Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebotol Parfum untuk Al-Aqsa

Farah Salsabila Editor : Widi Kusnadi - Jumat, 24 Juli 2026 - 17:56 WIB

Jumat, 24 Juli 2026 - 17:56 WIB

28 Views ㅤ

PERJUANGAN membebaskan Baitul Maqdis bukanlah agenda yang lahir pada masa Umar bin Khattab r.a atau Shalahuddin Al-Ayyubi. Jauh sebelum itu, Rasulullah ﷺ telah menanamkan kecintaan kepada Baitul Maqdis di hati para sahabat sejak awal masa kenabian.

Di Makkah, ketika kaum Muslim masih menghadapi berbagai tekanan dan ancaman dari kaum Quraisy, Rasulullah ﷺ sudah memulai pembebasan Baitul Maqdis dengan membina akidah dan membentuk kepribadian para sahabat. Beliau juga memperkenalkan kemuliaan Baitul Maqdis, menceritakan keutamaannya, menyampaikan optimisme dan harapan serta menjadikannya bagian dari visi besar umat Islam.

Pada masa itu, Baitul Maqdis juga merupakan kiblat pertama kaum Muslimin. Setiap hari mereka menghadap ke arahnya ketika menunaikan shalat. Minimal lima kali sehari hati mereka terhubung dengan sebuah negeri yang bahkan mereka belum pernah melihatnya.

Bukankah demikian pula yang kita rasakan terhadap Makkah? Banyak di antara kita belum pernah menginjakkan kaki di sana, tetapi rasa rindu kepada Baitullah begitu kuat karena setiap hari kita menghadap Ka’bah dalam salat. Kedekatan itu lahir dari ilmu, ibadah, dan pengulangan yang terus-menerus.

Baca Juga: 4 Amalan Muslimah yang Membuka Pintu Surga

Begitu pula kecintaan para sahabat kepada Baitul Maqdis. Mereka mencintainya sebelum melihatnya.

Di antara sahabat yang begitu mencintai Baitul Maqdis adalah Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu. Kecintaannya bukan muncul setelah beliau tinggal di sana, melainkan sejak Rasulullah ﷺ menanamkan harapan akan masa depan negeri yang diberkahi itu.

Di antara riwayat yang dinukil dalam Al-Mu’jam al-Kabir karya ath-Thabarani disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah menenangkan Syaddad bin Aus yang merasa sempit melihat keadaan umat. Beliau mengabarkan bahwa Syam dan Baitul Maqdis akan ditaklukkan, bahkan Syaddad dan keturunannya akan menjadi pemimpin di sana. Riwayat ini masyhur di kalangan penulis tentang Baitul Maqdis, meskipun sanadnya dinilai lemah oleh para ahli hadis karena terdapat beberapa perawi yang tidak dikenal.

Semangat itulah yang hidup di hati Syaddad bin Aus. Setelah penaklukan Syam pada masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau memilih menetap di Baitul Maqdis. Di sanalah beliau mengajarkan hadis-hadis Rasulullah ﷺ kepada generasi setelahnya hingga wafat dan dimakamkan di tanah yang sejak lama beliau rindukan.

Baca Juga: Belajar Tidak Harus Berhenti Meski Sudah Berkeluarga

Kisah Syaddad bin Aus mengajarkan bahwa harapan yang ditanamkan Rasulullah ﷺ tidak berhenti sebagai wacana. Harapan itu melahirkan generasi yang mengabdikan hidupnya untuk menjaga, membangun, dan menghidupkan Baitul Maqdis dengan ilmu dan amal.

Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, pembicaraan tentang Baitul Maqdis semakin sering disampaikan dan menjadi pembicaraan yang viral di kalangan sahabat. Para sahabat memahami bahwa negeri itu memiliki kedudukan istimewa dalam Islam.

Di tengah suasana itulah, seorang perempuan bernama Maimunah, yang dikenal sebagai pelayan Rasulullah ﷺ, langsung menghadap Rasulullah ﷺ meminta diberitahukan tentang Baitul Maqdis dan bertanya kepada beliau tentang apa yang dapat dilakukan apabila tidak mampu mendatanginya.

Rasulullah ﷺ menjawab: “Kirimkanlah minyak untuk menerangi lampu-lampunya. Barang siapa mengirimkan minyak untuk itu, maka seolah-olah ia telah mendatanginya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah dengan beberapa jalur riwayat.)

Baca Juga: Mitos Bantuan untuk Wanita Bercerai pada Era Genosida Israel di Gaza

Jawaban Rasulullah ﷺ mengajarkan satu pelajaran penting, yaitu setiap orang memiliki kesempatan berkontribusi sesuai kemampuan. Tidak semua harus berada di medan perjuangan. Bahkan mengirimkan minyak untuk menerangi Masjid Al-Aqsa pun dinilai sebagai amal yang besar.

Berabad-abad kemudian, beredar sebuah kisah yang populer di kalangan para dai dan pegiat pembebasan Al-Aqsa. Hadits Maemunah sampai kepada sebuah masyarakat dan menginspirasi mereka. Dikisahkan bahwa perempuan-perempuan di Diyarbakir, wilayah yang dikenal sebagai penghasil mawar. Kisah ini terjadi pada zaman Shalahuddin Al-Ayyubi.

Para perempuan di desa tersebut mengetahui bahwa Shalahuddin al-Ayyubi dan tentaranya sedang mempersiapkan untuk pembebasan Baitul Maqdis dari tentara salib. Namun, mereka menyadari bahwa mereka tidak dapat mengangkat senjata bersama pasukan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Namun mereka tidak ingin hanya menjadi penonton sejarah. Mereka menanam mawar, mengolahnya menjadi minyak wangi, lalu menyimpannya dengan harapan suatu hari nanti parfum itu akan digunakan untuk membersihkan dan mengharumkan Masjid Al-Aqsa setelah Allah menganugerahkan kemenangan kepada kaum Muslimin.

Baca Juga: Benarkah Ibu Hamil Baca Surah Yusuf Bayinya Jadi Tampan?

Terlepas dari kuat atau tidaknya riwayat sejarah tersebut, kisah ini menyampaikan sebuah pesan yang sangat indah, orang-orang besar tidak hanya mempersiapkan diri untuk menghadapi perjuangan, tetapi juga mempersiapkan diri untuk menyambut kemenangan.

Apa yang Dapat Kita Pelajari?

Pertama, perjuangan dimulai dari ilmu yang melahirkan cinta.

Rasulullah ﷺ tidak langsung mengirim pasukan untuk membebaskan Baitul Maqdis. Beliau terlebih dahulu membangun keimanan, memperkenalkan keutamaan negeri itu, lalu menumbuhkan kecintaan para sahabat kepadanya. Mustahil seseorang memperjuangkan sesuatu yang tidak ia kenal dan tidak ia cintai.

Baca Juga: Hari ASI Sedunia 2026: Fakta Penting yang Perlu Diketahui Setiap Orang Tua

Karena itu, mengenalkan sejarah Baitul Maqdis kepada keluarga, murid, dan masyarakat bukanlah pekerjaan sampingan. Itulah salah satu fondasi perjuangan.

Kedua, perjuangan membutuhkan harapan.

Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan tentang kemuliaan Baitul Maqdis, tetapi juga menanamkan keyakinan bahwa janji Allah pasti akan datang. Harapan itulah yang membuat Syaddad bin Aus memilih menghabiskan hidupnya di Baitul Maqdis. Harapan pula yang, menurut kisah yang masyhur, mendorong perempuan-perempuan Diyarbakir menyiapkan parfum untuk kemenangan yang bahkan belum mereka saksikan.

Sampaikanlah harapan-harapan dan optimisme dalam perjuangan ini. Bukan ketakutan-ketakutan dan pesimisme karena melihat musuh yang besar. Kemenangan adalah janji Allah. Mulailah beramal untuk menjemput janji tersebut.

Baca Juga: Hentikan Kebiasaan Ini Agar Perkembangan Sensorik Anak Berkembang Lebih Optimal!

Ketiga, setiap orang memiliki peran.

Maimunah bertanya tentang minyak. Perempuan-perempuan Diyarbakir menyiapkan parfum. Keduanya menunjukkan bahwa kontribusi tidak selalu berbentuk peperangan atau kepemimpinan. Allah menilai keikhlasan dan kesungguhan, bukan besar atau kecilnya peran.

Hari ini pun demikian.

Jika Anda seorang ibu, didiklah anak-anak agar mencintai Islam dan Baitul Maqdis.

Baca Juga: Siapa Bilang IRT Enggak Bisa Punya Penghasilan Sendiri? Ini Rahasia Financial Freedom dari Rumah!

Jika Anda seorang guru, tanamkan ilmu dan kepedulian kepada Baitul Maqdis kepada murid-murid.

Jika Anda seorang petani, hasilkan pangan yang baik untuk membangun generasi Islam yang kuat.

Jika Anda seorang penulis, jurnalis, atau pembuat konten, sebarkan ilmu, harapan, dan optimisme tentang Baitul Maqdis dan kemenangannya.

Jika Allah menganugerahkan harta kepada Anda, jadikan ia sebagai sarana untuk menguatkan dakwah dan perjuangan umat.

Baca Juga: Artis Berhijab, Hijrah yang Menggugah

Apa pun profesi dan posisi kita hari ini, selalu ada ruang untuk berkontribusi.

Barangkali kita bukan generasi yang Allah takdirkan menyaksikan pembebasan Al-Aqsa. Namun semoga Allah mencatat kita sebagai orang-orang yang ikut mempersiapkan kemenangan itu, dengan ilmu yang kita ajarkan, doa yang kita panjatkan, harta yang kita infakkan, generasi yang kita didik, “minyak” yang kita kirimkan, dan “parfum” terbaik yang kita persembahkan.

Sebab kelak, mungkin Allah tidak bertanya apakah kita hidup ketika Al-Aqsa dibebaskan. Namun Dia akan bertanya, apa yang telah kita lakukan untuk agama-Nya ketika Al-Aqsa masih berada dalam penjajahan.

Semoga Allah menjadikan kita bagian dari mata rantai panjang perjuangan itu, meskipun hanya dengan amal yang tampak kecil di mata manusia, tetapi mudah-mudahan mulia dan besar nilainya di sisi-Nya. []

Baca Juga: Hal-Hal Menakjubkan Seputar Menyusui yang Wajib Ayah dan Bunda Ketahui

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda