SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rapuhnya Kekuatan Selain Allah

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 15 Oktober 2026 - 21:02 WIB

Kamis, 15 Oktober 2026 - 21:02 WIB

47 Views ㅤ

sarang laba-laba (foto: Fpik)

Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَثَلُ الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَوْلِيَاۤءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوْتِ ۚ اِتَّخَذَتْ بَيْتًا ۗ وَاِنَّ اَوْهَنَ الْبُيُوْتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوْتِ ۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ ۝٤١ (الْعَنْكَبُوْتِ [٢٩]: ٤١)

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

“Perumpamaan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai pelindung adalah seperti laba-laba betina yang membuat rumah. Sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba. Jika mereka tahu, (niscaya tidak akan menyembahnya).” (QS Al-Ankabut [29]: 41).

Imam Ath-Thabari Rahimahullah dalam kitab Jami’ul Bayan menjelaskan, bahwa ayat ini menggambarkan orang-orang musyrik yang menjadikan sesembahan selain Allah Ta’ala sebagai tempat berharap pertolongan dan perlindungan.

Mereka menggantungkan keselamatan kepada sesuatu yang pada hakikatnya tidak memiliki kuasa untuk memberikan manfaat maupun menolak mudarat sedikitpun. Mencari pertolongan dan perlindungan kepada selain Allah Ta’ala, justru menambah kelemahan di atas kelemahannya.

Kata اَوْلِيَاۤءَ (awliya’) dalam ayat berarti semua pihak yang dijadikan pelindung, penolong dan tempat bergantung secara hakiki. Manusia tetap diperintahkan membangun pertahanan, kekuatan dan bekerja sama dengan pihak lain. Tetapi semua itu tidak boleh menggantikan kedudukan Allah Ta’ala sebagai tempat bergantung.

Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan

Pada ayat di atas, Allah Ta’ala menggambarkan orang-orang yang menjadikan pelindung, penolong dan tempat bergantung selain-Nya seperti laba-laba yang membuat sarang. Laba-laba membuat sarang dengan susah-payah agar sarangnya dapat melindungi dirinya.

Meskipun Peneliti biomaterial dari University of Bayreuth, Jerman, Profesor Thomas Scheibel menyebut, bahwa benang laba-laba memiliki kualitas material yang elastisitas dan kuat. Namun, rumah laba-laba tidak bisa melindungi dari panas, dingin, hujan, ancaman fisik dan berbagai gangguan lainnya. Karena kuatnya jaring laba-laba memang tidak diperuntukkan sebagai tempat perlindungan.

Mengapa Allah Ta’ala memilih sarang laba-laba sebagai simbol kelemahan, padahal ilmu pengetahuan modern justru menemukan bahwa benang laba-laba memiliki kekuatan luar biasa? Jawabannya membawa kita pada satu pelajaran besar: kekuatan fisik dan material tidak bisa menjadi sandaran, tempat bergantung dan berlindung dan segala ancaman dan gangguan, Wallahu a’alam.

Hal ini menjadi pelajaran yang sangat relevan dengan sejarah peradaban manusia. Sebuah negara dapat memiliki kecanggihan teknologi dan militer serta anggaran yang sangat besar, tetapi semua itu tidak otomatis menjadikan kekuasaannya kokoh secara moral dan sosial.

Baca Juga: 7 Amalan Ringan di Usia Senja, Menjemput Berkah Meraih Husnul Khatimah

Perjalanan sejarah manusia memperlihatkan sebuah paradoks: ketika sebuah kekuatan besar merasa dirinya tak terkalahkan, maka sesungguhnya ia dekat dengan kehancurannya. Imperium datang silih berganti. Kerajaan dibangun dengan tembok tinggi, pasukan besar, senjata canggih dan kekayaan melimpah. Namun, akhirnya hanya tinggal nama dalam lembaran buku sejarah.

Dari Persia hingga Gaza, Kekuasaan dan Kekuatan yang Rapuh

Sejarah peradaban manusia adalah museum besar yang menjadi bukti silih bergantinya sebuah kekuatan. Imperium dan kerajaan besar yang pernah eksis dengan pasukan yang kuat, kekayaan yang melimpah dan benteng yang kokoh. Namun, ketika kehilangan eksistensinya dan kini hanya tinggal cerita.

Contoh nyata terjadi pada masa dakwah Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam di Madinah. Kaum Yahudi yang memiliki kekuatan ekonomi, persenjataan dan jaringan politik, ketika mereka berkhianat terhadap “Piagam Madinah” dan ingin membunuh Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam, akhirnya mereka sendiri yang hancur dan terusir dari Madinah, hingga saat ini.

Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji

Di jazirah Arab, suku Quraisy pernah memiliki kekuasaan ekonomi, sosial dan politik yang kuat. Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam dan para sahabat mengalami penyiksaan, pemboikotan dan pengusiran di masa awal dakwah. Tetapi ketika Fathu Makkah tiba (630 M), kota yang dahulu menjadi pusat penindasan terhadap dakwah Islam berubah menjadi simbol tauhid dan perdamaian.

Di wilayah lain, Persia pernah menjadi salah satu imperium terbesar dan terkuat di kawasan Timur Tengah. Mereka memiliki kekuatan militer, administrasi dan kebudayaan yang sangat maju pada masanya. Namun, konflik internal dan persoalan politik menggerogoti dari dalam, sebelum musuh merobohkannya dari luar.

Pasukan Salib juga pernah menguasai Yerusalem pada Abad ke-11. Kekuatan besarnya membuat mereka berlaku kejam dan zalim dengan membantai penduduknya hingga saluran-saluran air di kota itu berubah menjadi aliran darah saat mereka menakhlukkan Yerusalem.

Sejarawan Carole Hillenbrand dalam The Crusades: Islamic Perspectives menunjukkan, kezaliman dan kekuatan tentara Salib tidak bertahan lama. Mereka akhirnya ditaklukkan Salahuddin Al-Ayyubi pada 1187 H.

Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan

Kerajaan Romawi Timur (Bizantium) mengalami nasib serupa. Konstantinopel pernah dianggap sebagai ibu kota yang hampir mustahil ditaklukkan. Tembok Theodosian menjadi salah satu sistem pertahanan paling mengesankan pada zamannya. Namun pada 1453, Muhammad Al-Fatih dan pasukannya berhasil menembus pertahanan tersebut. Romawi Timur akhirnya berubah menjadi Turki Utsmani.

Memasuki zaman modern, Amerika Serikat (AS) yang mengklaim dirinya sebagai kekuatan tak tertandingi di dunia menjadi contoh nyata. Dalam perang Vietnam, AS gagal mencapai tujuan politik dan militernya, hingga menarik pasukan tempur pada 1973. Dalam buku The American Way of War (1973), Russell F. Weigley menguraikan kecenderungan strategi militer AS yang mengandalkan superioritas persenjataan terbukti tidak efektif menghadapi perang gerilya berkepanjangan. Akibatnya, keunggulan teknologi AS hanya menghasilkan kekalahan dna kehancuran.

Sementara di Afghanistan, AS dan sekutunya menghabiskan dua dekade membangun kekuatan militer dan pemerintahan baru, tetapi Taliban kembali menguasai Kabul pada Agustus 2021 setelah semua pasukan AS ditarik karena tidak adanya anggaran.

Craig Whitlock melalui The Afghanistan Papers menunjukkan berbagai laporan dan wawancara yang menggambarkan antara narasi keberhasilan pemerintah AS dengan kenyataan di lapangan. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa perang tidak hanya ditentukan oleh tentara dan senjata, tetapi juga oleh ketahanan politik, legitimasi dan kemampuan memahami kultur dan budaya masyarakat setempat.

Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi

Irak juga memberikan pelajaran serupa. Amerika Serikat memang mampu menjatuhkan rezim Saddam Hussein dengan cepat pada 2003, tetapi tidak mampu membangun tatanan politik yang stabil. Thomas E. Ricks dalam makalahnya berjudul Fiasco memberi kritik tentang keberadaan AS di Irak. Ia menyatakan, kekuatan militer mungkin bisa memenangkan pertempuran tertentu, tetapi tidak akan mampu memenangkan pengaruh.

Pelajaran tersebut menjadi semakin relevan ketika melihat Palestina. Tiga tahun setelah 7 Oktober 2023, aksi genosida Gaza telah menghasilkan kehancuran luar biasa, sementara Israel tetap tidak memperoleh kemenangan, bahkan dalam berbagai forum dunia.

Kekalahan Israel tampak jelas antara lain: bertambahnya negara-negara yang mengakui kedaulatan Palestina. Selain itu, aksi walk out di sidang umum PBB saat Benyamin Netanyahu berpidato menunjukkan Israel semakin terkucilkan di forum diplomatik dunia.

