Sanaa, MINA – Kelompok Houthi Yaman mengklaim pada Sabtu, 3 Oktober 2026, bahwa mereka menargetkan raksasa minyak Saudi Aramco di Riyadh dengan rudal balistik dan drone. Serangan disebut sebagai respons terhadap serangan udara terhadap ibu kota Yaman, Sanaa.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, dalam pernyataan yang disiarkan televisi, mengatakan operasi tersebut “berhasil mencapai tujuannya” dan menyebabkan kebakaran di lokasi yang menjadi target.
“Operasi tersebut berhasil mencapai tujuannya,” kata Saree.
Ia juga mengatakan bahwa Sanaa dan provinsi-provinsi lain di Yaman telah menjadi sasaran 60 serangan udara selama 24 jam terakhir. Menurutnya, total serangan udara kini mencapai 1.420 serangan. Ia mengaitkan serangan-serangan tersebut dengan Arab Saudi.
Baca Juga: Presiden Nigeria Tinubu Masuki Ka’bah dan Shalat di Dalamnya
“Kami akan merespons blokade dengan blokade, dan eskalasi dengan eskalasi,” tegas Saree.
Hingga pukul 20.00 GMT, Arab Saudi belum memberikan komentar resmi mengenai klaim Houthi tersebut. Belum ada verifikasi independen atas klaim serangan terhadap fasilitas Saudi Aramco di Riyadh.
Blokade Laut dan Perang yang Tak Kunjung Usai
Pada 20 Juli 2026, Houthi mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi. Kelompok tersebut mengatakan langkah itu sebagai respons terhadap pengepungan angkatan laut dan udara Saudi di wilayah yang berada di bawah kendali mereka di Yaman.
Baca Juga: Prodi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar Diminati 600 Mahasiswa
Sejak Maret 2015, Arab Saudi memimpin koalisi militer yang mendukung pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional melawan pasukan Houthi. Houthi telah menguasai Sanaa dan beberapa provinsi lain sejak September 2014.
Konflik ini telah menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia, dengan ribuan warga sipil tewas dan jutaan lainnya mengungsi. Eskalasi terbaru ini menunjukkan bahwa perdamaian di Yaman masih jauh dari kenyataan.
Red Sea dan Mandeb, Jalur Kedua yang Terancam
Perang ini bukan lagi sekadar konflik internal Yaman. Ia telah menjadi medan pertempuran strategis yang mengancam jalur energi dunia.
Baca Juga: Sejak Agustus, 290.000 Warga Yaman Mengungsi Akibat Konflik
Pertama, Saudi kehilangan “jalur alternatif” yang krusial.
Dalam situasi di mana Selat Hormuz terancam oleh Iran, Arab Saudi telah mengalihkan sebagian besar ekspor minyaknya ke arah Laut Merah melalui pelabuhan Yanbu. Volume aliran melalui Selat Mandeb pada kuartal kedua 2026 diperkirakan mencapai 8,1 juta barel per hari.
Mandeb menjadi jalur alternatif utama Saudi untuk menghindari risiko Hormuz.
Namun, Houthi kini mengancam jalur itu. Pada September 2026, mereka melancarkan serangan kilat dan merebut pulau-pulau strategis di sisi Yaman, termasuk Pulau Mayyun, yang memberi mereka kemampuan menyerang kapal tanker Saudi yang melintas.
Baca Juga: Saudi Koordinasi dengan NATO dan Eropa Bahas Perkembangan Kawasan
Kedua, harga minyak sudah menembus batas psikologis.
Brent sempat menembus 99 dolar AS per barel pada awal September, mendekati angka 100 dolar. Capital Economics memperkirakan harga minyak akan bertahan di sekitar 100 dolar per barel hingga akhir 2026. Pasar sedang memperhitungkan skenario terburuk: dua jalur utama (Hormuz dan Mandeb) terancam bersamaan.
Ketiga, biaya pelayaran meroket.
Lalu lintas kapal di Terusan Suez pada Agustus 2026 turun 60-64 persen dibanding tahun sebelumnya. Jumlah kapal mingguan turun dari sekitar 250 menjadi kurang dari 100. Kapal-kapal terpaksa memutar melalui Tanjung Harapan, menambah biaya bahan bakar, asuransi, dan waktu.
Baca Juga: Qatar Bantah Campur Tangan di Pemilu Israel: “Tuduhan Konyol dan Berbahaya!”
Bank Dunia memperingatkan bahwa hal ini dapat memperburuk inflasi global dan melemahkan pertumbuhan ekonomi.
Keempat, korban sipil terus berjatuhan.
Pejabat kemanusiaan PBB dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan pada pertengahan September melaporkan bahwa sejak awal September, setidaknya 125.000 orang mengungsi di Yaman, dengan 40 korban sipil tercatat (8 di antaranya meninggal). Perempuan dan anak-anak merupakan separuh dari korban luka dan meninggal.
Kaitan dengan Indonesia
Baca Juga: Pertahanan Udara Saudi Cegat Dua Rudal Houthi yang Targetkan Riyadh
Bagi Indonesia, konflik ini bukanlah perang di negeri jauh. Ia sudah menyentuh dua hal yang paling konkret, terutama terkait harga energi.
Indonesia adalah importir minyak bersih. Setiap kenaikan 10 dolar AS per barel harga minyak dunia akan menekan: Subsidi bahan bakar, yang mengakibatkan anggaran negara membengkak. Dampak lainnya, memicu inflasi, yang berakibat harga-harga barang dan jasa ikut naik.
Dari sisi neraca perdagangan, harga impor minyak akan semakin mahal.
Jika Brent bertahan di sekitar 100 dolar AS hingga akhir 2026, pemerintah Indonesia akan menghadapi dilema: menaikkan harga BBM (yang tidak populer) atau memperbesar subsidi (yang membebani APBN).
Baca Juga: Ketika Bayangan Rudal Menyasar Tanah Suci Makkah sebagai Garis Merah
Indonesia mengimpor minyak mentah dari berbagai negara, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Jika jalur Laut Merah tidak aman, kapal-kapal tanker yang menuju Indonesia harus memutar lebih jauh, menambah biaya logistik dan waktu pengiriman. Ini pada akhirnya akan tercermin dalam harga bahan bakar di dalam negeri.
Sementara Indonesia sendiri memiliki hubungan baik dengan Arab Saudi, Iran, dan negara-negara Teluk. Namun, eskalasi Houthi-Saudi memaksa Indonesia untuk lebih berhati-hati dalam mengambil posisi.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, Indonesia memiliki moral standing untuk mendorong perdamaian. Tetapi juga memiliki kepentingan energi yang membuatnya tidak bisa sepenuhnya netral.
Perlu Kewaspadaan
Baca Juga: Puing Rudal Houthi Jatuh di Riyadh, Rusak Bangunan dan Kendaraan
Houthi menyerang Aramco bukan sekadar aksi militer. Ia adalah pesan strategis: bahwa jalur energi dunia bisa dilumpuhkan dari Yaman.
Arab Saudi, dengan Hormuz yang sudah terancam dan Mandeb yang kini goyah, menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kita tidak bisa memilih untuk tidak peduli. Karena setiap rudal yang diluncurkan di Mandeb, setiap kapal yang terbakar di Laut Merah, dan setiap nyawa yang hilang, adalah pengingat bahwa dunia ini saling terhubung, dan perdamaian di Yaman adalah kepentingan kita bersama. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Pemimpin Jamaat-e-Islami Pakistan Sebut Aliansi Regional Dapat Bantu Masalah Afghanistan
















Mina Indonesia
Mina Arabic