TANAH mulai merekah. Rumput menguning. Pepohonan pun mengering. Sawah yang dahulu menghijau kini berubah menjadi hamparan tanah kering yang menunggu setetes air.
Sumur-sumur mulai surut, sungai menyusut, dan sebagian warga harus berjalan lebih jauh untuk mendapatkan air bersih.
Langit membentang luas, tetapi hujan tak kunjung datang.
Hari demi hari berlalu. Awan datang dan pergi. Matahari menyengat tanpa banyak jeda. Para petani memandang sawahnya dengan kecemasan. Peternak mulai kesulitan menyediakan air bagi hewan ternaknya. Ibu-ibu semakin cermat mengatur persediaan air untuk kebutuhan keluarga.
Baca Juga: Sesama Muslim Bersaudara: Merawat Ukhuwah, Membela yang Tertindas
Air yang selama ini mengalir begitu biasa, perlahan terasa sebagai nikmat yang luar biasa. Ditambah asap tebal akibat terbakarnya hutan.
Ketika kemarau memanjang, kita mulai memahami betapa berharganya seteguk air.
Segelas air putih yang dahulu terasa biasa, kini terasa begitu berarti. Setetes air yang jatuh di tanah kering seolah menjadi kabar gembira. Hujan yang dahulu hanya kita nikmati dari balik jendela, kini menjadi sesuatu yang sangat kita rindukan.
Di tengah keadaan seperti inilah, umat Islam diajak untuk kembali merenungkan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Baca Juga: Bersyukur Tak Bertapi, Bersabar Tak Bertepi
Ketika bumi merindukan hujan, saatnya kita bukan hanya menengadah ke langit, tetapi juga menundukkan hati kepada Allah.
Salah satu ikhtiar yang disyariatkan adalah melaksanakan Shalat Istisqa, shalat untuk memohon kepada Allah agar menurunkan hujan.
Bukan Sekadar Memohon Hujan
Istisqa berarti memohon agar Allah memberikan air atau menurunkan hujan. Dalam syariat Islam, Shalat Istisqa merupakan ibadah yang dilakukan ketika manusia membutuhkan hujan akibat kekeringan.
Baca Juga: Membaca Ulang Resolusi Jihad dan Makna Hari Santri Nasional
Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam pernah melaksanakan Shalat Istisqa dan berdoa kepada Allah agar menurunkan hujan bagi umatnya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.’” (QS. Nuh: 10–11).
Baca Juga: Alhamdulillah di Ufuk Pagi: Mensyukuri Terbukanya Mata
Ayat ini mengingatkan kita tentang keutamaan istighfar dan pentingnya kembali kepada Allah. Dalam kisah Nabi Nuh, ‘Alaihisslam permohonan ampun kepada Allah disebutkan bersama janji turunnya hujan dan berbagai karunia lainnya.
Maka, ketika kemarau melanda, Shalat Istisqa bukan hanya tentang berkumpulnya orang-orang di lapangan untuk meminta hujan. Ia juga menjadi kesempatan untuk memperbarui hubungan kita dengan Allah, memperbanyak istighfar, memperbaiki diri, dan menyadari betapa terbatasnya kemampuan manusia.
Kita boleh memiliki teknologi modern. Kita boleh membangun bendungan, membuat saluran irigasi, mengembangkan teknologi pengolahan air, dan menyusun berbagai strategi menghadapi kekeringan. Semua itu merupakan ikhtiar yang penting.
Namun, sebagai seorang muslim, kita juga meyakini bahwa di balik segala ikhtiar tersebut, ada kekuasaan Allah yang meliputi seluruh alam semesta.
Baca Juga: Pentingnya Tabayun dan Relevansinya di Era Digital
Kita berusaha di bumi, sekaligus berdoa kepada Zat yang menguasai langit dan bumi.
Saatnya Memperbanyak Istighfar dan Taubat
Musim kemarau hendaknya tidak hanya membuat kita sibuk menghitung persediaan air, tetapi juga mengajak kita menghitung kembali perjalanan hidup.
Sudah berapa banyak nikmat Allah yang kita terima tanpa rasa syukur?
Baca Juga: Rizky Ridho Selebrasi dengan Sujud Syukur, Ini Maknanya dalam Islam
Sudah berapa banyak air yang kita gunakan secara berlebihan? Sudahkah kita menjaga sungai dari sampah dan pencemaran? Sudahkah kita menggunakan air seperlunya? Sudahkah kita memperhatikan tetangga yang kesulitan mendapatkan air bersih?
Dan yang lebih penting, sudahkah kita memperbaiki hubungan dengan Allah?
Istighfar bukan sekadar ucapan yang berulang di lisan. Istighfar adalah pengakuan bahwa kita memiliki kekurangan dan membutuhkan ampunan Allah. Taubat bukan hanya penyesalan sesaat, melainkan kesungguhan untuk meninggalkan dosa, memperbaiki kesalahan, dan kembali menempuh jalan yang diridai-Nya.
Mari kita basahi lisan dengan ucapan:
Baca Juga: 2 Oktober 1187: Ketika Panglima Shalahuddin Membebaskan Masjid Al-Aqsa
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung dan bertobat kepada-Nya.”
Ucapkan dengan hati yang hadir. Resapi maknanya. Sertai dengan tekad memperbaiki diri.
Namun, kita juga perlu memahami bahwa kemarau tidak boleh dijadikan alasan untuk menuduh orang lain sebagai penyebab murka Allah. Kekeringan dapat terjadi karena beragam faktor alam dan lingkungan. Kita tidak mengetahui secara pasti hikmah khusus di balik setiap peristiwa.
Baca Juga: Seruan untuk Menjaga Planet dan Taubat Global Untuk Lingkungan Hidup
Karena itu, jangan sibuk menghakimi. Mari melakukan introspeksi tanpa merasa paling suci, memperbaiki diri tanpa merendahkan orang lain, dan mengajak sesama kembali kepada Allah dengan kasih sayang.
Istighfar bukan senjata untuk menyalahkan orang lain, melainkan jalan untuk memperbaiki diri sendiri.
Hujan Adalah Rahmat, Air Adalah Amanah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Baca Juga: Doa Menyambut Turunnya Hujan yang Membasahi Bumi
وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ
“Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya.” (QS. Asy-Syura: 28).
Betapa indah pesan ayat ini. Hujan yang turun setelah manusia dilanda keputusasaan disebut sebagai rahmat Allah.
Tetesan hujan bukan sekadar air yang jatuh dari awan. Ia menghidupkan tanah, membantu tanaman tumbuh, mengisi sumber-sumber air, dan menopang kehidupan berbagai makhluk.
Baca Juga: Ketika Bulan Sabit dan Venus Berdampingan di Ufuk Barat
Ketika hujan turun, benih yang tertanam memperoleh kesempatan untuk tumbuh. Pepohonan mendapatkan air untuk bertahan. Petani kembali memiliki harapan untuk mengolah sawahnya. Kehidupan yang sempat tertekan oleh kekeringan perlahan memperoleh kesempatan untuk pulih.
Namun, memohon hujan harus berjalan bersama kesadaran untuk menjaga air.
Jangan sampai kita berdoa memohon hujan, tetapi setelah hujan turun, kita kembali membuang sampah ke sungai. Jangan sampai kita meminta air yang melimpah, tetapi menggunakannya dengan boros. Jangan sampai kita memohon kesuburan tanah, tetapi membiarkan lingkungan rusak karena kelalaian kita.
Islam mengajarkan keseimbangan: berdoa kepada Allah, berikhtiar dengan sungguh-sungguh, dan menjaga amanah yang telah diberikan-Nya.
Menghemat air, melindungi mata air, merawat pepohonan, menjaga kebersihan sungai, serta membantu warga yang kesulitan memperoleh air merupakan bagian dari tanggung jawab kita terhadap kehidupan.
Jangan hanya menunggu langit mencurahkan air. Mari menjaga bumi agar air yang tersedia tidak terbuang sia-sia.
Jangan Menunggu Sampai Sulit untuk Bersyukur?
Ada pelajaran yang terasa getir dari musim kemarau: manusia sering baru menyadari nilai sebuah nikmat setelah nikmat itu berkurang.
Ketika air tersedia, kita jarang memikirkannya. Ketika air mulai langka, barulah kita menghitung setiap ember. Ketika sumur masih penuh, kita mungkin lupa bersyukur. Ketika sumur menyusut, barulah kita memahami betapa berharganya air.
Begitu pula dengan kesehatan, waktu, keluarga, dan kesempatan beribadah.
Kita sering baru merindukan kesehatan setelah tubuh sakit. Baru menghargai waktu setelah kesempatan berlalu. Baru merasakan arti kehadiran seseorang setelah ia tiada.
Padahal, orang beriman semestinya belajar bersyukur sebelum kehilangan, bukan hanya setelah ditimpa kesulitan.
