Jakarta, MINA – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada pembukaan perdagangan Rabu pagi (17/6) setelah dibuka di level Rp17.754 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan mata uang rupiah terjadi di tengah masih kuatnya sentimen global yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan, termasuk perkembangan ekonomi Amerika Serikat dan dinamika geopolitik internasional.
Berdasarkan data perdagangan pagi, rupiah bergerak melemah dibandingkan posisi sebelumnya. Tekanan terhadap mata uang domestik masih dipengaruhi tingginya permintaan terhadap dolar AS yang tetap menjadi aset aman di tengah ketidakpastian global.
Kondisi tersebut membuat pergerakan rupiah masih berada pada level yang relatif rentan meskipun sempat menunjukkan penguatan dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.
Baca Juga: Menko Yusril: Kasus Penyadapan Presiden Belum Mengarah ke Makar
Pelaku pasar juga terus mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat, terutama terkait suku bunga dan prospek inflasi.
Sikap bank sentral AS yang masih berhati-hati terhadap pelonggaran kebijakan moneter dinilai menjadi salah satu faktor yang menopang penguatan dolar terhadap berbagai mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di dalam negeri, Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen kebijakan.
Langkah kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan sebelumnya dinilai berhasil meredam tekanan yang sempat mendorong rupiah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni.
Baca Juga: Listyo Sigit Ditahan di Mabes Polri, Kasus Penyadapan HP Presiden Prabowo
Setelah kebijakan tersebut diumumkan, rupiah sempat menunjukkan tren penguatan meskipun volatilitas masih cukup tinggi.
Selain faktor moneter, perkembangan geopolitik dunia juga menjadi perhatian investor. Meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memberikan sentimen positif terhadap pasar keuangan global, namun kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dunia dan ketidakpastian perdagangan internasional masih membayangi pergerakan mata uang di berbagai negara.
Rupiah masih akan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. Arah pergerakan dolar AS, arus modal asing, harga komoditas global, serta respons kebijakan Bank Indonesia akan menjadi faktor utama yang menentukan stabilitas nilai tukar ke depan.
Para pelaku usaha dan investor terus mencermati perkembangan pasar guna mengantisipasi risiko yang muncul akibat gejolak kurs. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic