DI TENGAH gempuran rudal dan drone yang menghantam pangkalan-pangkalan AS dan kota-kota di Israel, sebuah rahasia besar mulai terungkap, yaitu akurasi mematikan Iran bukan lagi hasil dari keberuntungan, melainkan bukti kemitraan teknologi satelit dengan China.
Para ahli intelijen Barat menganalisis, Iran yang selama ini dianggap lemah dalam teknologi pemandu rudal, tiba-tiba menjelma menjadi ancaman presisi tinggi yang mampu membakar sistem pertahanan tercanggih Amerika Serikat. Langit yang selama ini didominasi mata-mata Amerika melalui GPS, kini telah berganti peran.
Jika selama ini militer AS terbiasa mematikan sinyal GPS lawan, kali ini mereka gigit jari. Iran disebut-sebut telah beralih ke sistem navigasi satelit buatan China, BeiDou, yang kebal terhadap segala bentuk gangguan dan jamming ala Pentagon.
“Ada pembicaraan tentang penggantian sistem GPS dengan sistem China, yang menjelaskan akurasi rudal Iran. Target-target signifikan telah berhasil dihancurkan,” ujar Alain Juillet, mantan direktur intelijen Prancis dari Direktorat Jenderal Keamanan Eksternal (DGSE), dalam sebuah pernyataan mengejutkan yang dikutip Al Jazeera.
Baca Juga: Dari Balfour ke BoP Trump: 109 Tahun Konspirasi Melanggengkan Penjajahan atas Palestina
Data dari AJ Labs menunjukkan superioritas teknis yang mencolok, jika GPS AS hanya mengandalkan 24 satelit, China ternyata memiliki 45 satelit BeiDou yang mampu memberikan margin of error kurang dari 1 meter. Bukan sekadar akurat, sinyal militer BeiDou disebut tidak dapat dimatikan oleh upaya elektronik Israel dan AS.
Peneliti China-Mediterranean Project, Theo Nencini, mengungkapkan bahwa kerja rahasia ini telah berlangsung lama.
“Sejak 2015, Iran menandatangani nota kesepahaman untuk mengintegrasikan BeiDou ke dalam infrastruktur militernya. Namun, akselerasi terjadi setelah kesepakatan strategis 25 tahun ditandatangani pada 2021, di mana China diduga memberikan akses ke sinyal militer terenkripsi,” jelas Nencini.
Sejak saat itu, setiap rudal dan drone Iran yang meluncur ke arah kapal induk AS atau kota-kota di Israel, dipandu oleh “mata satelit” China yang tak bisa dibutakan oleh kekuatan Barat mana pun.
Namun, Beijing bukan satu-satunya teknologi di balik ketepatan mematikan Teheran. Moskow juga memainkan peran kunci dengan membuka pintu kosmodrom-nya untuk kepentingan intelijen Iran.
Pada Desember 2025, di saat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terbang menemui Presiden Donald Trump, Iran dengan berani meluncurkan tiga satelit buatan dalam negeri dari Kosmodrom Baikonur di Kazakhstan.
Waktunya bukan kebetulan, melainkan sebuah tamparan keras bagi poros Washington-Tel Aviv.
Satelit-satelit ini, termasuk satelit Khayyam buatan Rusia yang telah mengorbit sejak 2022, memberikan kemampuan pengintaian real-time kepada Garda Revolusi Iran (IRGC).
Baca Juga: Polisi, Sekejam Itukah?
“Satelit yang melintas di Timur Tengah, termasuk di atas Israel, pasti dapat memberikan intelijen berkualitas tinggi kepada Iran, dan itu tentu saja mendukung program rudal mereka,” kata Tal Inbar, pakar antariksa Israel, kepada Ynetnews.
Dengan data dari Khayyam, Iran disebut-sebut mampu memetakan lokasi persis pangkalan-pangkalan AS, termasuk menara pengawas di kedutaan besar, bahkan hingga mendeteksi pergerakan pesawat dan kapal perang di Teluk.
Perang Ekosistem
Yang paling mengkhawatirkan para analis militer adalah bahwa ini bukan lagi sekadar pemandu rudal biasa. Ini adalah pembangunan ekosistem perang baru.
Baca Juga: Memaknai Bulan Solidaritas Palestina: Ketika November Menjadi Pengingat Kemanusiaan
Prof. Enrico Fardella, guru besar dari University of Naples L’Orientale, menyebutnya sebagai “militerisasi teknologi” oleh China melalui proxy.
“BeiDou bukan hanya sistem navigasi. Ketika terintegrasi dengan drone, rudal, dan dukungan satelit China, ia menjadi ekosistem militer yang lebih besar. China tak perlu mengerahkan satu tentara pun, tetapi mampu membantu Iran menghancurkan musuh,” tegasnya kepada South China Morning Post yang dikutip SETN.
Hal ini menjelaskan bagaimana rudal Iran mampu menembus pertahanan berlapis Israel dan mengenai Tel Aviv, serta menghancurkan radar canggih AS, termasuk sistem THAAD di Yordania dan radar PAVE PAWS di Qatar .
Komando Pusat Angkatan Laut AS hingga kini bungkam mengenai peran China dalam serangan yang menimpa armadanya. Namun, sebuah laporan dari Washington Post menyebutkan bahwa serangan rudal Iran bahkan telah merusak parah stasiun CIA di dalam Kedutaan Besar AS di Arab Saudi, membuatnya “tidak dapat diperbaiki”.
Baca Juga: Akhiri Perang Saudara Yaman-Arab Saudi, Rakyat Hanya Jadi Korban
Dengan presisi yang dipandu oleh satelit China dan pengintaian yang disuplai oleh Rusia, Iran kini memiliki kemampuan yang selama ini hanya dimiliki oleh negara adidaya, yakni kemampuan untuk memukul jantung musuh dengan tepat, kapan pun, di mana pun, tanpa takut sinyalnya diputuskan.
Ini bukan lagi perang proksi. Ini adalah perang satelit yang nyata, dan Amerika Serikat serta Israel kini menyadari bahwa mereka tidak lagi bermain sendirian di langit Timur Tengah. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic