Jakarta, MINA — Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (29/9). Bank Indonesia (BI) menyebut pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global dan tekanan dari sejumlah faktor eksternal.
Tekanan terhadap rupiah antara lain dipengaruhi meningkatnya imbal hasil atau yield surat utang Pemerintah AS (US Treasury), yang membuat aset berbasis dolar lebih menarik bagi investor. Reuters melaporkan yield US Treasury 10 tahun mencapai 5,27 persen, level tertinggi dalam 19 tahun.
BI sebelumnya menjelaskan tekanan nilai tukar juga berkaitan dengan meningkatnya kekhawatiran inflasi global dan prospek fiskal. Kondisi geopolitik di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak, yang meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global serta memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang.
Dari dalam negeri, kebutuhan dolar AS oleh importir menjelang akhir triwulan III turut memberikan tekanan terhadap rupiah. BI juga mencatat adanya arus keluar investasi portofolio dari aset negara-negara pasar berkembang di tengah meningkatnya kehati-hatian investor.
Baca Juga: DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Hak Pekerja Diperkuat
Pada pembukaan perdagangan Selasa, rupiah berada di level Rp17.997 per dolar AS, melemah 19 poin atau 0,11 persen dibandingkan penutupan sebelumnya Rp17.978. Dalam perkembangan perdagangan berikutnya, rupiah kemudian melewati level Rp18.000 per dolar AS.
BI memastikan tetap melakukan stabilisasi nilai tukar melalui berbagai instrumen, termasuk transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, serta pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder. BI juga mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung perekonomian. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Kemenag Dukung Amil Zakat Profesional dan Bersertifikat
















Mina Indonesia
Mina Arabic