Jakarta, MINA – Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, di kawasan yang mempertemukan pusat pemerintahan, sejarah, budaya, dan keberagaman, berdiri sebuah bangunan putih nan megah. Kubah raksasanya menjulang ke langit. Pilar-pilar kokohnya menyangga ruang yang luas.
Di dalamnya, ribuan manusia datang silih berganti untuk bersujud, membaca Al-Qur’an, berdoa, belajar, atau sekadar mengagumi keindahan arsitekturnya.
Namanya Istiqlal. Dalam bahasa Arab, istiqlal berarti kemerdekaan. Nama itu bukan kebetulan. Istiqlal adalah pesan sejarah.
Terletak di Jalan Taman Wijaya Kusuma, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat, Masjid Istiqlal dibangun sebagai ungkapan syukur bangsa Indonesia atas kemerdekaan yang dianugerahkan Allah setelah berabad-abad berada di bawah penjajahan.
Baca Juga: DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Hak Pekerja Diperkuat
Karena itu, Istiqlal bukan hanya masjid, ia adalah monumen spiritual kemerdekaan Indonesia.
Gagasan Awal Dari Cita-cita Menuju Kenyataan
Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, cita-cita besar untuk membangun sebuah masjid kebanggaan bangsa sudah mengendap di hati warga Indonesia. KH. Wahid Hasyim, Menteri Agama RI pertama, bersama sejumlah ulama mengusulkan pendirian masjid yang mampu menjadi simbol bagi Indonesia.
Pada tahun 1953, KH. Wahid Hasyim bersama H. Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto, dan Ir. Sofwan, serta dibantu sekitar 200 tokoh Islam pimpinan KH. Taufiqurrahman, mengusulkan pendirian sebuah yayasan. Pada 7 Desember 1954, berdirilah Yayasan Masjid Istiqlal yang diketuai oleh H. Tjokroaminoto untuk mewujudkan ide pembangunan masjid tersebut.
Baca Juga: Kemenag Dukung Amil Zakat Profesional dan Bersertifikat
Saat itu, Presiden Soekarno memiliki peran penting, terutama dalam hal pendanaan, penentuan lokasi, dan pengawasan desain. Beliau menyambut hangat ide pembangunan masjid ini dan berjanji memberikan bantuan sepenuhnya.
Presiden Soekarno juga memimpin sayembara desain Masjid Istiqlal pada 1955. Pemenangnya bukan seorang Muslim, melainkan Friedrich Silaban, seorang arsitek Kristen Protestan asal Sumatra Utara. Desainnya yang diberi sandi “Ketuhanan” terpilih sebagai pemenang pertama.
Di sini tersimpan sebuah pelajaran penting tentang Indonesia. Istiqlal sejak awal tidak hanya berbicara mengenai identitas keagamaan, tetapi juga tentang kebangsaan, persaudaraan, dan toleransi hidup berdampingan.
Selanjutnya, pembangunan Masjid Istiqlal dimulai dengan pemancangan tiang pertama pada 24 Agustus 1961. Setelah melalui perjalanan panjang selama 17 tahun, masjid ini akhirnya diresmikan penggunaannya oleh Presiden Soeharto pada 22 Februari 1978, ditandai dengan prasasti yang dipasang di area tangga pintu As-Salam.
Baca Juga: Forum Zakat Soroti Perlindungan dan Profesionalisme Amil
Bayangkan. Sebuah gagasan yang lahir dari semangat kemerdekaan pada akhirnya berdiri kokoh dan menyaksikan perjalanan Indonesia dari generasi ke generasi.
Arsitektur yang Berbicara, Simbol 45 dan 17
Masuki halaman Istiqlal, pandangan akan segera tertuju ke bangunan utamanya, megah, tetapi tidak berlebihan.
Friedrich Silaban merancang Istiqlal dengan bahasa arsitektur modern yang dipadukan dengan simbol-simbol Islam dan Indonesia. Kubah utamanya berdiameter 45 meter, mengingatkan pada tahun 1945, tahun Proklamasi Kemerdekaan.
Baca Juga: Tenggelamnya KM Virgo, Polisi Tetapkan 4 Orang sebagai Tersangka
Tujuh belas pintu yang mengelilingi masjid juga mengandung simbol angka 17, tanggal Proklamasi Kemerdekaan.
Angka-angka itu seolah mengajarkan bahwa sebuah bangunan dapat menjadi buku sejarah yang dapat dibaca tanpa kata. Di Istiqlal, sejarah tidak hanya ditulis pada prasasti, ia ditanamkan pada arsitektur, hidup dalam ruang-ruang yang dipenuhi doa, dan bergaung dalam setiap azan.
Masjid Terbesar di Asia Tenggara
Istiqlal tumbuh menjadi salah satu masjid paling monumental di dunia Islam dan dikenal sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara. Kompleksnya memiliki luas sekitar 9,5 hektare dan kapasitas jamaah mencapai sekitar 200 ribu orang.
