Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur
Khutbah Jumat pada kesempatan kali ini berjudul: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan.
Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam kitabnya Minhajul Abidin menjelaskan, bahwa mencari nafkah dalam kehidupan dunia menjadi ujian bagi seorang hamba dalam perjalanan menuju Allah Ta’ala.
Seorang mukmin boleh saja memiliki harta, jabatan, rumah dan berbagai fasilitas dan kenikmatan dunia. Tetapi semua itu harus ditempatkan pada posisi yang benar, yakni digunakan untuk memperbanyak amal ibadah dan amal shaleh.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina
Jangan sampai kemewahan dunia menguasai hati dan mempengaruhi pikiran dan menjadikan kehidupan dunia ini menjadi tujuan utamanya.
Khutbah selengkapnya silakan simak berikut:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Khutbah ke-1:
Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian
إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas kasih sayang dan segala nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita. Sungguh, begitu banyak nikmat Allah yang kita rasakan dalam kehidupan ini, hingga tidak akan pernah mampu kita menghitung jumlah dan nilainya.
Allah Ta’ala telah mengingatkan, bahwa apabila kita bersyukur, niscaya Dia akan menambah nikmat-nikmat-Nya. Maka, marilah kita wujudkan rasa syukur itu, bukan hanya dengan ucapan, tetapi juga dengan ketaatan dan amal perbuatan.
Cara terbaik untuk mensyukuri nikmat Allah Ta’ala adalah dengan senantiasa memelihara dan meningkatkan iman serta ketakwaan; terus berjuang dan beribadah dengan tulus ikhlas hanya kepada Allah Ta’ala.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Pada kesempatan khutbah ini, marilah kita merenungkan firman-Nya dalam Al-Qur’an Surah Al-Mulk [67] ayat ke-2:
الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ (الملك [٦٧]: ٢)
“(Dialah) Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.”
Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan
Imam Ath-Thabari Rahimahullah menjelaskan bahwa ujian dalam kehidupan ini bertujuan untuk membuktikan, siapa yang paling taat kepada Allah Ta’ala dan siapa yang istiqamah dalam mencari keridhaan-Nya.
Ayat tersebut memberikan pemahaman yang sangat mendasar tentang kehidupan. Allah Ta’ala menciptakan kematian dan kehidupan di dunia ini, bukan untuk melihat siapa yang paling banyak hartanya, bukan pula siapa yang paling tinggi jabatannya, atau siapa yang paling terkenal dan paling banyak pengikutnya. Namun, Allah Ta’ala mengatakan: لِيَبْلُوَكُمْ — untuk menguji kalian, siapa yang أَحْسَنُ عَمَلًا — paling baik amalnya.
Kata yang digunakan Al-Qur’an adalah أَحْسَنُ عَمَلًا, bukan أَكْثَرُ عَمَلًا (paling banyak amalnya). Dengan demikian, kualitas dan keikhlasan amal hendaknya menjadi perhatian penting dalam ibadah dan setiap aktifitas kita.
Kehidupan dunia merupakan tempat untuk berjuang, beribadah dan menanam amal kebaikan. Sedangkan akhirat adalah tempat pembalasan dari segala amal perbuatan dan tempat kehidupan yang kekal.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa
Karena itu, janganlah kita mengukur keberhasilan hidup, hanya dari apa yang didapatkan di dunia. Ukuran yang sesungguhnya adalah, bagaimana kita menjalani kehidupan dunia sesuai tuntunan Allah Ta’ala, sehingga di akhirat nanti kita akan mendapat ampunan dan memperoleh surga.
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Dalam sebuah hadits dari sahabat Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ (رواه الترمذى)
Baca Juga: Khutbah Jumat: Sabar Dalam Menghadapi Musibah
“Dunia menjadi penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR At-Tirmidzi)
Imam An-Nawawi Rahimahullah menjelaskan hadits di atas, bahwa yang dimaksud dunia menjadi penjara bagi orang mukmin adalah: mereka ketika hidup di dunia terikat oleh aturan-aturan yang disyariatkan Allah Ta’ala, bukan menderita seperti keadaan seseorang di dalam penjara.
Orang mukmin tidak bebas mengikuti semua keinginan dan hawa nafsunya. Mereka harus meninggalkan yang haram dan tercela, serta tunduk dan patuh menjalankan berbagai kewajiban dan ketaatan, semata-mata berharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Setelah kematian, ia akan mendapat balasan berupa pahala dan kenikmatan dari jerih payah yang ia telah lakukan ketika di dunia. Ia akan mendapat rahmat berupa ampunan dan surga yang kekal di dalamnya, selama-lamanya.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Berbakti Kepada Orang Tua, Kunci Kesuksesan dan Keberkahan Hidup
Adapun bagi orang-orang kafir, ketika hidup di dunia, mereka bebas melakukan apa saja, tanpa menghiraukan rambu-rambu dan larangan agama. Mereka bisa memerperturutkan hawa nafsunya, tanpa memperdulikan akibat dan dampak negatif dari apa yang ia lakukan.
Ketika kematian menjumpainya, ia mendapat siksaan sebagai balasan dari kemaksiatan dan kedurhakaan yang ia lakukan ketika di dunia.
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam kitabnya Minhajul Abidin menjelaskan, bahwa mencari nafkah dalam kehidupan dunia menjadi ujian bagi seorang hamba dalam perjalanan menuju Allah Ta’ala.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Tugas Besar Rasulullah ﷺ dan Kunci Kesuksesannya
Seorang mukmin boleh saja memiliki harta, jabatan, rumah dan berbagai fasilitas dan kenikmatan dunia. Tetapi semua itu harus ditempatkan pada posisi yang benar, yakni digunakan untuk memperbanyak amal ibadah dan amal shaleh.
Jangan sampai kemewahan dunia menguasai hati dan mempengaruhi pikiran dan menjadikan kehidupan dunia ini menjadi tujuan utamanya.
Al-Ghazali menegaskan, bahwa zuhud bukan berarti tidak boleh memiliki dunia, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Dunia ini cukup berada di tangan saja, jangan sampai masuk dan menguasai pikiran serta hati kita.
Manusia boleh bekerja mencari rezeki, tetapi jangan sampai pekerjaan itu membuatnya meninggalkan shalat dan melalaikan ibadah lainnya.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Kemerdekaan Hakiki Sebagai Hamba Allah
Manusia boleh mencari kekayaan, tetapi jangan sampai menghalalkan segala cara dalam mendapatkannya.
Manusia boleh memiliki jabatan, tetapi jangan sampai jabatan itu membuatnya menjadi sombong, tidak mau menerima nasihat dan saran.
Harta dan segala fasilitas dunia yang dimiliki, seharusnya menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, bukan sebagai ajang kesombongan di hadapan manusia.
Karenanya, marilah kita menjalani kehidupan dunia dengan seimbang. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, carilah rezeki yang halal dan maksimal.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Meneladani Rasulullah ﷺ dalam Mempersatukan Umat
Bangunlah keluarga sakinah mawaddah warahmah. Jalani kehidupan dengan penuh rasa syukur dan sabar, dan raihlah kehidupan yang layak untuk keluarga dan anak cucu tercinta.
Tetapi, pekerjaan dan segenap aktifitas itu jangan sampai melupakan ibadah kepada Allah Ta’ala. Jadikanlah kehidupan akhirat sebagai tujuan dari setiap aktifitas dan pekerjaan.
Dunia bukanlah tujuan akhir perjalanan kita. Dunia hanyalah tempat singgah, tempat kita beramal untuk menjadi bekal di kehidupan yang kekal.
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Harta yang Allah Ta’ala berikan kepada kita adalah amanah. Ilmu yang kita miliki adalah anugerah. Jabatan yang kita sandang adalah titipan, dan kesempatan yang diberikan hendaknya digunakan sebaik-baiknya untuk beramal kebaikan.
Bagi yang memiliki harta, bantulah orang-orang yang sedang berjuang dengan harta itu. Bagi yang diberi jabatan, gunakan jabatan itu untuk memudahkan urusan para pejuang. Bagi yang dikaruniai ilmu dan keahlian, gunakan ilmu dan keahlian itu untuk mendukung para penegak keadilan.
Imam Ibnul Mubarak rahimahullah menyebutkan tentang keutamaan membantu orang yang berjuang. Beliau mengutip sebuh hadits:
مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللهِ فَقَدْ غَزَا، وَمَنْ خَلَفَ غَازِيًا فِي أَهْلِهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا (رواه البخارى و مسلم)
“Barang siapa mempersiapkan perlengkapan bagi orang yang berjihad di jalan Allah, maka sungguh ia telah berjihad. Dan barang siapa menjaga keluarga orang yang berjihad dengan baik, maka sungguh ia telah berjihad.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Untuk dapat melaksanakan hadits di atas, perjuangan menegakkan keadilan dan menghapus kezaliman, akan lebih ringan ketika dilakukan dengan kebersamaan (berjamaah).
Karena itu, marilah kita jaga persaudaraan, jalin kebersamaan dan jadikan ukhuwah Islamiyah sebagai jalan untuk menghadapi berbagai masalah.
Semoga dengan kebersamaan, Allah Ta’ala melimpahkan rahmat, memberikan pertolongan dan memberi solusi bagi setiap ujian kehidupan yang kita hadapi. Aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.
Khutbah ke-2
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، وَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً ، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic