah ‘ala berfirman:
وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا (النساء: ٢٨)
“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa [4]: 28)
Karena itu, janganlah kita merasa kuat dan mampu hidup sendiri. Kita membutuhkan Allah , dan kita juga membutuhkan kebersamaan dengan sesama.
Dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan, marilah kita memperkuat ukhuwah dan kehidupan berjamaah. Yang kuat membantu yang lemah, yang lapang membantu yang kesulitan, yang memiliki ilmu membimbing yang belum mengetahui, dan setiap orang mengambil bagian dalam kebaikan.
Dengan kebersamaan, kepedulian, dan kehidupan berjamaah, insya Allah berbagai ujian akan lebih ringan kita hadapi.
Inilah sikap seorang mukmin ketika menghadapi musibah: bersabar tanpa berputus asa, berikhtiar tanpa menyerah, berdoa tanpa berhenti berharap, dan tetap membantu sesama.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang sabar dalam menghadapi setiap ujian, memberikan keteguhan kepada hati kita, memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan, mengampuni dosa-dosa kita, serta memberikan pertolongan kepada saudara-saudara kita yang sedang menghadapi musibah di mana pun mereka berada. Aamin Ya Rabbal ‘Alamin
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.
Khutbah ke-2
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ. فَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ- وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic