Sanaa, MINA – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi meluas ke jalur pelayaran global setelah kelompok Hothi di Yaman disebut akan menutup Selat Bab el-Mandeb sebagai respons atas ancaman blokade yang dilontarkan Washington.
Potensi tersebut muncul seiring meningkatnya eskalasi konflik, di mana kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran dinilai siap mengambil langkah strategis untuk menekan kepentingan Barat.
Penutupan selat itu disebut sebagai salah satu opsi balasan jika tekanan terhadap Iran terus meningkat. Anadolu melaporkan, Selasa (14/4).
Selat Bab el-Mandeb merupakan jalur laut yang sangat vital karena menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi akses utama menuju Terusan Suez. Sekitar 10 hingga 12 persen perdagangan global melintasi jalur ini, menjadikannya salah satu titik sempit (chokepoint) terpenting dalam sistem perdagangan dunia.
Baca Juga: Bentrokan di Lebanon: 1 Tentara Israel Tewas, 3 Terluka
Selain itu, jalur ini juga berperan besar dalam distribusi energi global, termasuk minyak dan gas, serta menjadi rute utama pengiriman barang antara Asia, Eropa, dan Afrika. Gangguan di kawasan tersebut berpotensi menyebabkan lonjakan biaya logistik, keterlambatan pengiriman, hingga krisis pasokan global.
Dalam beberapa waktu terakhir, kawasan Laut Merah memang menjadi titik rawan akibat meningkatnya aktivitas militer dan ancaman terhadap kapal-kapal komersial.
Bahkan, sejumlah perusahaan pelayaran global mulai mengalihkan rute untuk menghindari risiko keamanan di wilayah tersebut.
Jika Selat Bab el-Mandeb benar-benar ditutup, dampaknya bisa lebih luas dibanding konflik regional biasa. Selain mengganggu rantai pasok global, situasi ini juga berpotensi memicu lonjakan harga energi dan memperparah ketidakstabilan ekonomi dunia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. []
Baca Juga: Sepatu Anak-Anak Gaza yang Syahid Dipamerkan di Alun-Alun Amsterdam
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic