Amman, MINA – Menteri Luar Negeri Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, menegaskan Yerusalem adalah ibu kota Palestina, dan situs-situs sucinya tetap menjadi pilar fundamental untuk mencapai perdamaian yang adil dan abadi di kawasan tersebut.
Ia menyerukan komunitas internasional untuk mengambil langkah-langkah konkret guna menghentikan pelanggaran Israel di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Saudi Gazette melaporkan.
Pangeran Faisal menyampaikan hal itu dalam Pertemuan Menteri yang Mendukung Yerusalem dan Situs Sucinya di ibu kota Yordania, Amman, pada Rabu (5/8).
Pertemuan dihadiri anggota Komite Menteri Arab yang bertugas menggerakkan aksi internasional sebagai respons terhadap tindakan ilegal Israel.
Baca Juga: Presiden Nigeria Tinubu Masuki Ka’bah dan Shalat di Dalamnya
Dalam sambutannya, Pangeran Faisal menyatakan bahwa kota Yerusalem, termasuk Masjid Al-Aqsa, terus menghadapi pelanggaran yang bertujuan mengubah status historis dan hukumnya serta mengikis identitas Arab, Islam, dan Kristen.
Ia menegaskan bahwa semua langkah sepihak Israel, termasuk perluasan pemukiman, penyitaan tanah, penyerangan, dan upaya mengubah status quo historis dan hukum di situs suci, adalah batal dan tidak memiliki keabsahan hukum.
Pangeran Faisal memuji upaya Yordania, di bawah kepemimpinan Raja Abdullah II, dalam menjaga situs suci Islam dan Kristen di Yerusalem serta melestarikan identitas historisnya.
Ia menegaskan kembali penolakan tegas Kerajaan Saudi terhadap segala upaya penyalahgunaan prinsip kebebasan beribadah sebagai dalih untuk memaksakan realitas politik baru atau memperkuat pendudukan di kota suci tersebut.
Baca Juga: Prodi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar Diminati 600 Mahasiswa
Pertemuan kali ini di Amman dihadiri oleh sejumlah menteri luar negeri negara-negara Arab dan Islam, serta perwakilan dari Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Mereka membahas berbagai langkah untuk menghentikan pelanggaran Israel dan melindungi hak-hak rakyat Palestina, terutama di Yerusalem Timur yang diduduki. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Sejak Agustus, 290.000 Warga Yaman Mengungsi Akibat Konflik
















Mina Indonesia
Mina Arabic