Baca Juga: Anak Krakatau Erupsi Dua Kali, Abu Vulkanik Bergerak ke Barat Laut
Tetapi ukuran bukanlah hal yang paling menarik dari Istiqlal. Yang lebih menarik adalah cerita di baliknya. Di tempat ini seorang Muslim dapat merasakan kebesaran ibadah berjamaah. Seorang pelajar dapat mempelajari sejarah Indonesia, dan seorang arsitek dapat mengagumi karya Friedrich Silaban.
Di samping itu, seorang wisatawan dapat melihat bagaimana sebuah bangsa menerjemahkan rasa syukur atas kemerdekaan ke dalam sebuah karya arsitektur. Seorang tamu dari luar negeri pun dapat melihat wajah Islam Indonesia yang ramah, terbuka, dan berakar kuat pada sejarah bangsanya.
Berdampingan dengan Katedral Simbol Toleransi
Ada pemandangan unik yang akan segera menarik perhatian pengunjung. Persis di seberang jalan Masjid Istiqlal, berdiri Gereja Katedral Jakarta. Masjid dan gereja berdiri berdampingan, bukan untuk saling meniadakan, melainkan menjadi bagian dari lanskap Jakarta yang memperlihatkan bahwa Indonesia dibangun di atas keberagaman dan toleransi.
Baca Juga: Rupiah Hari Ini Rp17.914 per Dolar AS
Setelah renovasi besar yang selesai pada 2021, kawasan Istiqlal semakin ditata dengan memperhatikan fungsi ibadah, sosial, edukasi, arsitektur, estetika, dan nilai cagar budaya.
Renovasi tersebut juga menghadirkan Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan kawasan Istiqlal dan Katedral.
Terowongan “Silaturahmi” adalah sebuah terowongan yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral Katolik di Jakarta. Pembangunan Terowongan tersebut telah dimulai pada 15 Desember 2020 dan selesai dibangun pada 20 September 2021.
Terowongan Silaturahmi ini dibangun dengan panjang sekitar 38 meter, tinggi 3 meter, lebar 4,5 meter, dengan total luas terowongan sekitar 340 meter2. Terowongan tersebut terletak sekitar 32 meter dari jarak terdekat Gereja Katedral dan sekitar 16 meter dengan gerbang Masjid Istiqlal. Jarak tersebut bertujuan untuk memastikan keamanan struktur bangunan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral sebagai Cagar Budaya.
Baca Juga: Ustaz Adi Hidayat Buka Sayembara Hadiah Haji Plus soal Syaikh Albani
Secara umum, Terowongan Silaturahmi ini memiliki fungsi yang sama seperti Jembatan Penyeberangan Orang atau JPO, tetapi berada di bawah tanah. Salah satu alasan dipilihnya terowongan bawah tanah sebagai penghubung antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral karena faktor keamanan dan keselamatan.
Terowongan ini ditujukan untuk memfasilitiasi tempat parkir baik bagi Jemaah Masjid Istiqlal ataupun Gereja Katedral. Terowongan ini tersambung dengan fasilitas Kawasan parkir Masjid Istiqlal yang berada di basement lantai satu yang dapat menampung sekitar 500 unit mobil.
Kehadiran pembangunan terowongan itu diharapkan dapat memudahkan Jemaah kedua rumah ibadah tersebut untuk menggunakan lahan parkir secara bersama. Dengan kata lain, para jamaah tidak terhambat dengan keadaan jalan raya yang menghubungkan kedua rumah ibadah ini yang terbilang padat dan sering macet.
Terowongan Silaturahmi ini dibangun dengan diarsiteki oleh Satrio Herlambang dan perencana struktur oleh Paulus Kurniawan. Arsitektur dari Terowongan Silaturahmi mengadopsi gaya modern, dengan desain eksteriornya menggunakan material kaca transparan. Dengan begitu, ini memudahkan pengunjung atau jamaah Masjid Istiqlal atau Gereja Katedral untuk menikmati keindahan dan kecantikan desain kedua rumah ibadah tersebut.
Baca Juga: Pesantren Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya Selenggarakan Shalat Istisqa
Di balik fungsinya sebagai penyeberangan jamaah masjid ataupun gereja, terowongan ini memiliki makna simbolik dan filosofinya tersendiri. Pembangunan terowongan tersebut menghubungkan kedua rumah ibadah yang sakral secara arsitektural, seni, dan aksesoris atau ornamen yang menghiasi keduanya.
Terowongan ini dapat menjadi simbol persatuan dan toleransi di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia yang berkembang sekarang, khususnya dari sisi agama. Terowongan itu juga dapat dijadikan contoh penerapan nilai nilai kerukunan, toleransi, harmoni, dan kebersamaan antar umat beragama yang sedang diperjuangkan saat ini.
Bukan Hanya untuk Muslim
Istiqlal bukan hanya destinasi bagi umat Islam Indonesia. Ia juga merupakan salah satu tempat yang layak dikunjungi siapa pun yang ingin mengenal sejarah, budaya, arsitektur, dan kehidupan keagamaan Indonesia.
Baca Juga: Pemerintah Tak Izinkan Konser Israel Houghton di Indonesia
Badan Pengelola Masjid Istiqlal bahkan menyediakan sistem informasi khusus bagi wisatawan domestik dan internasional, termasuk pilihan pendamping atau guide bagi wisatawan mancanegara.
Kunjungan Tokoh Dunia
Berbagai delegasi internasional telah mengunjungi Istiqlal, di antaranya: Presiden AS Bill Clinton (dalam rangka APEC) tahun 1994, Pangeran Charles dari Kerajaan Inggris tahun 2008, serta Presiden AS Barack Obama dan istrinya Michelle Obama tahun 2010.
Terkini, ada juga delegasi Australia, mempelajari toleransi Islam Indonesia, tahun 2026.
Baca Juga: LP3H Mathla’ul Anwar Bekerjasama BMT Amanah Umah Gerakkan Ekonomi Umat di Jateng
Delegasi dari berbagai negara diajak berkeliling mengenal sejarah, arsitektur, beduk raksasa, hingga lanskap Istiqlal yang berdampingan dengan Katedral. Istiqlal perlahan bukan hanya menjadi masjid yang dikunjungi umat, tetapi juga jendela Indonesia bagi dunia.
Pusat Kegiatan Keumatan
Berbagai kegiatan keumatan dilaksanakan di masjid tersebut, mulai dari: Kajian Rutin, Musabaqah (kompetisi Al-Qur’an), Tabligh Akbar, Pameran Keislaman hingga Festival.
Semua ini menjadikan Istiqlal benar-benar milik umat Islam keseluruhan, dari berbagai ormas, kalangan, dan latar belakang yang berbeda.
Duduklah Sejenak di Bawah Kubah
Ada pengalaman yang mungkin tidak akan ditemukan dalam brosur wisata. Setelah melihat-lihat arsitektur, cobalah duduk sejenak. Lihat cahaya yang jatuh di antara pilar-pilar. Dengarkan suara langkah kaki jamaah.
Perhatikan ada anak yang belajar membaca Al-Qur’an. Lihat seorang tua yang khusyuk berdoa. Dan jika waktu salat tiba, dengarkan azan menggema memenuhi ruang masjid.
Saat itu, Istiqlal tidak lagi terasa seperti sebuah bangunan monumental. Ia terasa seperti rumah, rumah bagi jutaan doa, bagi orang-orang yang mencari ketenangan, bagi sebuah bangsa yang pernah berjuang merebut kemerdekaan.
Dan rumah yang mengingatkan bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan. Kemerdekaan adalah amanah yang harus disyukuri dan diwujudkan dalam kehidupan yang berkeadaban.
Visi dan Misi Istiqlal
Masjid Istiqlal kini terus berbenah dengan visi: “Terwujudnya Masjid Istiqlal sebagai Lembaga Pemberdayaan Umat.”
Beberapa misinya meliputi:
- Memelihara dan meningkatkan kualitas pelayanan ibadah
- Meningkatkan kualitas Sumber Daya Umat melalui pendidikan dan pelatihan berbasis keislaman, keindonesiaan, dan global
- Menerapkan pengelolaan masjid yang modern dan berwawasan lingkungan
- Memberdayakan masyarakat melalui pengembangan ekonomi umat
- Menumbuhkan kepedulian sosial dan menjaga harmoni umat beragama
- Menyelenggarakan manajemen masjid yang modern, amanah, akuntabel, dan profesional
- Membangun kerja sama dengan lembaga lain di dalam dan luar negeri
Masjid Istiqlal pun mengembangkan kegiatannya, mulai dari Global Fund, Jurnal dan Majalah, Muallaf Center, Perpustakaan, Zakat dan Wakaf, Madrasah hingga Pendidikan Kader Ulama.
Masjid Istiqlal saat ini memiliki Imam Besar, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, yang menjabat sejak Januari 2016. Selain sebagai Imam Besar, beliau juga mengemban amanah sebagai Menteri Agama Republik Indonesia dalam Kabinet Merah Putih sejak Oktober 2024.
Jendela Indonesia bagi Dunia
Begitulah, Istiqlal tidak semestinya hanya dipandang sebagai bangunan besar dengan kubah yang indah. Istiqlal adalah memori kolektif bangsa, saksi perjalanan Republik, pusat ibadah, ruang pendidikan, dan tempat perjumpaan massal. Istiqlal adalah salah satu wajah terbaik Indonesia yang dapat diperkenalkan kepada dunia.
Orang lun berkata, “Belum ke Jakarta kalau belum ke Istiqlal.”
Bagi wisatawan Muslim dari Malaysia, Brunei, Singapura, Timur Tengah, Asia Selatan, Eropa, Afrika, atau belahan dunia lainnya, Istiqlal menawarkan pengalaman spiritual yang khas Indonesia. Bagi wisatawan non-Muslim, Istiqlal menawarkan kesempatan untuk melihat lebih dekat bagaimana Islam menjadi bagian penting dari sejarah dan kebudayaan Indonesia.
Di balik kemegahan bangunannya terdapat sebuah doa panjang sebuah bangsa, semoga kemerdekaan Indonesia selalu berada dalam naungan Allah, menjadi jalan menuju kehidupan yang adil, damai, bermartabat, dan rahmatan lil ‘alamin. Aamiin. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic