Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Tekanan Global dan Arus Modal Jadi Sorotan

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Kamis, 4 Juni 2026 - 07:53 WIB

Kamis, 4 Juni 2026 - 07:53 WIB

113 Views ㅤ

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Tekanan Global dan Arus Modal Jadi Sorotan
ilustrasi rupiah melemah di hadapan dolar (foto : x)

Jakarta, MINA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat untuk pertama kalinya menembus level psikologis Rp18.000 pada perdagangan Kamis pagi (4/6), memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap meningkatnya tekanan eksternal dan kondisi ekonomi domestik.

Berdasarkan data pasar, rupiah dibuka di kisaran Rp18.006 per dolar AS atau melemah dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.

Pelemahan mata uang Garuda terjadi di tengah penguatan dolar AS yang masih berlanjut seiring tingginya permintaan terhadap aset aman (safe haven).

Ketidakpastian global, terutama terkait ketegangan geopolitik di Timur Tengah, mendorong investor mengalihkan dana ke instrumen berdenominasi dolar sehingga memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Baca Juga: Semeru Erupsi Dua Kali Hari Ini, Warga Diminta Jauhi Aliran Besuk Kobokan

Sejumlah analis menilai pelemahan rupiah bukan hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga oleh meningkatnya kebutuhan valuta asing untuk pembayaran impor dan kewajiban utang luar negeri.

Di sisi lain, arus keluar modal asing dari pasar keuangan domestik turut mempersempit pasokan dolar di dalam negeri sehingga mempercepat pelemahan nilai tukar.

Bank Indonesia sebelumnya menyatakan terus mencermati perkembangan pasar dan siap melakukan langkah stabilisasi guna menjaga keseimbangan nilai tukar rupiah.

Otoritas moneter juga menilai gejolak global, termasuk konflik geopolitik dan perubahan sentimen investor internasional, menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan rupiah dalam beberapa pekan terakhir.

Baca Juga: Presiden Prabowo Copot Listyo Sigit dari Kepala Staf Kepresidenan Usai Ditetapkan Tersangka Penyadapan

Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor berbagai komoditas dan bahan baku industri yang masih bergantung pada pasokan luar negeri.

Sejumlah pelaku usaha telah mengingatkan bahwa kenaikan kurs dolar dapat berdampak pada biaya produksi, terutama pada sektor pangan, peternakan, energi, dan manufaktur yang banyak menggunakan bahan baku impor.

Meski demikian, sebagian ekonom menilai pelemahan rupiah juga dapat memberikan keuntungan bagi sektor berorientasi ekspor karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.

Namun, mereka mengingatkan bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor dan mengendalikan inflasi di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi. []

Baca Juga: BPOM Ungkap Sejumlah Vape Mengandung Obat Bius Etomidat dan Ketamin

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda