Ramadhan di Xinjiang: “Maafkan Anak-anak Saya karena Tidak Puasa”

Ramadhan tiba. Di seluruh dunia, umat Islam akan mulai berpuasa dari terbit fajar di ufuk timur hingga Magrib sebagai bagian dari festival selama sebulan ini.

Namun, di Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang, otoritas Cina memandang ibadah puasa sebagai “tanda ekstremisme”. Demikian situs Amnesty International melaporkan, Jumat (3/5).

Ekspresi terbuka dalam afiliasi keagamaan – termasuk menumbuhkan janggut, mengenakan jilbab atau hijab, shalat, puasa, atau menghindari alkohol – dikategorikan sebagai “tanda ekstremisme” di beberapa lokasi.

Semua ekspresi dan penampilan semacam itu dapat membawa Anda mendekam di salah satu kamp interniran Xinjiang, yang oleh pemerintah disebut “pusat pendidikan ulang” dan dilaporkan tempat pemerintah komunis Cina secara sewenang-wenang menahan hingga 1 juta orang minoritas Muslim.

Banyak kabupaten di Xinjiang telah mengeluarkan pemberitahuan di situs web pemerintah dalam beberapa tahun terakhir, yang menyatakan siswa sekolah dasar dan menengah dan anggota Partai Komunis tidak diizinkan untuk menjalani ibadah Ramadhan.

Penahanan dan pengawasan massal telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, tetapi praktik-praktik keagamaan dan budaya Muslim telah lama tidak dianjurkan di wilayah Xinjiang.

Gulzire, seorang wanita Uyghur dari Yining, di barat laut Xinjiang, mengatakan ketika dia memasuki sekolah menengah di awal tahun 2000-an, gurunya mendesak siswa untuk tidak berpuasa dengan alasan mereka membutuhkan nutrisi yang baik untuk mempersiapkan ujian publik mereka. Beberapa siswa tetap berpuasa dan tinggal di kelas untuk beristirahat selama makan siang alih-alih pulang atau pergi ke kantin untuk makan.

Untuk mencegah mereka berpuasa, guru akan pergi ke ruang kelas untuk memeriksa siswa. Gulzire ingat ia menunjukkan kepada seorang guru makan siang yang dibawanya sebagai bukti bahwa ia tidak berpuasa. Tetapi dia mengatakan pembatasan itu tidak terlalu ketat saat itu, dan beberapa masih berhasil berpuasa diam-diam.

Pembatasan ini juga tidak diberlakukan secara seragam di seluruh Tiongkok. Ketika Gulzire meninggalkan Xinjiang untuk belajar di kota Shenzhen di Cina selatan pada tahun 2006, ia terkejut dengan keterbukaan yang ia temukan di sana.

Selama festival keagamaan, Universitas Shenzhen akan membawa Gulzire dan teman-temannya asal Xinjiang ke masjid atau ke acara keagamaan dan budaya lainnya. Dia mengatakan teman-teman sekelasnya – yang sebagian besar berasal dari mayoritas etnis Han di Cina, juga sangat berpikiran terbuka dan mendukung praktik budaya Uyghur.

Namun, situasi semakin memburuk pada musim panas 2009. Kekerasan antaretnis di Urumqi, ibu kota Xinjang, menewaskan hampir 200 orang. Sebagai tanggapan, kehadiran militer dan keamanan yang jauh lebih kuat dikerahkan di seluruh Xinjiang, memicu ketegangan meningkat.

Gulzire mengatakan orang tuanya menyuruhnya berhenti pergi ke masjid, bahkan di Shenzhen. Karena takut dicap sebagai keluarga ekstremis, mereka juga berhenti berbicara tentang Al-Quran dan berhenti menyampaikan salam festival atau lebaran melalui telepon, seperti “Qurban bayram mubarek” atau Selamat Hari Raya Qurban, seperti yang biasa mereka lakukan.

Menurut peraturan yang disahkan pada 2017, orang dapat diberi label “ekstremis” kalau menolak untuk menonton radio publik dan program TV, mengenakan burqa atau memiliki janggut “tidak biasa”.

Pada April 2017, pemerintah dilaporkan menerbitkan daftar nama-nama yang dilarang, yang sebagian besar berasal dari Islam, dan mengharuskan semua anak di bawah 16 tahun dengan nama-nama berbau Arab atau Islam untuk mengubahnya.

Ramadhan ini, banyak Muslim di Xinjiang terpisah dari orang-orang yang mereka cintai – beberapa hilang tanpa berita, sementara yang lain dijebloskan oleh rezim di kamp-kamp interniran.

Jurnalis Radio Free Asia Gulchehra Hoja meninggalkan Cina 18 tahun yang lalu. Sejak dia pindah ke Amerika Serikat dia akhirnya bisa sepenuhnya merayakan Ramadhan. Berbicara tentang waktunya di Xinjiang, dia mengenang situasi yang sulit.

“Saya ingat hanya orang tua seperti nenek saya yang boleh berpuasa dan berdoa untuk meminta kepada Allah agar mengampuni anak-anaknya karena tidak berpuasa. Sekarang giliran saya yang terus berdoa untuk keluarga saya dan seluruh orang Uyghur,” ujarnya. (AT/R11/RS3)

Mi’raj News Agency (MINA)