Paris, MINA – Gelombang protes pelajar di Prancis semakin memanas. Sekitar 5.000 orang, mayoritas remaja, telah ditangkap sejak Senin di tengah aksi yang meluas ke berbagai wilayah dan diwarnai bentrokan dengan aparat keamanan.
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan aksi tersebut telah memicu kekerasan di sekitar 158 institusi pendidikan. Polisi juga melaporkan ratusan petugas mengalami luka-luka selama menangani demonstrasi yang berlangsung di sejumlah kota.
Protes awalnya dipicu persoalan kondisi pendidikan, termasuk kekurangan guru, ruang kelas yang terlalu padat, fasilitas sekolah yang buruk, serta jadwal belajar yang dinilai terlalu berat. Gerakan yang bermula di wilayah Paris itu kemudian menyebar ke berbagai daerah.
Le Monde melaporkan, pada Jumat (2/10), sekitar 400 sekolah menengah dilaporkan ditutup atau mengalami gangguan akibat aksi tersebut. Kementerian Pendidikan menyebut sebanyak 735 institusi pendidikan terdampak, sementara sejumlah sekolah mengalami kerusakan akibat kerusuhan.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Aksi di sejumlah kota diwarnai bentrokan dengan polisi, pembakaran benda, serta pelemparan benda ke arah aparat. Pemerintah mengecam kekerasan tersebut, sementara kelompok pelajar tetap mendesak pemerintah memberikan langkah konkret untuk memperbaiki kondisi pendidikan.
Kepala Kepolisian Paris Patrice Faure memperingatkan situasi gerakan tersebut mulai sulit dikendalikan dan menyerukan agar aksi kembali dilakukan secara damai. Serikat pelajar sendiri berencana menggelar demonstrasi nasional lanjutan, sehingga pemerintah Prancis masih menghadapi tekanan untuk meredakan ketegangan tanpa mengabaikan tuntutan pendidikan. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic