Putrie Aura, Bersahabat dengan Al-Quran dan Perjuangan Sampai Makkah

Putrie Aura Hermawan, salah satu jamaah haji Indonesia tahun 2024. (Foto: Kemenag)

Menjadi seorang hafidz (penghafal) Al-Quran adalah cita-cita setiap kaum Muslim. Namun pada prakteknya tidaklah mudah, ada proses dan lika-liku rintangan yang harus dilalui membutuhkan kesabaran dan Istiqomah untuk mencapai tujuan tersebut.

Putrie Aura Hermawan (21 tahun) duduk di kursi dengan didampingi ibunya, menceritakan perjalanan persahabatannya dengan Al-Quran dan perjuangannya sampai ke Tanah Suci, Makkah.

Melansir laman Kemenag, Putrie Aura yang akrab disapa Aura mengingat dengan jelas kisahnya jatuh bangun perjuangan dalam mencapai prestasinya. Banyak bidang yang diminatinya. Mulai bermain piano, menyanyi, baca puisi, menghapal Al-Quran, dan tilawah. Namun ia lebih memilih bersahabat dengan Al-Quran.

Pilihan yang luar biasa, meski ia terlahir istimewa, tunanetra tak mematahkan semangat dalam menghafalkan Al-Quran, hingga prestasi demi prestasi diraihnya, sejak ia masih sekolah dasar, terutama di bidang tilawah.

Al-Quran memang menjadi sahabatnya sejak kecil. Kala itu, neneknya kerap memperdengarkan tilawah. Selesai salat subuh, biasanya sang nenek mengajarinya mengaji.

“Aura sudah suka menghafal sejak usia tiga tahun. Aura memang tunanetra dan pengin dekat dengan Al-Quran,” kata Aura.

Aura kecil tumbuh menjadi anak yang ceria dan pintar. Di balik kekurangannya itu, dia mudah sekali menghafal sesuatu yang didengarnya.

Saat berusia 3 tahun, Aura sudah menghafal surat-surat pendek Al-Quran dari An-Naas hingga Al-Fiil. Di usia 5 tahun, dia mulai belajar tilawah dengan seorang guru. Metode belajarnya dengan cara mendengarkan rekaman. Baru di usia 8 tahun, Aura menemukan pengajar Al-Quran braile (Al-Quran yang diperuntukkan untuk tunanetra).

“Setelah selesai Al-Quran braille, Aura minta (belajar) tilawah sama mama. Cuma mama bingung cari guru tilawah, sampai akhirnya umur 10 tahun ketemu gurunya,” kata gadis yang bercita-cita ingin menjadi guru dan penghafal Al-Quran itu.

Perjuangan tak mengkhianati hasil, pada 2014 Aura meraih juara III ajang Musabaqoh Tilawa til Quran (MTQ) tingkat Provinsi Sumut. Lalu pada 2017, ia meraih juara 1 tingkat provinsi. Aura pun dikirim untuk lomba tingkat nasional. Di tingkat nasional ia masuk 13 besar. Semuanya untuk cabang disabilitas.

Pada 2016, dia tercatat sebagai juara I MTQ Nasional di kalangan disabilitas kategori SMP dan SMA di ajang Festival Lomba Seni Siswa Nasional yang digelar Dinas Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

“Tahun 2021 juga juara 1 MTQ nasional yang mengadakan swasta lembaga Sam’an Al-Quran golongan 1-5 juz,” katanya.

Saat ini, Aura tengah mengikuti kelas penghafal Al-Quran dan berharap suatu hari nanti bisa menghafal 30 juz. Dengan menggunakan aplikasi yang diinstal di handphonenya, ia bisa menghapal 3-6 halaman setiap hari.

“Targetnya sekarang 6 halaman sehari. Diulang sampai 5 kali, tapi biasanya sebelum 5 kali Aura sudah hafal,” ujar mahasiswi Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Padang ini.

Perjuangan Orangtua Aura

Apa yang didapat Aura saat ini tentu tak lepas dari perjuangan orang tuanya. Ibunya, Elis Hasfriyani (49 tahun) bercerita, Aura lahir pada 2003 secara prematur.

Aura dilahirkan saat kandungan ibunya baru berusia 6 bulan. Aura bayi akhirnya dirawat di inkubator selama 39 hari. Setelah kondisinya membaik, dokter mengizinkan Aura dibawa pulang.

Karena kedua orang tuanya bekerja, Aura dirawat pengasuh. Saat usia Aura masuk 6 bulan, pengasuh bilang Aura tak pernah merespons mainan yang diberikan. Tak yakin dengan omongan pengasuhnya, orang tua Aura melihat sendiri. Ternyata benar. Saat itu mata Aura seperti ada pelapisnya, seperti mata katarak.

“Saya bawa ke rumah sakit katanya harus dioperasi matanya, katarak. Saya bawa juga ke Penang, di sana dibilang syaraf matanya putus, jadi nggak bisa diapa-apain. Papanya bilang mau ganti mata tapi nggak bisa,” kata Elis berlinang air mata.

Tak puas dengan jawaban itu, kedua orang tuanya kembali mencari jalan agar penglihatan si buah hati normal. Tiga tahun upaya itu terus dilakukan tiada henti.

“Sama ayahnya (Aura) dibawa ke rumah sakit di Singapura. Tapi dokter juga bilang syaraf matanya putus, nggak bisa diapa-apain,” katanya.

Sedih? Sudah pasti. Namun saat keluar dari ruang dokter, sebuah kondisi menyadarkannya. Saat itu mereka melihat anak kecil yang tengah berbaring di kasur roda dengan kondisi tunanetra. Lehernya dilubangi dan dimasukin cairan infus.

“Di situ saya langsung merasa bersyukur. Meski anak saya tunanetra tapi masih bisa lari-lari. Ternyata masih ada yang lebih susah dari kami. Di situ papanya dan saya bisa menerima keadaan anak saya (Aura),” ujar Elis mengenang.

Peristiwa itu menjadi titik balik Elis dan suaminya. Mereka bertekad untuk membesarkan Aura dengan baik dan penuh kasih sayang.

“Saya ingin membesarkan Aura seperti orang tua lainnya,” katanya.

Elis tak pernah ambil pusing dengan pandangan orang lain terhadap Aura.

“Kalau mereka bisa saya juga bisa (mendidik Aura),” kata Elis sambil berurai air mata.

Perjuangan Haji ke Tanah Suci 

Aura mengatakan, orang tuanya sebenarnya sudah mendaftarkan dirinya pada 2011. Rencananya, ia bersama kedua orang tuanya berangkat pada 2021. Namun karena pandemi Covid-19, rencana itu batal.

Rencana ibadah haji itu baru terwujud pada tahun 2024 ini. Namun, mereka tak bisa bertiga, sebab ayahnya Dodi Hermawan dipanggil Yang Maha Kuasa pada 2020 karena sakit.

“Seneng sekali, karena bisa berangkat bareng mama. Sedihnya, harusnya kita berangkat bertiga, tapi Qadarullah, papa Aura meninggal Februari tahun 2020,” ujarnya, di pemondokannya di salah satu hotel Makkah, Arab Saudi pada Selasa (4/6).

Ada perasaan sedih karena tidak bisa bersama sang ayah tercinta, namun ia sadar harus menerima dengan ikhlas dan mendoakan kebaikan untuk kedua orangtuanya. Setelah penantian selama 13 tahun, akhirnya Aura bisa melaksanakan ibadah haji bertamu ke rumah Allah (Makkah) bersama ibunda tercinta. []

Mi’raj News Agency (MINA)