Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ruwa Romman, Cucu Pengungsi Palestina Terpilih di Senat Negara Bagian Georgia AS

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Jumat, 6 November 2026 - 08:31 WIB

Jumat, 6 November 2026 - 08:31 WIB

22 Views ㅤ

Ruwa Romman (ssbcrack)

Georgia, MINA – Di antara gelombang kandidat Muslim yang memenangkan pemilu sela AS 2026, nama Ruwa Romman memiliki bobot yang sangat berbeda.

Romman bukan hanya seorang pendatang baru yang menang, melainkan sebuah keluarga pengungsi Palestina yang, dalam tiga generasi, berjalan dari pengungsian menuju gedung parlemen negara bagian Georgia. Ia sendiri menjadi orang Palestina-Amerika pertama serta perempuan Muslim pertama yang duduk di Senat Negara Bagian Georgia.

Dari Keluarga yang Terusir

Ruwa Romman lahir pada 14 Juni 1993 di Amman, Yordania. Ia adalah cucu dari pengungsi Palestina yang terusir akibat Nakbah 1948. Keluarganya berasal dari desa-desa Palestina yang tidak lagi dapat kembali.

Baca Juga: Hamzah bin Abdul Muthalib: Sayyidus Syuhada yang Gugur di Uhud

Ini bukan sekadar latar belakang biografis, melainkan akar dari seluruh identitas politiknya.

Pada usia 7-8 tahun, Romman pindah bersama keluarganya ke Amerika Serikat dan menetap di Gwinnett County, Georgia.

Keluarganya membuka usaha kecil di sana. Ia tumbuh besar di Forsyth County, daerah yang sangat tidak beragam pada saat itu, dan merupakan salah satu dari sedikit anak non-kulit putih di kelasnya.

Ia pernah diejek karena latar belakangnya, tetapi belajar menghadapi permusuhan melalui dialog, sebuah kualitas yang ia warisi dari ibunya.

Baca Juga: Kisah Sa’id bin ‘Amir, Sahabat Nabi yang Zuhud

Pendidikan dan Karir

Romman menempuh pendidikan sarjana di Oglethorpe University di Georgia, mengambil jurusan ilmu politik, dan lulus pada 2015. Saat kuliah, ia aktif dalam kegiatan mahasiswa, menjabat sebagai ketua asosiasi mahasiswa, dan menerima penghargaan kepemimpinan saat kelulusan.

Pada 2019, ia meraih gelar master dalam kebijakan publik dari McCourt School of Public Policy di Georgetown University, Washington DC.

Sebelum terjun ke politik elektoral, ia bekerja sebagai konsultan senior di Deloitte antara 2019 dan 2022, dan pernah menjabat sebagai direktur komunikasi untuk cabang Georgia dari Council on American-Islamic Relations (CAIR). Ia juga terlibat dalam Georgia Muslim Voter Project, mendorong partisipasi politik komunitas Muslim.

Baca Juga: Al-Miqdad bin Amr Kesatria Berkuda Pertama di Awal Islam

Dari Dewan Perwakilan ke Senat Negara Bagian

Romman pertama kali menulis sejarah pada 2022, ketika ia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Negara Bagian Georgia untuk District 97 dengan 57,7 persen suara. Saat itu ia menjadi perempuan Muslim pertama dan orang Palestina-Amerika pertama yang terpilih ke badan legislatif Georgia. Ia terpilih kembali pada 2024.

Pada September 2025, ia mengumumkan pencalonan diri sebagai gubernur Georgia, menantang kursi yang telah dikuasai Republik selama lebih dari dua dekade. Namun pada Februari 2026, ia mengalihkan pencalonannya ke kursi Senat Negara Bagian District 7 yang lowong, dengan alasan lanskap pendanaan kampanye berubah dan ia ingin membangun infrastruktur politik yang lebih berkelanjutan.

