Washington, MINA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melakukan aksi militer terhadap Oman jika negara itu menghalangi upaya Washington untuk mencapai kesepakatan dengan Iran mengenai Selat Hormuz.
Ancaman ini muncul saat perjanjian sementara 60 hari AS-Iran berakhir tanpa kesepakatan permanen.
“Jika Oman menghalangi, kami akan membom mereka habis-habisan,” kata Trump dalam wawancara telepon dengan Fox News pada Senin (17/8).
Ancaman itu datang di tengah upaya Oman yang bernegosiasi langsung dengan Iran untuk membuka kembali jalur air strategis tersebut. Iran sebagian besar membatasi lalu lintas melalui Selat Hormuz sejak serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada Februari 2026.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Oman Sekutu Lama di Tengah Persaingan
Oman adalah sekutu lama AS yang juga menjaga hubungan baik dengan Iran. Posisinya yang netral membuatnya menjadi mediator potensial antara Washington dan Teheran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan kedua negara telah mencapai kesepakatan mengenai peta jalur transit dan sedang menyelesaikan rincian terakhir sebelum mengeluarkan pernyataan bersama.
Langkah ini memicu kemarahan Trump. Menurut laporan, pengiriman melalui selat melambat drastic, hanya 5 kapal kargo yang menyeberang pada Sabtu (15/8), dibandingkan 31 sepekan sebelumnya.
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
Sementara pada Ahad (16/8), tidak ada kapal kargo yang tercatat menyeberang. Laporan Zee News, Senn (17/8).
Iran Bisa Pindah ke Posisi Ofensif
Ketegangan semakin memanas setelah perjanjian 60 hari AS-Iran yang ditandatangani pada Juni 2026 berakhir tanpa hasil. Iran kemudian menyebutnya “ditangguhkan”, sementara Trump menyatakan perjanjian tersebut berakhir pada Juli.
Pejabat Iran mengatakan bahwa Teheran telah bergeser dari posisi defensif menjadi “sepenuhnya ofensif” karena kebuntuan dalam negosiasi. Iran juga menuntut kompensasi dari AS atas “pelanggaran” perjanjian Juni sebelum memulihkan hubungan dan membuka kembali jalur air.
Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran
Saluran Rahasia AS-IRGC?
Trump mengklaim bahwa AS memiliki saluran belakang langsung ke Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran. “Mereka harus mengibarkan bendera putih penyerahan,” katanya.
Namun, IRGC dengan tegas membantah klaim tersebut. Juru bicara IRGC mengatakan kepada kantor berita semi-resmi Tasnim, “Tidak ada negosiasi antara pejabat IRGC dan warga Amerika, dan klaim Trump hanyalah ide fiksi yang muncul dari delusi dan mimpi buruk yang dialaminya akibat kekalahan dan keputusasaan dalam perang. ”
Selat Hormuz Jantung Energi Dunia
Baca Juga: Trump Sebut AS Kuasai Greenland, Ini Isi Kesepakatannya
Selat Hormuz adalah jalur air sempit antara Iran, Oman, dan UEA. Pada titik tersempitnya, lebarnya hanya sekitar 33 kilometer. Namun, di balik kesempitannya, ia adalah jalur energi paling vital di dunia.
Gangguan berkepanjangan di selat ini dapat memicu guncangan harga minyak global, yang pada gilirannya akan memengaruhi harga bahan bakar di seluruh dunia.
Apa Selanjutnya?
Pertanyaan besarnya, akankah Iran dan Oman berhasil menyelesaikan kesepakatan pelayaran mereka, dan apakah Washington akan menerimanya?
Baca Juga: Demonstrasi di New Jersey Protes Ekspor Senjata ke Israel
Iran telah memperingatkan bahwa mereka bisa beralih ke respons militer yang lebih agresif jika diplomasi gagal. Sementara AS mempertahankan blokade lautnya dan mengatakan dapat melanjutkan operasi tersebut tanpa batas waktu.
Ancaman Trump terhadap Oman menandai eskalasi baru dalam konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan. Langkah selanjutnya dalam pembicaraan tersebut dapat menentukan apakah sengketa ini tetap menjadi konfrontasi diplomatik atau berubah menjadi titik eskalasi militer lain di kawasan. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Luksemburg Siapkan Aturan Larang Produk Permukiman Israel
















Mina Indonesia
Mina Arabic