Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trump Sesumbar Akan Ganti Rezim di Kuba

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Rabu, 11 Februari 2026 - 07:57 WIB

Rabu, 11 Februari 2026 - 07:57 WIB

44 Views ㅤ

Presiden AS Donald Trump. (Foto: The White House)

Washington, MINA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump semakin menegaskan keinginannya untuk mendorong perubahan rezim di Kuba, meski langkah itu menimbulkan ketegangan tinggi di hubungan bilateral dan dampak serius bagi kehidupan masyarakat Kuba.

Trump menilai pemerintahan Kuba sebagai ancaman terhadap kepentingan AS dan telah mengambil serangkaian tindakan keras yang semakin memperdalam krisis di pulau Karibia tersebut. Anadolu melaporkan, Rabu (11/2).

Trump melalui sebuah executive order pada akhir Januari menyatakan bahwa pemerintah Kuba merupakan “ancaman luar biasa” terhadap keamanan nasional AS dan mengumumkan kewenangan untuk memberlakukan tarif terhadap negara-negara yang memasok minyak ke Havana.

Kebijakan ini secara efektif menghentikan pasokan minyak dari sekutu penting seperti Venezuela dan menekan negara lain agar menghentikan ekspor bahan bakar ke Kuba.

Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global

Akibat tekanan tersebut, Kuba kini menghadapi krisis energi yang parah. Pasokan bahan bakar semakin menipis, memaksa otoritas Kuba memberlakukan pengurangan layanan transportasi, pemadaman listrik bergilir, dan pembatasan jam sekolah.

Industri vital seperti pariwisata juga terpukul karena kebijakan tidak tersedianya bahan bakar pesawat, sementara harga pangan dan biaya hidup meningkat tajam.

Sementara Trump kerap menyatakan bahwa kebijakan itu dimaksudkan untuk mendukung hak asasi dan mendorong kemerdekaan rakyat Kuba, kritik internasional juga mengemuka.

Banyak pihak menilai tindakan ekonomi keras justru memperburuk penderitaan masyarakat sipil dan meningkatkan risiko krisis kemanusiaan. PBB bahkan memperingatkan potensi keruntuhan sistem sosial di Kuba jika kebutuhan energi tidak terpenuhi.

Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun

Pemerintah Kuba, di bawah Presiden Miguel Díaz-Canel, menolak keras langkah AS dan menyebutnya sebagai bentuk agresi ekonomi yang bertujuan melemahkan kedaulatan nasional.

Havana bersedia berdialog dengan Washington, tetapi dengan syarat tanpa tekanan yang memaksakan perubahan politik internal. Dukungan dari sekutu seperti Rusia juga datang untuk mengecam pendekatan AS terhadap krisis ini.

Meski demikian, Trump menyatakan yakin bisa mencapai kesepakatan dengan pemimpin Kuba untuk mengatasi apa yang disebutnya sebagai “krisis yang bisa dihindari.”

Ia juga mengaitkan strategi perubahan rezim dengan upaya politik domestik di AS, khususnya dukungan dari komunitas Kuba-Amerika yang kuat di negara bagian Florida.

Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur

Kebijakan keras AS terhadap Kuba sudah berlangsung lebih dari enam dekade sejak embargo awal pada awal 1960-an. Di bawah pemerintahan Trump, langkah-langkah keras ini diperluas melalui perintah eksekutif yang menyatakan keadaan darurat nasional dan memperluas tarif terhadap negara pemasok minyak ke Kuba. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Somalia Tegas Tolak Kehadiran Israel Dalam Keadaan Apa Pun

Rekomendasi untuk Anda