Pada 3 November 2026, Romman memenangkan kursi tersebut dengan sekitar 66 persen suara, mengalahkan kandidat Republik Ayaz Sheikh. Kemenangan ini menjadikannya perempuan Muslim pertama dan orang Palestina-Amerika pertama yang duduk di Senat Negara Bagian Georgia.

Baca Juga: Mu’adz bin Jabal, Sahabat Nabi yang Paling Mengetahui Halal dan Haram

Isu Kampanye: Ekonomi Kerakyatan dan Posisi Palestina yang Tegas

Agenda kampanye Romman sangat konkret: menaikkan upah minimum Georgia yang mandek di $5,15 per jam sejak 1999, memperluas Medicaid, mengambil kembali rumah dari korporasi, mendukung usaha kecil, dan memberi makan anak-anak yang kelaparan.

Ia menolak menerima sumbangan dari korporasi dan kelompok kepentingan khusus. Kritiknya terhadap lawan politiknya tajam, “Mereka memilih koalisi pro-korporasi, pro-genosida, dan pro-supremasi”.

Namun yang membedakannya dari politisi Demokrat arus utama adalah posisinya yang tanpa kompromi terhadap Palestina. Ia menyebut perang Israel di Gaza sebagai genosida, mengkritik bantuan militer dan keuangan AS tanpa syarat kepada Israel, dan menolak segala upaya mengaitkan identitas Palestina dengan terorisme.

Baca Juga: Shuhaib bin Sinan ar-Rumi: Sahabat Nabi yang Rela Kehilangan Harta demi Hijrah

Dalam sebuah wawancara, ia mengatakan, “Menjadi Palestina berarti orang-orang dijamin memiliki seseorang yang akan berjuang untuk mereka dan tidak mundur dari pertarungan, tidak peduli seberapa sulitnya”.

Momen di Tengah Panggung Nasional

Nama Romman mencuat ke panggung nasional pada Agustus 2024, ketika gerakan “Uncommitted” mencalonkannya sebagai pembicara di Konvensi Nasional Demokrat untuk menyuarakan penderitaan Palestina dan perang Gaza. Namun komite penyelenggara menolak memberinya panggung pada saat-saat terakhir, keputusan yang memicu protes dan aksi duduk dari para delegasi.

Pidatonya kemudian diterbitkan oleh Rolling Stone. Momen ini mengungkap ketegangan di dalam Partai Demokrat seputar Gaza, dan Romman menjadi salah satu wajah paling menonjol dari ketegangan tersebut.

Baca Juga: Sa’d bin Abi Waqqash, Panglima Perang Qadisiyah yang Mengguncang Kekaisaran Persia

Satu Kursi, Banyak Makna

Kemenangan Romman bukan sekadar penambahan satu kursi bagi Partai Demokrat di legislatif negara bagian.

Ia adalah cucu pengungsi yang keluarganya terusir dari tanah airnya, yang tumbuh di daerah yang tidak ramah terhadap perbedaan, dan kini duduk di majelis tinggi legislatif negara bagian dengan salah satu populasi Muslim dan imigran yang tumbuh paling cepat di AS.

Dalam konteks pemilu sela 2026, di mana Trump dan sekutunya menjadikan kandidat Muslim sebagai sasaran retorika, kemenangan Romman dengan 66 persen suara adalah jawaban yang tidak dapat dibantah.

Baca Juga: Abdullah bin Umar: Pribadi Tangguh Banyak Meriwayatkan Hadits

Namun perjalanannya belum selesai. Georgia masih diperintah Republik, dan Romman sendiri mengakui bahwa ia mengalihkan pencalonannya dari gubernur ke senat negara bagian, karena ingin memastikan gerakan yang ia bangun tidak bergantung pada satu orang.

“Saya ingin memastikan kita membangun gerakan yang berkelanjutan di luar satu orang dan satu individu,” katanya. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Bilal bin Rabah: Kisah Teguh Sahabat Nabi yang Tetap Mengucapkan “Ahad…Ahad” Saat Disiksa

Rekomendasi untuk Anda