Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Luca Zidane, Kiper Aljazair, Umrah hingga Jumpa Messi

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Sabtu, 20 Juni 2026 - 09:45 WIB

Sabtu, 20 Juni 2026 - 09:45 WIB

102 Views ㅤ

Luca Zinadine Zidane (Hola)

ADA nama yang kembali menggema di Piala Dunia 2026. Bukan Zinedine Zidane dengan dua golnya pada Piala Dunia 1998. Kali ini, putranya, Luca Zinadine Zidane, yang berdiri di bawah mistar gawang, bukan di tengah lapangan.

Nama keluarga yang sama, namun dengan posisi dan jalan yang berbeda. Luca Zidane, kelahiran Aix-en, Prancis, 3 Mei 1998 (umur 28 tahun), putra kedua dari legenda Prancis itu, memilih menjadi seorang kiper. Sebuah pilihan yang menarik, karena ayah dan tiga saudara laki-lakinya justru berkarir sebagai pemain outfield, alias bukan kiper.

Keluarga Pemain Bola

Di keluarga Zidane, Luca adalah penjaga gawang. Kakaknya, Enzo Zidane, adalah gelandang serang seperti sang ayah. Adik-adiknya, Theo dan Elyaz, juga berposisi sebagai gelandang dan bek.

Baca Juga: Usai Juara FIFA ASEAN Cup, Timnas Indonesia Bersiap Hadapi Piala Asia 2027

Sementara Luca, yang kini bermain di klub Granada, Spanyol, ia memilih memakai sarung tangan dan menjadi benteng terakhir di bawah mistar.

Dan di Piala Dunia 2026, ia tampil dengan topeng pelindung hitam di wajahnya. Bukan untuk gaya, tapi karena ia mengalami patah tulang dagu dan rahang saat membela Granada pada April lalu. Cedera yang nyaris menggagalkan mimpinya tampil di Piala Dunia .

Memilih Aljazair dan Umrah

Meskipun lahir dan besar di Prancis, Luca yang berlatih  bola sejak usia 6 tahun di Akademi Muda Real Madrid, memutuskan untuk membela Aljazair. Ia pun resmi dinaturalisasi pada tahun 2025, memilih tanah leluhur keluarga dari sang kakek.

Baca Juga: Ini Kata-Kata Pelatih John Herdman Usai Timnas Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Setelah resmi menjadi warga negara Aljazair, ia melakukan perjalanan spiritual yang jarang diketahui publik, yakni menunaikan ibadah umrah ke Baitullah, di sela-sela agenda timnas.

Langkah ini mencerminkan kedekatannya dengan identitas Muslim yang ia pilih, menjalani proses naturalisasi tidak hanya secara administratif tetapi juga secara batiniah.

Bertemu Messi, Sang Legenda Hidup

Laga pertama Grup J mempertemukan Aljazair dengan Argentina, juara bertahan yang diperkuat Lionel Messi. Messi pemain yang dianggap banyak orang sebagai pesepakbola terbaik sepanjang masa.

Baca Juga: Timnas Portugal Masih Buka Pintu untuk Ronaldo, Pelatih Jorge Jesus Sebut Hanya Kesalahpahaman

Ini debut Piala Dunia Luca, dan ia harus menghadapi ujian terberat, menghadapi seorang legenda hidup.

Gawangnya bobol tiga kali. Ketiganya dicetak oleh Messi. Gol kedua bahkan terjadi setelah Luca gagal menangkap bola dengan sempurna, dan Messi dengan sigap memanfaatkan bola rebound.

Statistik mencatat, ia tetap melakukan beberapa penyelamatan penting, termasuk satu dari tembakan Lautaro Martinez dan satu lagi dari Messi pada menit ke-66.

Di tribun, Zinedine Zidane terlihat menonton dengan ekspresi termenung. Wajah sang legenda menggambarkan apa yang dirasakan setiap orang tua, melihat anaknya berjuang, dan terkadang, harus menerima kekalahan.

Baca Juga: “King Indo” Resmi Jadi “King ASEAN”

Luca sendiri tidak pulang dengan kepala tertunduk. Ia menyadari dengan bijak bahwa ia bukan hanya kebobolan dari pemain biasa, melainkan dari Lionel Messi sendiri, sosok yang bahkan dihormati oleh sang ayah.

“Menjadi kiper berarti menerima risiko kebobolan. Tapi jika kebobolan dari Messi, itu bukan aib. Itu adalah pelajaran dari yang terbaik,” ujar Luca dengan hati yang masih terluka.

Ia tetap menjadi bagian dari sejarah. Penampilan pertamanya untuk Aljazair di Piala Dunia, dengan topeng pelindung di wajah dan nama keluarga yang begitu berat, adalah bukti bahwa ia berani menulis kisahnya sendiri, bukan sebagai “putra Zidane”, tetapi sebagai Luca Zidane, kiper Aljazair.

Dan, fans beratnya tetap mendukungnya. Beragam komen di akun medsos Facebook menunjukkan hal itu.

Baca Juga: Juara FIFA ASEAN Cup, Ini Peringkat Indonesia di Dunia

Akun Bernama Wahid Blidi berujar, “Walaupun kita kalah dan kamu sepenuhnya bertanggung jawab atas setiap pertandingan, ketahuilah bahwa kita percaya pada kamu dan pada bakat penjaga gol kelas dunia kamu. Saya berharap kamu bersinar di Piala Dunia ke-26 ini, bukan hanya karena kamu bermain untuk Algeria, tetapi juga karena kamu orang Algeria, seorang pejuang yang penuh semangat yang tidak akan menyerah. Semoga beruntung, Luca, jangan menyerah!“

Arezki Mehalli, penggemar berat lainnya berujar, “Luca, kami mendukung penuh Anda, tidak peduli hasil pertandingan nomor satu Anda di Piala Dunia pertama.”

“Tekanannya sangat besar untukmu, kamu masih muda, itu adalah tim Argentina legendaris, kamu belajar banyak dari kekalahan konstruktif ini. Semoga beruntung, dan hidup Panjang,” tulis Reda Djebbar.

Rabiha Ima menyemangati, “Kami bangga denganmu dalam semua keadaan, menang atau kalah, kamu adalah yang terbaik. Ada dua pertandingan lagi yang akan datang.” []

Baca Juga: Emil Audero: Kiper Timnas Indonesia yang Menepis Mimpi Buruk

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

MINA Sport
MINA Sport
MINA Sport
MINA Sport
MINA Sport