Rusia: AS Mengancam Perdamaian di Timur Tengah

Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia. (Foto: dok. Weapon News)

New York, MINA – Washington memperbesar api konflik di dengan melakukan serangan yang melanggar hukum di Irak, Suriah dan Yaman, kata Perwakilan Tetap Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia.

Rusia telah meminta sidang mendesak Dewan Keamanan PBB setelah melakukan serangan udara di Suriah dan Irak sebagai tanggapan atas serangan pesawat tak berawak terhadap pos militer Amerika di Yordania.

Pengeboman tersebut “sekali lagi menunjukkan sifat agresif  AS di Timur Tengah dan pengabaian terhadap norma-norma hukum internasional,” kata Nebenzia dalam pertemuan DK PBB di New York pada Senin (5/2), rt.com melaporkan.

Diplomat Rusia tersebut berpendapat bahwa AS “menuangkan bensin ke dalam api” dengan melakukan serangan yang menimbulkan “ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan internasional” dan melemahkan “peran sentral PBB.”

Dia menegaskan kembali bahwa pangkalan AS di Suriah adalah “ilegal” karena kehadiran militer Amerika belum mendapat izin dari Pemerintah Suriah.

Saat berpidato di hadapan Dewan Keamanan, Perwakilan Alternatif AS untuk Urusan Politik Khusus Robert Wood mengatakan, serangan tersebut “perlu dan proporsional, sesuai dengan hukum internasional, dan sebagai bentuk pelaksanaan hak yang melekat pada Amerika Serikat untuk membela diri.”

Pada tanggal 28 Januari, sebuah drone kamikaze menghantam pos terdepan AS yang dikenal sebagai Tower 22 dekat perbatasan Yordania-Suriah. Tiga tentara Amerika tewas. Perlawanan Islam di Irak – sebuah kelompok payung bagi paramiliter – mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Gedung Putih menuduh Iran mendalangi serangan terhadap personel AS, tetapi Teheran membantah tuduhan tersebut. Iran bersikeras bahwa milisi bertindak secara independen dan menargetkan tentara AS karena dukungan Washington yang terus berlanjut terhadap Israel selama perang dengan Hamas di Gaza.

AS dan Inggris juga telah menyerang situs-situs Houthi di Yaman sebagai tanggapan atas serangan drone dan rudal Houthi terhadap kapal dagang di Laut Merah dan Teluk Aden. Kelompok Houthi telah berjanji untuk terus menargetkan kapal-kapal tersebut sampai gencatan senjata permanen diumumkan di Gaza. Sementara itu, AS berjanji untuk terus melindungi “kebebasan navigasi yang menjadi landasan perdagangan global di salah satu jalur perairan paling penting di dunia.” (T/RI-1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)