Washington, MINA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu perhatian publik internasional setelah mengulang keinginannya agar Kanada bergabung menjadi bagian dari Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut kembali menimbulkan respons keras dari pemerintah Kanada yang menegaskan bahwa kedaulatan negaranya tidak dapat dinegosiasikan. Time Magazine melaporkan, Rabu (3/6).
Dalam pernyataan terbarunya, Trump menyebut Kanada akan memperoleh berbagai keuntungan ekonomi jika menjadi negara bagian ke-51 AS, termasuk kemudahan perdagangan dan penghapusan sejumlah hambatan ekonomi.
Namun usulan tersebut segera ditolak oleh para pejabat Kanada yang menilai hubungan kedua negara harus tetap dibangun sebagai mitra yang setara.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Perdana Menteri Kanada Mark Carney sebelumnya telah menegaskan bahwa negaranya akan mempertahankan kemerdekaan dan identitas nasionalnya. Ia juga menyerukan pembentukan hubungan baru yang lebih seimbang dengan Amerika Serikat di tengah perubahan situasi ekonomi dan geopolitik global.
Ini bukan pertama kalinya Trump melontarkan gagasan serupa. Dalam beberapa kesempatan sejak kembali menjabat sebagai presiden, ia berulang kali menyebut Kanada sebagai calon negara bagian ke-51 Amerika Serikat. Pernyataan tersebut bahkan sempat memicu perdebatan politik di kedua negara.
Sejumlah analis menilai usulan Trump lebih bersifat retorika politik dibandingkan rencana yang dapat diwujudkan. Berbagai survei menunjukkan mayoritas warga Kanada menolak gagasan bergabung dengan Amerika Serikat dan tetap mendukung kedaulatan negara mereka.
Meski kerap diwarnai ketegangan terkait tarif dan perdagangan, Amerika Serikat dan Kanada hingga kini tetap menjadi mitra ekonomi dan keamanan utama di kawasan Amerika Utara. []
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic