Washington D.C., MINA — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menegaskan bahwa dirinya tidak akan meminta maaf meskipun unggahan video di akun media sosialnya memicu kecaman luas karena menggambarkan mantan Presiden Barack Obama dan mantan Ibu Negara Michelle Obama sebagai kera.
Video kontroversial itu diunggah lewat platform Truth Social milik Trump dan menampilkan sebuah klip yang berisi narasi tentang klaim kecurangan Pemilu 2020 sebelum sesaat memperlihatkan kepala Obama dan istrinya disematkan pada tubuh kera.
Meski kemudian dihapus sekitar 12 jam setelah muncul, unggahan tersebut memantik reaksi keras dari politisi dan kelompok hak sipil. NDTV melaporkan, Selasa (10/2).
Saat ditanya oleh wartawan di atas pesawat Air Force One tentang permintaan maaf, Trump mengatakan bahwa ia hanya melihat bagian awal video dan tidak menyadari ada bagian yang bermasalah di akhir klip.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
“Saya tidak membuat kesalahan,” ujar Trump, menolak permintaan maaf atas unggahan yang ramai dipandang ofensif itu.
Gedung Putih awalnya mencoba meredam kritikan dengan menyebut reaksi publik sebagai “kemarahan palsu” dan mengatakan video itu merupakan bagian dari meme internet yang menggambarkan Trump sebagai “Raja Hutan” bersama karakter lain.
Namun, ketika kritik terus mengalir, pihaknya kemudian menyatakan unggahan itu adalah kesalahan staf.
Kecaman datang dari berbagai pihak, termasuk dari beberapa politisi Partai Republik sendiri. Senator Tim Scott, satu-satunya senator kulit hitam dari partai itu, menyebut video tersebut sebagai sesuatu yang sangat rasis dan menyerukan agar Trump menarik serta meminta maaf atas kontennya.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Kritikan serupa juga disuarakan oleh sejumlah anggota DPR dan organisasi hak sipil.
Insiden ini terjadi di tengah momentum Bulan Sejarah Hitam (Black History Month), memperkuat kontroversi sejarah panjang stereotip rasis di Amerika Serikat.
Penggambaran orang kulit hitam sebagai monyet atau kera telah lama menjadi simbol diskriminasi yang mendalam dan sensitif secara budaya di berbagai negeri, termasuk di AS. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
















Mina Indonesia
Mina Arabic