Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ribuan Pasien Menanti di Seberang Perlintasan Rafah

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Ahad, 3 Mei 2026 - 09:59 WIB

Ahad, 3 Mei 2026 - 09:59 WIB

25 Views ㅤ

Perlintasan Rafah Mesir-Gaza (Anadolu Agency)

Rafah, Gaza, MINA – Harapan remaja Palestina, Bilal al-Mabhouh, untuk memulihkan penglihatannya secara bertahap kini semakin memudar di ambang pintu penyeberangan Rafah, satu-satunya jalur yang menghubungkan warga Jalur Gaza dengan dunia luar.

Setahun setelah ia terluka saat bertugas menjinakkan amunisi di kamp Jabalia, ia dikejutkan oleh hilangnya penglihatan total di mata kanannya. Kini ia hanya bisa menunggu keajaiban yang memungkinkannya bepergian untuk menyelamatkan sisa penglihatan di mata kirinya.

Kisah Bilal hanyalah setetes air dari lautan penderitaan yang dialami oleh sekitar 21.000 pasien Palestina yang telah siap untuk dipindahkan secara medis, tetapi hanya bisa menunggu kesempatan untuk keluar. Mereka terjebak dalam daftar tunggu yang Panjang. Sementara otoritas pendudukan Israel mengontrol laju perjalanan dengan sangat lambat dan dipengaruhi oleh situasi politik yang tidak menentu.

Data dari Kementerian Kesehatan di Gaza menunjukkan bahwa terdapat 197 kasus sangat kritis yang diklasifikasikan sebagai “menyelamatkan jiwa.” Kondisi kesehatan mereka membutuhkan evakuasi segera tanpa penundaan. Selain itu, lebih dari 2.100 kasus darurat mengancam jiwa setiap hari tanpa penyeberangan yang dibuka secara penuh dan teratur untuk keperluan kemanusiaan.

Baca Juga: Israel Culik 28 Warga Palestina di Tepi Barat, Termasuk Jurnalis Al Jazeera

Penantian yang mematikan ini telah menelan korban jiwa yang tak terhitung jumlahnya. Sekitar 1.562 pasien meninggal saat menunggu giliran mereka untuk bepergian, termasuk 550 pasien kanker yang tidak mendapatkan kemoterapi dan radiasi. Sumber-sumber medis menegaskan bahwa kurangnya peralatan yang diperlukan di Jalur Gaza membuat perjalanan keluar menjadi satu-satunya pilihan untuk bertahan hidup.

Meskipun ada kesepakatan internasional yang mengizinkan 150 pasien keluar setiap hari, kenyataan di lapangan menunjukkan kesenjangan yang sangat besar. Sejak awal Februari, hanya 665 pasien yang berhasil keluar, hanya sekitar 20 persen dari jumlah minimum yang dijanjikan di bawah perjanjian gencatan senjata.

Impian Pendidikan yang Menguap

Penderitaan tidak hanya terbatas pada aspek kesehatan, tetapi juga merambah dunia pendidikan.

Baca Juga: Sedikitnya 234 Pemukim Israel Serbu Halaman Masjid Al-Aqsa

Ribuan siswa dan peneliti menyaksikan impian mereka perlahan menguap. Dr. Muayyad Ismail, seorang fisikawan medis, adalah salah satu contoh nyata dari kehilangan ilmiah ini. Ia telah kehilangan empat kesempatan berturut-turut untuk melanjutkan studi doktoralnya di luar negeri akibat penutupan penyeberangan.

Kini, ia terancam kehilangan kesempatan kelima di sebuah universitas Kanada setelah menerima peringatan terakhir bahwa kursi akademiknya akan dibatalkan karena penundaan yang dipaksakan.

Para akademisi menggambarkan situasi ini sebagai penangguhan paksa lintasan pembangunan Gaza, yang merampas tenaga ahli yang sangat dibutuhkan untuk proses rekonstruksi di masa depan.

Keluarga yang Terpisah

Baca Juga: Empat Warga Palestina Syahid dalam Pelanggaran Terbaru Israel di Gaza

Di sudut penderitaan yang lain, tragedi pemisahan keluarga turut memperdalam luka. Jurnalis Assem Al-Nabih telah tinggal di Gaza selama dua setengah tahun, terpisah dari istri dan dua anaknya. Ia hanya bisa mengikuti tumbuh kembang putrinya yang bernama “Furat” melalui layar ponsel, tanpa bisa menyentuhnya atau hadir di momen-momen penting dalam kehidupannya.

Assem, yang memilih bertahan di Gaza utara untuk menjalankan tugas profesional dan nasionalnya, kini menjadi tahanan dari kebijakan penutupan penyeberangan. Istrinya baru saja lulus dan meraih gelar doctor, sebuah pencapaian besar yang terjadi saat ia tidak ada di sisinya.

Laporan hak asasi manusia menunjukkan bahwa penutupan penyeberangan telah menimbulkan dampak sosial yang serius, termasuk kasus perpisahan akibat jarak yang memisahkan pasangan serta perbatasan yang tertutup. Jarak antara Gaza dan dunia luar telah menjadi ujian paksa bagi hubungan antarmanusia.

Tekanan Psikologis

Baca Juga: Jumlah Perempuan Palestina di Penjara Israel Capai 88 Orang

Menurut para pengamat, kebijakan pendudukan Israel yang mengatur keluar masuk secara tetes demi tetes ini bertujuan untuk menjaga tekanan psikologis dan fisik tetap tinggi pada penduduk Gaza. Setiap pasien yang berhasil keluar meninggalkan ratusan lainnya yang berjuang melawan penyakit tanpa harapan yang jelas. Setiap siswa yang bepergian meninggalkan ribuan orang yang tahun-tahun sekolahnya hilang begitu saja dalam antrean yang tak berkesudahan.

Penyeberangan Rafah tetap menjadi satu-satunya arteri yang menghubungkan Jalur Gaza ke dunia luar. Namun, ia tetap menjadi arteri yang mencekik, yang tidak mampu memenuhi tingkat minimum martabat manusia.

Sementara seruan internasional agar penyeberangan ini dibuka secara permanen terus bergema, warga Palestina di Gaza terus membayar harga blokade dengan tubuh mereka, dengan masa depan anak-anak mereka yang tak tentu, dan dengan mimpi-mimpi yang entah kapan terwujud. []

Sumber: Jaridah al-Quds.

Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Hebron Setelah 10 Hari Serangan Militer

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Dunia Islam
Palestina
Palestina
MINA Sport
Internasional
Info MINA
Indonesia