ADA keyakinan yang cukup populer di tengah masyarakat: ibu hamil dianjurkan membaca Surat Yusuf agar kelak anak yang dilahirkan memiliki wajah tampan seperti Nabi Yusuf ‘alaihissalam.
Keyakinan ini terdengar indah, terlebih Nabi Yusuf memang dikenal memiliki rupa yang sangat menawan. Namun, benarkah membaca Surat Yusuf ketika hamil dapat membuat bayi lahir tampan?
Jawabannya perlu ditempatkan secara proporsional. Tidak terdapat dalil Al-Qur’an maupun hadis sahih yang secara khusus menyebutkan bahwa membaca Surat Yusuf bagi ibu hamil akan membuat bayi memiliki paras seperti Nabi Yusuf.
Karena itu, keyakinan tersebut tidak tepat jika dianggap sebagai ketentuan agama atau khasiat yang pasti. Namun, membaca Al-Qur’an tetap merupakan ibadah yang sangat mulia, dan memberikan keutamaan khusus pada para pembacanya.
Baca Juga: 4 Amalan Muslimah yang Membuka Pintu Surga
Dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Ibnu Katsir ketika menjelaskan Surat Yusuf ayat 3 menerangkan bahwa kisah Nabi Yusuf disebut sebagai ahsanal-qashash—sebaik-baik kisah—karena di dalamnya terkandung pelajaran dan hikmah yang sangat besar.
Demikian pula Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an menjelaskan keluasan pelajaran yang terkandung dalam kisah tersebut, mulai dari kesabaran, ketakwaan, menjaga kehormatan diri, hingga bagaimana Allah memberikan jalan keluar setelah berbagai ujian.
Dengan demikian, membaca Surat Yusuf selama masa kehamilan tetap merupakan aktivitas yang baik apabila diniatkan untuk membaca dan mentadaburi Al-Qur’an.
Hal yang perlu dihindari adalah meyakini bahwa surat tersebut memiliki khasiat khusus untuk mengubah fisik bayi tanpa dasar syariat. Prinsip ini penting agar kecintaan kepada Al-Qur’an tidak bercampur dengan keyakinan yang tidak memiliki landasan.
Baca Juga: Belajar Tidak Harus Berhenti Meski Sudah Berkeluarga
Justru di sinilah terdapat pesan yang jauh lebih indah bagi seorang ibu. Surat Yusuf bukan hanya bercerita tentang seorang nabi yang memiliki rupa rupawan.
Kisahnya adalah perjalanan panjang seorang manusia pilihan yang diuji sejak kecil: dibuang oleh saudara-saudaranya, dijual sebagai budak, digoda oleh perempuan penguasa, dipenjara tanpa kesalahan, kemudian mendapatkan kedudukan tinggi. Dalam setiap fase itu, Yusuf menunjukkan iman, kesabaran dan keteguhan menjaga kehormatan.
Allah Ta’ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
Baca Juga: Mitos Bantuan untuk Wanita Bercerai pada Era Genosida Israel di Gaza
“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf: 111).
Ayat ini seakan mengarahkan perhatian kita bahwa kisah para nabi tidak berhenti pada cerita, tetapi harus melahirkan ‘ibrah atau pelajaran. Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman juga menekankan berbagai hikmah pendidikan dalam kisah Yusuf, termasuk kesabaran dalam menghadapi ujian, ketakwaan, serta keyakinan bahwa pertolongan Allah akan datang pada waktunya.
Memang, seorang ibu tentu boleh berdoa agar anaknya lahir sehat, rupawan dan sempurna. Itu merupakan harapan manusiawi. Tetapi doa seorang ibu semestinya tidak berhenti pada bentuk fisik. Ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar wajah yang enak dipandang: hati yang bersih, akhlak yang mulia dan iman yang kokoh.
Sebab, ketampanan tidak menjamin seseorang memiliki kehidupan yang baik. Wajah yang indah tidak otomatis melahirkan pribadi yang jujur. Sebaliknya, seseorang yang secara fisik biasa saja dapat menjadi manusia yang sangat mulia karena ilmu, iman dan akhlaknya.
Baca Juga: Hari ASI Sedunia 2026: Fakta Penting yang Perlu Diketahui Setiap Orang Tua
Maka, jika seorang ibu ingin membaca Surat Yusuf selama kehamilan, alangkah indah jika niatnya diperluas. Bukan sekadar berharap anak memiliki “wajah Yusuf”, tetapi berharap ia memiliki keteguhan hati Yusuf ketika menghadapi ujian, kesucian Yusuf ketika berhadapan dengan godaan, kesabaran Yusuf ketika dizalimi, dan kelapangan hati Yusuf ketika memiliki kesempatan untuk membalas. Bukankah itu jauh lebih berharga?
Pada akhirnya, Al-Qur’an bukanlah jimat untuk memperoleh rupa tertentu. Al-Qur’an adalah petunjuk kehidupan. Ia dibaca untuk menerangi hati, memperbaiki akhlak dan mendekatkan manusia kepada Allah.
Karena itu, bagi seorang ibu yang sedang menanti kelahiran buah hati, membaca Surat Yusuf dapat menjadi momentum untuk memperbanyak doa dan menanamkan harapan terbaik: semoga Allah menghadirkan generasi yang bukan hanya indah wajahnya, tetapi juga indah hatinya; bukan hanya menyenangkan dipandang, tetapi juga menenangkan ketika berada di dekatnya.
Mungkin kita tidak dapat mewariskan ketampanan Nabi Yusuf kepada anak-anak kita. Namun, kita dapat berusaha mewariskan nilai-nilai Yusuf melalui pendidikan, keteladanan, doa dan lingkungan keluarga yang baik. Itulah makna yang lebih dalam dari membaca kisah Yusuf: bukan mencari wajahnya, tetapi belajar meneladani akhlaknya. []
Baca Juga: Hentikan Kebiasaan Ini Agar Perkembangan Sensorik Anak Berkembang Lebih Optimal!
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic