Tel Aviv, MINA – Salah satu rabbi ultra-Ortodoks paling berpengaruh di Israel mengatakan orang-orang Yahudi bisa saja hidup dengan baik di bawah pemerintahan Arab dan menyalahkan Zionisme karena menciptakan permusuhan terhadap orang-orang Yahudi, menurut rekaman yang disiarkan oleh televisi Israel minggu ini.
Rabbi Dov Lando, Kepala Slabodka Yeshiva yang berusia 96 tahun dan otoritas terkemuka dalam komunitas Haredi Lituania Israel, menyampaikan komentar tersebut dalam diskusi pribadi di rumahnya di Bnei Brak, demikian dikutip dari The New Arab.
“Adalah mungkin untuk hidup baik dengan orang-orang Arab tanpa negara. Akan lebih baik jika orang-orang Arab berkuasa di sini. Ini akan menjadi situasi terbaik,” kata Lando dalam rekaman yang disiarkan Channel 12 Israel pada Senin (5/10).
Lando juga mengatakan gerakan Zionis memperburuk hubungan antara orang Yahudi dan Arab, dengan mengatakan bahwa meskipun orang Arab “tidak pernah baik”, Zionisme telah menyebabkan mereka membenci orang Yahudi.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
“Mereka membuat orang-orang Arab membenci kami,” katanya.
Ia menuduh Zionisme, yang muncul sebagai gerakan nasionalis Yahudi modern di Eropa pada akhir abad ke-19, membawa bencana fisik, bukan hanya bencana spiritual terhadap masyarakat Yahudi.
Lando adalah otoritas keagamaan yang penting bagi Degel HaTorah, faksi Haredi Lituania dalam aliansi politik United Torah Yudaism (UTJ).
UTJ telah memainkan peran besar dalam pemerintahan berturut-turut yang dipimpin oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dengan perselisihan mengenai pengecualian bagi pria ultra-Ortodoks dari dinas militer berulang kali mengancam stabilitas koalisi Netanyahu.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Berbeda dengan Zionisme Religius, yang menganggap kedaulatan Yahudi di Israel penting secara agama, sebagian besar komunitas Haredi secara historis menentang Zionisme.
Penentangan ini sebagian berakar pada penolakan terhadap gerakan Zionis yang didominasi sekuler dan keyakinan bahwa kehidupan beragama Yahudi tidak boleh tunduk pada negara nasionalis.
Namun banyak kelompok Haredi yang secara bertahap mengadopsi hubungan pragmatis dengan Israel setelah berdirinya negara tersebut pada tahun 1948, berpartisipasi dalam pemilu dan pemerintahan sambil mempertahankan lembaga keagamaan yang terpisah dan menolak wajib militer.
Lando juga menggunakan rekaman percakapan tersebut untuk melancarkan serangan sengit terhadap Zionis Religius, yang banyak di antaranya menggabungkan studi agama dengan dinas militer Israel.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
Kontroversi ini terjadi beberapa pekan sebelum pemilu Israel pada tanggal 27 Oktober, dan pertanyaan mengenai pengecualian militer ultra-Ortodoks kembali muncul sebagai garis pemisah politik yang besar. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Somalia Tegas Tolak Kehadiran Israel Dalam Keadaan Apa Pun
















Mina Indonesia
Mina Arabic