Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemilu Israel 2026: Netanyahu Makin Terdesak, Oposisi Mulai Unggul

Arina Islami Editor : Ali Farkhan Tsani - Selasa, 1 September 2026 - 06:46 WIB

Selasa, 1 September 2026 - 06:46 WIB

35 Views ㅤ

Parlemen Israel (Knesset) foto: X)

Al-Quds, MINA – Perdana Menteri Zionis Israel Benjamin Netanyahu menghadapi tekanan politik yang semakin besar menjelang pemilu Israel yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026.

Dengan 56 hari tersisa menuju pemilu Israel, sejumlah jajak pendapat menunjukkan dukungan terhadap Netanyahu dan Partai Likud terus menurun, sementara kekuatan oposisi mulai menguat.

Melansir Middle East Monitor pada Senin (31/8), Netanyahu memandang pemilu tersebut sangat menentukan masa depan politik dan pribadinya.

Ia masih menghadapi dakwaan suap, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan dalam kasus korupsi yang sedang diproses di pengadilan.

Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900

Selain kasus korupsi, Netanyahu juga menghadapi surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) sejak 2024 terkait dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Jalur Gaza.

Netanyahu dinilai berkepentingan mempertahankan kekuasaan untuk menghindari kemungkinan vonis pidana dalam kasus korupsinya.

Ia berharap dapat kembali membentuk pemerintahan atau terjadi kebuntuan politik yang memaksa pemilu ulang sehingga dirinya tetap menjabat hingga pemerintahan baru terbentuk.

Jajak pendapat yang dipublikasikan lembaga penyiaran publik Zionis Israel pada Ahad (30/8) menunjukkan blok Netanyahu diperkirakan memperoleh 52 kursi, sementara oposisi non-Arab mendapat 55 kursi dan partai-partai Arab 13 kursi.

Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa

Untuk membentuk pemerintahan, sebuah blok politik membutuhkan dukungan sedikitnya 61 dari 120 anggota Knesset.

Perhatian kini tertuju kepada mantan Kepala Staf Angkatan Darat Zionis Israel, Gadi Eisenkot, yang dinilai sebagai salah satu tokoh oposisi terkuat untuk membentuk pemerintahan.

Partai baru Eisenkot, Yashar, mengalami peningkatan dukungan dalam beberapa pekan terakhir dan bahkan melampaui Likud.

Berdasarkan jajak pendapat tersebut, Yashar diproyeksikan memperoleh 24 kursi, sedangkan Likud 21 kursi.

Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka

Eisenkot juga unggul atas Netanyahu dalam tingkat kelayakan menjadi perdana menteri.

Sebanyak 40 persen responden menilai Eisenkot lebih layak memimpin pemerintahan berikutnya, dibandingkan 37 persen untuk Netanyahu.

Di tengah melemahnya dukungan, Netanyahu terus berupaya memperkuat suara partai-partai sayap kanan.

Netanyahu sebelumnya mendapat kritik karena dinilai membiarkan kekerasan para pemukim ilegal Zionis terhadap warga Palestina di Tepi Barat untuk mempertahankan dukungan kelompok pemilih sayap kanan.

Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza

Netanyahu dan Menteri Keuangan sayap kanan ekstrem Bezalel Smotrich juga membanggakan kebijakan pemerintah yang dibentuk pada akhir 2022, termasuk persetujuan pembangunan 104 permukiman ilegal dan pendirian 160 pos permukiman pertanian di Tepi Barat yang dijajah.

Namun, Netanyahu menghadapi dua tantangan utama.

Pertama, munculnya partai-partai sayap kanan baru yang berpotensi memecah suara pemilih sayap kanan.

Kedua, bersatunya tiga partai Arab dalam Joint List, yang diperkirakan meningkatkan partisipasi pemilih Arab.

Baca Juga: Oposisi Israel Sebut Butuh Waktu Bertahun-tahun untuk Tarik Pasukan dari Gaza

Jajak pendapat sebelumnya memproyeksikan partai-partai Arab memperoleh sekitar 10 kursi.

Namun, survei terbaru menunjukkan jumlah tersebut dapat meningkat menjadi sedikitnya 13 kursi.

Tingkat partisipasi pemilih Arab menjadi faktor penting dalam pemilu Israel.

Warga Arab mencapai sekitar 20 persen dari populasi Zionis Israel yang berjumlah sekitar 10 juta jiwa.

Baca Juga: Survei Jelang Pemilu Israel, Netanyahu Kalah dari Oposisi

Peningkatan partisipasi pemilih Arab dapat mengurangi peluang partai-partai sayap kanan kecil melewati ambang batas parlemen.

Kondisi tersebut berpotensi melemahkan kemampuan Netanyahu membentuk pemerintahan dan sekaligus memperbesar peluang oposisi.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Gencatan Senjata Terus Dilanggar, Empat Warga Gaza Gugur Akibat Israel

Rekomendasi untuk Anda