Laporan Reuters pada Oktober 2026 menyebut Israel menguasai sekitar dua pertiga wilayah Gaza, sementara pejuang Palestina Hamas dan lainnya masih memiliki pengaruh di wilayah lainnya.  Tujuan-tujuan utama seperti pelucutan senjata para pejuang, penarikan penuh pasukan Israel dan rekonstruksi Gaza hingga saat ini tidak terwujud.

Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu

Zohar Palti, mantan pejabat intelijen dan pertahanan Israel menilai bahwa perang di Gaza memang mampu menghancurkan infrastruktur militer Hamas. Namun fakta di lapangan menunjukkan, kehancuran Gaza tidak serta-merta menghancurkan legitimasi Hamas dan para pejuang Palestina lainnya.

Di sisi lain, justru perang memberikan tekanan serius kepada Israel. Anggaran militernya jebol, ekonominya hancur, sementara ratusan ribu warganya memilih pergi dan menyatakan tidak akan kembali lagi.

Tekanan tersebut semakin berat karena Israel menghadapi perubahan sikap masyarakat internasional. Sebagian besar negara-negara yang dulu mendukungnya, kini berbalik arah mengecam, bahkan memboikot dan memutuskan hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Israel.

Persoalan yang dihadapi Israel bukan semata-mata bagaimana memenangkan pertempuran di Gaza, tetapi bagaimana mempertahankan legitimasi, dukungan internasional, ketahanan ekonomi dan kohesi internal dalam perang yang berkepanjangan.

Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam

Kekuatan Sejati hanya Bersandar kepada Allah

Allah Ta’ala tidak melarang umat Islam menggunakan teknologi, membangun ekonomi, memperkuat pertahanan, dan menguasai ilmu pengetahuan. Justru semua itu merupakan bagian dari ikhtiar yang diperintahkan agama.

Islam mengajarkan umatnya untuk mengambil sebab-sebab diturunkannya pertolongan dan kemenangan. Namun, ada satu hal yang tidak boleh berubah, hati tidak boleh menggantungkan keselamatan kepada selain Allah Ta’ala. Sebab, sehebat apa pun kemampuan makhluk, semuanya tetap berada di bawah kekuasaan Allah Ta’ala.

Bagi orang beriman, senjata dan teknologi berada dalam ranah ikhtiar, bukan sebagai sandaran hati. Negara boleh menjalin kerja sama, membangun aliansi, memperkuat pertahanan, dan memanfaatkan kemampuan pihak lain. Namun, semua itu tidak boleh menggeser keyakinan bahwa pertolongan dan kemenangan pada hakikatnya berasal dari Allah Ta’ala.

Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an

Inilah yang menjadi pegangan para Founding Father negeri ini. Maka ketika negeri ini merdeka, dengan tegas dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa kemerdekaan ini adalah atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, bukan semata-mata karena kekuatan dan senjata yang canggih.

Imam As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang benar-benar menjadikan Allah Ta’ala sebagai wali akan memperoleh kekuatan yang jauh melampaui kekuatan material. Ia mendapatkan keteguhan hati, kekuatan moral, keberanian, dan ketenangan yang lahir dari keyakinan kepada Allah Ta’ala.

Pelajaran ini sekaligus harus menjadi cermin bagi umat Islam sendiri, bahwa kemenangan umat Islam akan dapat diraih dengan menjadikan Allah Ta’ala sebagai wali dan menyerahkan diri secara total (tawakal) kepada-Nya.

Tawakal bukan alasan untuk meninggalkan ikhtiar. Sebaliknya, tawakal yang benar justru melahirkan kesungguhan untuk memperbaiki diri, membangun kekuatan, mempererat persatuan, menegakkan keadilan, dan mempersiapkan generasi yang berilmu serta berakhlak.

Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina

Sarang laba-laba dalam Al-Qur’an adalah analogi tentang ketergantungan yang salah. Jangan kagum kepada besarnya kekuatan manusia. Jangan pula takut kepada besarnya kekuatan musuh hingga kehilangan keberanian. Sebab kemenangan hakiki bukan semata-mata ketika musuh tumbang atau kekuasaan berpindah tangan, melainkan ketika seorang hamba tetap teguh di jalan Allah Ta’ala dalam keadaan menang ataupun kalah.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Tausiyah
Indonesia