Jenewa, MINA — Pelapor Khusus PBB untuk situasi hak asasi manusia di wilayah Palestina yang dijajah, Francesca Albanese membandingkan pembunuhan ribuan anak Palestina di Gaza oleh Zionis Israel dengan praktik yang dilakukan Nazi selama Holocaust.
Pernyataan itu disampaikan Albanese melalui unggahan di X, Sabtu (19/9), sebagai tanggapan terhadap pernyataan model Zionis Israel Sarai Givaty dalam wawancara dengan stasiun televisi berbahasa Ibrani, i24NEWS.
Dalam wawancara tersebut, Givaty mengatakan dirinya bersedih melihat anak-anak menangis di berbagai belahan dunia.
Namun, ia kemudian menyatakan bahwa jika tidak bertindak, anak-anak tersebut akan tumbuh menjadi “teroris”.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Albanese menanggapi pernyataan tersebut dengan merujuk pada pembelaan yang pernah digunakan pejabat Nazi dalam Pengadilan Nuremberg terkait pembunuhan anak-anak selama Holocaust.
“Anak-anak akan tumbuh dewasa. Ini juga merupakan argumen yang digunakan pejabat Nazi selama Pengadilan Nuremberg untuk membenarkan alasan mereka membunuh anak-anak selama Holocaust,” tulis Albanese.
Pernyataan Albanese muncul di tengah laporan mengenai tingginya jumlah anak Palestina yang tewas sejak dimulainya agresi militer Zionis Israel di Jalur Gaza pada Oktober 2023.
Kantor Media Pemerintah Gaza pada 24 Agustus 2026 menyatakan lebih dari 21.500 anak Palestina telah terbunuh sejak dimulainya agresi tersebut.
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
Kantor itu menyebut angka tersebut sebagai jumlah korban yang sangat besar dan menyebut pasukan Zionis Israel terus menargetkan warga sipil, rumah penduduk, serta tempat-tempat ibadah.
Pada tanggal yang sama, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan jumlah keseluruhan warga Palestina yang syahid sejak 7 Oktober 2023 mencapai 73.422 orang, dengan 174.401 lainnya terluka.
Perserikatan Bangsa-Bangsa juga melaporkan bahwa warga sipil Gaza, termasuk anak-anak dan perempuan, masih menghadapi risiko serangan mematikan.
Kantor PBB di Palestina mencatat sedikitnya 17 warga Palestina, termasuk anak-anak dan perempuan, tewas dalam serangan Zionis Israel pada 18 dan 19 Agustus 2026.
Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran
Albanese selama masa mandatnya sebagai Pelapor Khusus PBB secara konsisten mengkritik tindakan penjajah Israel di wilayah Palestina yang diduduki dan menyerukan pertanggungjawaban berdasarkan hukum internasional.
Sikap tersebut membuatnya mendapat tekanan dari Israel dan Amerika Serikat.
Pada Juli 2025, Pemerintah AS menjatuhkan sanksi terhadap Albanese.
Departemen Luar Negeri AS mengatakan sanksi tersebut berkaitan dengan keterlibatannya dalam upaya mendorong penyelidikan dan proses hukum di Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terhadap warga negara Amerika Serikat dan Israel.
Baca Juga: Trump Sebut AS Kuasai Greenland, Ini Isi Kesepakatannya
Pemerintah AS juga menuduh Albanese memiliki sikap bias dan menggunakan istilah antisemitisme terhadap sejumlah pernyataannya.
Tuduhan tersebut merupakan posisi Pemerintah AS, bukan temuan independen PBB.
Albanese sendiri telah menolak tekanan tersebut dan tetap mempertahankan kritiknya terhadap tindakan Israel di Gaza.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Demonstrasi di New Jersey Protes Ekspor Senjata ke Israel
















Mina Indonesia
Mina Arabic