Paris, MINA – Sekitar 400 sekolah menengah di Prancis ditutup akibat gelombang demonstrasi pelajar yang meluas dan memanas. Penutupan tersebut terjadi di tengah aksi protes yang turut mengganggu kegiatan belajar mengajar di sejumlah wilayah.
Kementerian Pendidikan Prancis mencatat sekitar 400 dari 3.700 sekolah menengah terdampak penutupan pada Jumat (2/10). Selain itu, sekitar 560 sekolah lainnya mengalami aksi protes atau gangguan aktivitas akibat demonstrasi yang berlangsung sejak awal pekan. MEMO melaporkan.
Aksi tersebut dipicu sejumlah persoalan pendidikan, termasuk kepadatan ruang kelas, kekurangan tenaga pengajar, serta kondisi bangunan sekolah yang dinilai membutuhkan perbaikan. Para pelajar juga mempersoalkan kebijakan anggaran pendidikan pemerintah untuk 2027.
Situasi demonstrasi kemudian berkembang menjadi bentrokan di sejumlah kota. Polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa, sementara sebagian demonstran dilaporkan membakar tempat sampah serta melempar petasan dan benda lainnya ke arah aparat.
Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan sekitar 5.000 orang telah ditangkap sejak Senin (28/9), sebagian besar di antaranya remaja. Sementara itu, Menteri Pendidikan Edouard Geffray menyebut sedikitnya 65 tenaga pendidikan terluka dan lebih dari 100 sekolah mengalami kerusakan.
Pemerintah Prancis mengakui sejumlah persoalan di sektor pendidikan perlu segera ditangani, tetapi mengecam aksi kekerasan dan vandalisme. Di tengah situasi tersebut, serikat guru juga menyerukan aksi mogok nasional pada Selasa mendatang, menambah tekanan terhadap pemerintah menjelang pembahasan anggaran 2027. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
















Mina Indonesia
Mina Arabic