London, Kashoggi dan Turki

Catatan perjalanan Wartawan Kantor Berita MINA Arief Rahman ke Turki

Sungguh di luar dugaan dan rencana, hanya dalam rentang waktu beberapa bulan saja, dua negara yang bersejarah dan eksotis di dua benua berbeda yaitu Eropa dan Asia telah saya kunjungi.

Alhamdulillah. Sebuah pencapaian pribadi yang luar biasa setelah 10 tahun yang lalu sebuah kunjungan yang lebih bersejarah dan bermakna bagi saya pribadi dan istri, menunaikan ibadah haji.

Perjalanan kali ini bukanlah sebuah jawaban atas fenomena 10 years challenge yang sedang viral, namun semata-mata hanya Allah lah yang memperjalankan kami saat ini.

London. Kehadiran ke London memang sudah direncanakan sebelumnya, namun sempat diundur dan mendadak akhirnya berangkat juga. Sebenarnya safar (pergi) ke Eropa direncakan tidak hanya ke Negeri Ratu Elizabeth saja, namun ke negeri Eropa lainnya juga.

Kurang lebih lima negara menjadi target perjalanan silaturahim ke komunitas Muslim di Eropa yang awalnya direncanakan. Inggris, Perancis, Belanda, Swedia dan Italia. Namun, kenyataannya Allah SWT menakdirkan hanya satu kota dan negara saja yaitu London, Inggris.

Di London, agenda sedemikian sensitif yaitu menghadiri seminar yang bertajuk “Oslo, 25th the Broken Promises”. Acara tersebut digalang oleh sebuah media yang bergerak dalam isu Pembebasan Palestina, MEMO (Midle East Monitoring) yang berpusat di London.

Saat itu, saya berangkat bersama rombongan berjumlah empat orang yang dipimpin oleh Imaamul Muslimin KH. Yakhsyallah Mansur didampingi Ustaz Agus Sudarmadji selaku pembicara, Ustaz Umar Rasyid dan saya sebagai perwakilan dari Kantor Berita MINA.

Acara tersebut seperti yang sudah kami duga sangat berbobot dan berisi. Sebab dihadiri oleh sejumlah pegiat pembebasan Palestina yang bukan hanya dari LSM namun juga dari akademisi.

Ustaz Agus Sudarmadji sebagai perwakilan dari Al-Aqsa Working Group (AWG) sangat berkesan atas penyelenggaraan kegiatan itu, sampai beliau menyampaikan bahwa kegiatan itu sederhana dalam penyelenggaraan namun kaya akan makna dan materi yang disampaikan.

Lebih spesial lagi adalah ketika kami diundang makan malam bersama para pembicara dalam seminar. Salah satu yang diundang adalah Jamal Kashoggi, seorang kolumnis dan wartawan Arab Saudi yang wafat diduga dihabisi oleh “oknum kekuasaan” di Konsulat Jendral  Arab Saudi di Istanbul.

Kami berada satu meja makan dengan Kashoggi, di mana ia menempati posisi ujung dari meja kami. Hal lain yang spesial pada acara makan malam tersebut adalah menu yang dihidangkan sangat luar biasa istimewa.

Bagi kami pertemuan tersebut cukup berkesan, sampai ketika pulang ke tanah air kami mendapatkan berita duka tentang wafatnya Kashoggi.

Ada sebuah perasaan yang aneh dan berkecamuk dalam batin saya. Orang yang kemarin bertemu dengan kami, menegur sapa kami di saat sarapan pagi sambil menanyakan kondisi kami, tiba-tiba orang itu sudah tiada. Itulah kesan pertama dan terakhir kami dari almarhum Jamal Kashoggi. Allohummagfirlahu. Al-Fatihah.

Kematian Kashoggi menghebohkan seantero dunia. Semua pihak bergerak, dari akademisi sampai politisi menyampaikan duka yang mendalam atas kematiannya.

Tentu duka ini tidak sebanding dengan duka yang diderita calon istrinya Hatice Cengiz, yang menunggu di luar konsulat jendral, sampai akhirnya ia harus menerima calon suami yang akan mengurus izin pernikahannya telah tiada, diduga dihabisi oleh “oknum kekuasaan” Arab Saudi.

Turki, negara di mana tempat Kashoggi wafat dan Hatice Cengiz sebagai warga negaranya, memainkan peran dalam proses penyelidikan dan meminta kejelasan siapa dalang di balik pembunuhan Kashoggi.

Sampai-sampai Trump pun dibuat kewalahan atas reaksi Turki yang memaksa presiden kontroversi Amerika itu harus bersikap. Tentu sikapnya sudah dapat terprediksi, melindungi kepentingan dirinya dan Amerika.

Kembali, saat ini saya berada di Turki. Dengan segala macam kepadatan agenda di awal tahun 2019, takdir menentukan saya berada di Turki bersama istri.

Lebih dekat menyaksikan peradaban dan kejayaan Islam yang pernah dibangun oleh Sultan Ahmed. Kemegahan Masjid Biru dan sejarah Museum Hagia Sophia dan juga situs lainnya menjadikan Turki sebagai salah satu destinasi wisata ruhani yang menarik.

Kami cukup beruntung. Dari sisi pengeluaran biaya hidup khususnya, setelah atraksi Amerika untuk menekan Turki yang menyebabkan mata uangnya yaitu Lira Turki melemah, menjadi lebih hemat.

Sebelum atraksi Amerika terhadap Turki, Lira Turki masih berjaya terhadap mata uang Eropa lainnya. Bahkan pernah 1 EURO senilai dengan 2 Lira Turki. Namun saat ini bila dikonversi dengan mata uang yang sama maka 1 EURO kurang lebih senilai 8 Lira Turki.

Sebuah depresiasi yang sangat tajam, bukan karena faktor ekonomi namun karena sebuah alasan yang saya sebut di atas tadi atraksi negeri adidaya yang tidak menginginkan Presiden Erdogan terutama Turki terlihat memiliki peran dan berhasil sebagai negara yang memiliki peran di dunia.

Anyway, saya masih memiliki waktu yang banyak untuk menuntaskan agenda wisata lainnya. Selat Bosphorus yang eksotis, Capadocia yang menurut orang menjadi wajib dikunjungi sampai dengan kota Bursa untuk mencoba pertama kalinya bermain ski. Maklum di Jakarta baru bisa nyobain ice skating. InsyaAllah.

Terakhir, dengan gegap gempitanya pemberitaan tentang Pileg dan Pilpres di negeri tercinta, Indonesia Raya, saya cukup tertegun atas ucapan salah seorang punggawa negeri ini terkait siapa yang memberi gaji aparatur negara.

Refleksi terhadap diri saya adalah, siapa yang menggaji saya? Apakah karena saya praktisi pembelajaran di luar kelas kah? Sebagai manajemen sebuah kantor berita kah? Atau sebagai wirausaha kuliner? Atau yang lainnya?

Yang pasti saya meyakini bahwa perjalanan saya ke London, bertemu Kashoggi dan saat ini ke Turki, adalah perenungan atas Al-Quran surat An-Naml [27] ayat 40, yang artinya “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).”

Wallahu’alam bishawab

Istanbul, Turki

Februari 2019

(A/AR/R06)

Mi’raj News Agency (MINA)