Brussel, MINA – Uni Eropa memperingatkan Israel agar tidak melanjutkan operasi militernya di Lebanon, khususnya serangan darat, karena berpotensi memicu krisis kemanusiaan yang lebih luas dan memperburuk eskalasi konflik di kawasan.
Pernyataan tersebut disampaikan pejabat Uni Eropa yang menekankan pentingnya deeskalasi segera serta dialog antara pihak-pihak terkait guna mencegah konflik berkepanjangan.
Uni Eropa juga mengingatkan bahwa tindakan militer lanjutan dapat melanggar kedaulatan Lebanon dan memperbesar jumlah korban sipil. MEMO melaporkan, Rabu (18/3).
Selain meminta Israel menahan diri, Uni Eropa juga menyerukan semua pihak, termasuk kelompok Hizbullah, untuk menghentikan serangan dan melindungi warga sipil serta infrastruktur penting. Blok tersebut menilai keselamatan warga sipil harus menjadi prioritas utama di tengah meningkatnya ketegangan.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya konflik antara Israel dan Hizbullah dalam beberapa pekan terakhir. Serangan balasan yang terus berlangsung telah menyebabkan ratusan korban jiwa dan memicu gelombang pengungsian besar di Lebanon, bahkan mencapai ratusan ribu hingga lebih dari satu juta orang terdampak.
Sejumlah negara Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Inggris juga sebelumnya telah mengeluarkan peringatan serupa, menilai bahwa operasi darat skala besar oleh Israel berisiko menimbulkan bencana kemanusiaan dan konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah. Mereka mendesak adanya solusi politik melalui perundingan.
Di sisi lain, eskalasi militer terus terjadi dengan serangan udara Israel ke berbagai wilayah Lebanon, termasuk ibu kota Beirut, serta serangan balasan roket oleh Hizbullah. Kondisi ini memperlihatkan meningkatnya risiko perang terbuka yang dapat melibatkan lebih banyak pihak dan memperburuk stabilitas regional. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
















Mina Indonesia
Mina Arabic