Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sujud Syukur Yasin Ayari, Gol Perdana Timnas Swedia di Piala Dunia

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Selasa, 16 Juni 2026 - 00:16 WIB

Selasa, 16 Juni 2026 - 00:16 WIB

265 Views ㅤ

Yasin Ayari, pemain Timnas Sepakbola Swedia, memilih sujud syukur sebagai selebrasi setelah mencetak gol di Piala Dunia 2026. (Fanzword)

Monterrey, MINA – Debut Piala Dunia adalah mimpi besar bagi setiap pesepak bola. Namun bagi Yasin Ayari, pemain muda berusia 22 tahun asal Swedia, debutnya di Piala Dunia 2026 terasa lebih Istimewa, bukan hanya karena gol, tetapi karena pilihan hati dan identitas yang ia bawa sejak lahir.

Dalam pertandingan Grup H di Monterrey, hanya tujuh menit berlalu, Ayari melesakkan tendangan voli spektakuler ke pojok atas gawang Tunisia.

Gol pembuka itu seharusnya disambut dengan selebrasi meriah. Namun Ayari memilih hal lain, ia mengangkat kedua tangannya, lalu bersujud Syukur, menempelkan kening ke rumput hijau stadion.

Selebrasi itu bukan tanpa makna. Sujud adalah ungkapan syukur kepada Allah. Dan di balik gol itu, ada kisah keluarga, migrasi, dan kecintaan yang melintasi batas negara.

Baca Juga: Pink Spiders vs Red Sparks: 3-0, Set Kedua Menegangkan

Darah Tunisia, Hati Swedia

Yasin Ayari lahir di Swedia dari seorang ayah Tunisia dan ibu Maroko. Darah Afrika Utara mengalir kuat dalam dirinya. Namun ia tumbuh besar di tanah Skandinavia, di kota Solna, tempat ia mulai bermain sepak bola sejak usia tujuh tahun.

Pada usia 18 tahun, Ayari dihadapkan pada pilihan besar: membela Tunisia (negara asal ayahnya) atau Swedia (negara kelahirannya). Ia memilih Swedia. Sang ayah, Azzouz Ayari, mendukung sepenuhnya.

“Saya ingin dia bermain untuk Swedia. Dia harus merasa seperti dia memberi kembali kepada negara yang merawatnya,” ujar Sang Ayah kala itu.

Baca Juga: Melbourne Victory vs Persib : 1-2, Maung Bandung Lolos ke Babak Gugur

Tawaran dari tim nasional Tunisia datang. Namun baik ayah maupun anak tidak pernah menganggapnya sebagai opsi yang serius. Hati Ayari telah bulat, ia akan mengibarkan bendera kuning dan biru.

Perjalanan Menuju Panggung Dunia

Ayari memulai karir sepak bolanya di klub kampung halamannya, Rasunda (Solna), sebelum bergabung dengan raksasa Skandinavia, AIK.

Debut seniornya bersama AIK terjadi pada tahun 2020, saat usianya masih 17 tahun. Tiga tahun kemudian, ia direkrut oleh klub Liga Premier Inggris Brighton & Hove Albion, dan pada tahun yang sama, ia memulai debutnya bersama tim nasional Swedia.

Baca Juga: Melbourne Victory vs Persib Bandung: Babak Pertama 0-0

Menjelaskan pilihannya untuk tidak mewakili Tunisia, Ayari mengatakan bahwa keputusan itu terasa wajar karena ia tumbuh dan bermain sepak bola sejak kecil di Swedia.

Bertemu Tunisia di Piala Dunia

Ketika undian Piala Dunia 2026 diumumkan pada bulan Desember lalu, Ayari tersenyum kecut. Swedia tergabung dalam satu grup dengan Tunisia, negara asal ayahnya.

“Sungguh gila bahwa kami berakhir dengan mereka di grup kami,” katanya.

Baca Juga: Setelah Megawati Hangestri Kalah, Giliran Red Sparks Lakoni Laga Perdana V-League 2026/27

Ironi itu berubah menjadi panggung pertunjukan. Di stadion yang sama, Ayari menjadi bintang lapangan. Ia tidak hanya mencetak gol pembuka dengan tendangan voli yang brilian, tetapi juga menutup kemenangan telak Swedia dengan gol individu pada menit ke-95 sisa injury time.

Sepak Bola, Identitas, dan Keyakinan

Kisah Yasin Ayari lebih dari sekadar olahraga. Ia adalah representasi dari generasi muda diaspora Muslim di Eropa yang harus bergulat dengan dua identitas sekaligus. Namun pilihannya bukanlah penolakan terhadap darah Tunisia, melainkan bentuk terima kasih kepada tanah yang membesarkannya.

Dan yang paling membedakan: di era di mana para pesepak bola sering merayakan gol dengan tarian atau selebrasi yang telah diatur, Ayari memilih bersujud. Sebuah pengakuan bahwa di atas talenta dan kerja keras, ada Kuasa Tuhan yang mengatur segalanya.

Baca Juga: Galatasaray vs VfB Stuttgart: 2-0 Babak Pertama, Aleksey Batrakov Brace dalam 3 Menit

Dua gol, sujud syukur, dan kemenangan gemilang, Yasin Ayari tidak hanya memenangkan pertandingan, tetapi juga hati banyak orang yang melihat sepak bola bukan hanya sebagai permainan, tetapi sebagai perjalanan spiritual dan emosional. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Megawati Hangestri Tampil Buruk, IBK Altos Tekuk Hyundai Hillstate 3-0

Rekomendasi untuk Anda

Internasional
Khadijah
Hikmah