Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rizky Ridho Selebrasi dengan Sujud Syukur, Ini Maknanya dalam Islam

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Selasa, 6 Oktober 2026 - 10:22 WIB

Selasa, 6 Oktober 2026 - 10:22 WIB

55 Views ㅤ

Pemain timnas Rizky Ridho melakukan selebrasi dengan sujud Syukur (foto: IG/ Rizkyridho)

ADA pemandangan yang berbeda di tengah pesta kemenangan Timnas Indonesia atas Thailand pada final FIFA ASEAN Cup 2026. Ketika rekan-rekannya larut dalam pelukan dan kegembiraan, Rizky Ridho justru menundukkan diri. Ia meletakkan dahinya ke rumput Stadion Utama Gelora Bung Karno dan melakukan sujud syukur.

Momen itu terjadi setelah Indonesia memastikan gelar juara melalui drama adu penalti 4-2, setelah pertandingan berakhir 2-2 hingga perpanjangan waktu. Kemenangan tersebut menjadi sejarah karena Indonesia meraih gelar juara pada edisi perdana FIFA ASEAN Cup.

Bagi seorang Muslim, sujud Ridho bukan sekadar bentuk selebrasi kemenangan. Ia dapat dimaknai sebagai pengakuan bahwa di balik kerja keras manusia, ada pertolongan dan kehendak Allah Ta’ala.

Kemenangan tidak semestinya membuat seorang hamba semakin tinggi hati, tetapi justru semakin merendahkan diri di hadapan Penciptanya.

Baca Juga: Sesama Muslim Bersaudara: Merawat Ukhuwah, Membela yang Tertindas

Syukur yang Diterjemahkan dalam Sujud

Al-Qur’an berkali-kali mengajarkan manusia untuk bersyukur atas nikmat Allah. Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat berat.”

Ayat ini menunjukkan bahwa syukur bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah”. Al-Ghazali menjelaskan, syukur harus lahir dari hati yang mengakui nikmat berasal dari Allah, lisan yang memuji-Nya, dan anggota badan yang menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan. Karena itu, sujud dapat menjadi simbol paling kuat dari kerendahan hati seorang hamba.

Baca Juga: Bersyukur Tak Bertapi, Bersabar Tak Bertepi

Adapun dasar yang secara khusus menjelaskan sujud syukur terdapat dalam hadits Abu Bakrah RA. Ia meriwayatkan bahwa apabila Rasulullah SAW memperoleh sesuatu yang menggembirakan atau mendapat kabar gembira, beliau “خر ساجدا شاكرا لله”, yakni tersungkur dalam keadaan sujud sebagai ungkapan syukur kepada Allah.

Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Albani; Imam at-Tirmidzi juga meriwayatkannya dan menjelaskan bahwa praktik sujud syukur diamalkan oleh mayoritas ulama.

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW juga pernah melakukan sujud sebagai ungkapan syukur ketika memperoleh kabar yang menggembirakan. Riwayat tentang Ali bin Abi Thalib RA yang mengabarkan masuk Islamnya penduduk Yaman juga menjadi salah satu dasar pembahasan para ulama mengenai sujud syukur. Demikian pula riwayat Abdurrahman bin Auf RA tentang Rasulullah SAW yang bersujud setelah mendapat kabar dari Malaikat Jibril.

Para ulama kemudian menjelaskan bahwa sujud syukur dilakukan ketika seseorang memperoleh nikmat besar, mendapat kabar gembira, atau terhindar dari suatu musibah.

Baca Juga: Membaca Ulang Resolusi Jihad dan Makna Hari Santri Nasional

Sujud syukur sebagai bentuk spontanitas seorang Muslim ketika memperoleh nikmat yang menggembirakan. Adapun tata caranya terdapat perbedaan pendapat ulama, terutama mengenai wudhu, menghadap kiblat, takbir dan salam.

Hal yang terpenting dari sujud itu bukan semata-mata gerakan tubuh, melainkan pesan batinnya: “Ya Allah, kemenangan ini bukan semata-mata karena kekuatanku.”

Seorang atlet boleh bekerja keras, pelatih boleh menyusun strategi, tim boleh berjuang selama 120 menit dan penjaga gawang boleh menggagalkan penalti. Namun seorang Muslim tetap menyadari bahwa segala kemampuan itu pada akhirnya adalah karunia Allah.

Dari Kemenangan Menuju Ketundukan

Karena itu, sujud syukur Rizky Ridho memberikan pesan yang lebih dalam daripada sekadar selebrasi. Di tengah gemerlap stadion, sorotan kamera dan sorak ribuan penonton, ia memilih posisi paling rendah: bersujud kepada Allah.

Baca Juga: Alhamdulillah di Ufuk Pagi: Mensyukuri Terbukanya Mata

Inilah keindahan Islam. Ketika memperoleh kemenangan, seorang Muslim tidak diajarkan untuk menyombongkan diri, tetapi mengingat Zat Yang memberikan kemenangan. Ketika memperoleh nikmat, ia tidak hanya mengangkat tangan untuk merayakannya, tetapi juga menundukkan kepala untuk mensyukurinya.

Kemenangan Timnas Indonesia akhirnya bukan hanya cerita tentang skor 4-2 dalam adu penalti. Bagi seorang Muslim, ia juga dapat menjadi pengingat bahwa setiap keberhasilan seharusnya membawa kita semakin dekat kepada Allah.

Sebab, puncak kemenangan seorang mukmin bukan ketika ia berdiri paling tinggi di hadapan manusia, melainkan ketika ia mampu bersujud serendah-rendahnya di hadapan Allah Ta’ala.

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Pentingnya Tabayun dan Relevansinya di Era Digital

Rekomendasi untuk Anda