Allah berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7).
Maka, kemarau seharusnya tidak hanya menjadi musim untuk menanti hujan. Ia juga dapat menjadi musim untuk menumbuhkan kesadaran, memperkuat solidaritas, dan memperbaiki kebiasaan.
Ketika air terbatas, jangan berebut hingga menyakiti sesama. Ketika tetangga membutuhkan, bantulah sesuai kemampuan. Ketika ada warga yang kesulitan membeli air bersih, ulurkan pertolongan. Ketika pemerintah dan masyarakat membangun penampungan air atau memperbaiki sumber air, dukunglah upaya yang bermanfaat.
Sebab, keimanan tidak hanya tampak dalam panjangnya doa, tetapi juga dalam kepedulian kepada sesama.
Menengadah ke Langit, Menjejakkan Kaki di Bumi
Shalat Istisqa mengajarkan bahwa manusia tidak boleh sombong di hadapan alam dan tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah.
Kita menengadah ke langit, memohon hujan dengan penuh harap. Kita merendahkan diri, mengakui keterbatasan, dan memohon agar Allah memberikan pertolongan-Nya.
Pada saat yang sama, kita tetap menjejakkan kaki di bumi: memperbaiki saluran air, merawat sumber mata air, menghemat penggunaan air, menjaga lingkungan, dan membantu orang-orang yang membutuhkan.
Jangan mempertentangkan doa dengan usaha. Jangan pula menganggap usaha manusia membuat kita tidak lagi membutuhkan pertolongan Allah.
Keduanya berjalan bersama.
Ketika kemarau panjang melanda, masyarakat, tokoh agama, pemerintah, petani, dan seluruh elemen bangsa dapat mengambil peran masing-masing. Ulama mengajak umat memperbanyak istighfar dan melaksanakan shalat istisqa sesuai tuntunan syariat. Para petani mengupayakan pengelolaan air yang sesuai kondisi. Pemerintah dan masyarakat memperkuat penyediaan air bersih. Setiap keluarga berusaha menghemat penggunaan air.
Semua ikhtiar itu dapat menjadi bagian dari ikhtiar bersama menghadapi kekeringan.
Dan di tengah segala usaha tersebut, jangan pernah lelah mengetuk pintu rahmat Allah.
Untuk itu, ketika kemarau semakin terasa dan kebutuhan air semakin mendesak, marilah kita menghidupkan ikhtiar yang diajarkan Rasulullah Shallallahun ’Alaihi Wasallam dengan melaksanakan shalat istisqa sesuai tuntunan syariat.
Ajak keluarga, tetangga, jamaah masjid, dan masyarakat untuk mempersiapkan pelaksanaannya melalui koordinasi dengan ulama, imam, serta pihak setempat.
Perbanyak istighfar. Laksanakan taubat dengan sungguh-sungguh. Perbaiki hubungan antarsesama. Tinggalkan kebiasaan boros air. Ringankan beban orang-orang yang sedang kesulitan.
Shalat istisqa pada dasarnya merupakan shalat sunah yang dilaksanakan untuk memohon hujan. Pelaksanaannya mengikuti tuntunan fikih, termasuk tata cara shalat dan doa yang diajarkan dalam riwayat-riwayat Nabi Shallallahun ’Alaihi Wasallam.
Kita datang bukan dengan kesombongan, melainkan dengan kerendahan hati. Bukan dengan keyakinan bahwa diri kita paling saleh, melainkan dengan kesadaran bahwa kita semua membutuhkan rahmat Allah.
Kita membawa harapan, mengakui kekurangan, dan memohon agar Allah memberikan hujan yang bermanfaat, mencukupi kebutuhan manusia, menyuburkan tanah, serta menjaga kehidupan.
Penutup
Ketika sumur menyusut, jangan biarkan kepedulian kita ikut surut.
Ketika hujan belum turun, jangan biarkan harapan kita kepada Allah menjadi padam.
Mari basahi lisan dengan istighfar. Basahi hati dengan taubat. Basahi kehidupan dengan amal saleh dan kepedulian kepada sesama.
Kita memohon kepada Allah agar kemarau ini segera berlalu, agar para petani kembali dapat mengolah sawahnya, agar sumber-sumber air terisi, agar keluarga-keluarga memperoleh air bersih yang cukup, dan agar seluruh makhluk mendapatkan rahmat-Nya.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menerima taubat kita, melimpahkan rahmat-Nya, dan menurunkan hujan yang membawa manfaat, bukan bencana. Aamiin. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic