Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak Ada Empati, Menantu Trump Ingin Bangun Gedung Pencakar Lagit di tengah Perang Gaza

Widi Kusnadi Editor : Rudi Hendrik - Ahad, 25 Januari 2026 - 00:52 WIB

Ahad, 25 Januari 2026 - 00:52 WIB

7 Views ㅤ

Ilustrasi: Pemandangan kehancuran Jalur Gaza akibat serangan penjajah Zionis Israel. (Foto: Quds News)

Davos, MINA — Menantu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Jared Kushner membeberkan rencana ambisius untuk mentransformasi Jalur Gaza yang hancur akibat perang panjang menjadi sebuah kawasan modern berarsitektur megah, lengkap dengan gedung pencakar langit dan infrastruktur kelas dunia.

Visi ini dipaparkan dalam World Economic Forum (WEF) di Davos, bersamaan dengan peluncuran inisiatif Board of Peace oleh Trump baru-baru ini. Al-Jazeera melaporkan.

Dalam presentasinya, Kushner menggambarkan sebuah “New Gaza” dan “New Rafah” yang mencakup pembangunan ribuan hunian, fasilitas pendidikan dan kesehatan, serta menara-menara tinggi yang menghadap laut.

Skema besar ini dimaksudkan untuk mengubah wilayah yang porak-poranda menjadi pusat ekonomi dan hunian modern dalam beberapa tahun mendatang.

Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global

Kushner menegaskan bahwa upaya rekonstruksi Gaza tidak sekadar membangun kembali apa yang rusak, tetapi juga merancang masa depan baru dengan potensi lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

Namun ia menekankan bahwa fondasi proyek ini bergantung pada stabilitas dan demiliterisasi wilayah agar investasi dapat mengalir secara maksimal.

Rencana tersebut juga mencakup fasilitas pelabuhan dan bandara baru, kawasan industri, pusat data, serta kawasan wisata dan pemukiman kelas atas—sebuah kreasi yang terinspirasi dari kota-kota modern di Teluk Persia.

Kushner berharap bahwa proyek ini bisa menjadi magnet bagi sektor swasta untuk ikut berkontribusi membiayai rekonstruksi pascakonflik.

Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem

Meski visualisasi dan proyeksi ekonomi telah dipaparkan, kritik muncul dari berbagai pihak yang mempertanyakan kelayakan rencana, terutama karena sebagian besar bangunan di Gaza telah hancur dan kondisi kemanusiaan warga masih sangat memprihatinkan. Rencana ambisius ini juga memicu perdebatan mengenai nasib penduduk lokal, termasuk isu pemindahan sementara atau keterlibatan komunitas itu sendiri dalam proses pembangunan.

Para pengamat menilai bahwa presentasi New Gaza merupakan bagian dari upaya diplomatik yang kompleks di tengah dinamika politik wilayah yang belum stabil sepenuhnya, serta sebagai wujud strategi ekonomi dan keamanan yang lebih luas dari AS.

Meski diwarnai janji optimisme, skeptisisme tetap muncul terkait bagaimana visi ini akan diwujudkan di tengah realitas di lapangan.

Rencana rekonstruksi Gaza dipicu oleh konflik berkepanjangan antara Israel dan Hamas yang dimulai pada Oktober 2023, menyebabkan kerusakan besar di seluruh wilayah tersebut.

Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun

Inisiatif Board of Peace digagas oleh mantan Presiden AS Donald Trump untuk menggabungkan upaya perdamaian dan pembangunan kembali melalui pendekatan yang melibatkan banyak negara dan sektor swasta.

Ambisi pembangunan “New Gaza” mencerminkan transformasi ekstrem dari zona perang menjadi pusat urban modern, meski tantangan politik, sosial, dan ekonomi tetap besar. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur

Rekomendasi untuk Anda