Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Virus “Aku Sendiri Cukup”: Penyakit Zaman Ini

Bahron Ansori Editor : Ali Farkhan Tsani - 2 menit yang lalu

2 menit yang lalu

0 Views

DI TENGAH hiruk-pikuk zaman yang serba cepat, ada satu penyakit halus yang sering tak terasa, tapi dampaknya begitu dalam: perasaan “aku bisa sendiri.” Ia tidak berisik, tidak tampak sebagai dosa besar, bahkan sering dibungkus dengan label positif—mandiri, kuat, tangguh. Namun diam-diam, ia menggerogoti jiwa, merusak tatanan, dan melemahkan potensi yang seharusnya tumbuh bersama.

Virus ini sering menjangkiti siapa saja, terlebih mereka yang diberi amanah sebagai pemimpin. Awalnya mungkin niatnya baik: ingin cepat selesai, ingin memastikan semuanya berjalan sesuai harapan. Tapi lama-kelamaan, muncul keyakinan tersembunyi—bahwa semua bisa dikendalikan sendiri, semua bisa dikerjakan sendiri, semua keputusan harus lewat dirinya.

Di titik itulah, bahaya mulai tumbuh.

Seorang pemimpin yang terjangkit “aku sendiri cukup” perlahan kehilangan sensitivitasnya. Ia mulai menabrak aturan yang telah disepakati bersama. SOP yang seharusnya menjadi penjaga ritme organisasi dianggap sekadar formalitas. Ia merasa lebih tahu, lebih cepat, lebih tepat. Padahal tanpa sadar, ia sedang mematikan sistem yang seharusnya menopangnya.

Baca Juga: Subhanallah! Ini Jarak Madinah ke Palestina yang Perlu Diketahui Setiap Muslim

Lebih dari itu, ia juga sedang mematikan orang-orang di sekitarnya.

Tim yang awalnya penuh semangat perlahan menjadi pasif. Mereka tidak lagi merasa dibutuhkan. Ide-ide tak lagi muncul, karena semuanya seolah sudah diambil alih. Ruang tumbuh menyempit, kepercayaan melemah. Akhirnya, organisasi bukan lagi tempat berkembang, tapi sekadar tempat menjalankan perintah.

Ironisnya, di saat yang sama, sang pemimpin justru kelelahan sendiri.

Waktunya habis mengurusi hal-hal yang bukan bidangnya. Energinya terkuras untuk detail-detail yang sebenarnya bisa didelegasikan. Sementara bidang utama yang seharusnya ia tekuni—visi besar, arah strategis, pembinaan manusia—justru terbengkalai. Potensi besar yang Allah titipkan padanya tidak berkembang, karena ia sibuk menjadi “semua hal”, bukan menjadi “yang seharusnya ia jadi.”

Baca Juga: Pintar dan Tangguh, Tingkat Pendidikan Iran Jadi Sorotan Dunia di Tengah Konflik

Padahal dalam Islam, kesadaran diri adalah kunci kematangan.

Seorang mukmin yang kuat bukan yang melakukan segalanya sendiri, tapi yang tahu batas dirinya. Ia paham bahwa ilmu itu luas, dan dirinya terbatas. Ia tidak malu mengatakan, “Ini bukan bidang saya.” Ia tidak gengsi memberi ruang kepada yang lebih ahli. Karena ia yakin, kekuatan sejati bukan pada menguasai semua, tapi pada menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.

Bukankah Rasulullah ﷺ sendiri memberi teladan itu?

Dalam banyak urusan, beliau bermusyawarah. Dalam strategi perang, beliau menerima masukan dari sahabat. Dalam urusan teknis dunia, beliau memberi ruang kepada yang lebih paham. Ini bukan tanda kelemahan, justru itulah puncak kebijaksanaan. Karena beliau tahu, keberkahan itu turun ketika peran dijalankan dengan tepat.

Baca Juga: One Man Show, Tampak Kuat Tapi Sebenarnya Lemah

Maka seorang pemimpin hari ini perlu berhenti sejenak, lalu bertanya pada dirinya:

Apakah aku sedang memimpin… atau sedang menguasai? Apakah aku sedang memberdayakan… atau justru mematikan potensi? Apakah aku mengerjakan ini karena amanah… atau karena ingin terlihat mampu?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting, bukan untuk menyalahkan diri, tapi untuk mengembalikan arah. Sebab seringkali, kita tidak sadar kapan niat baik berubah menjadi sikap yang justru merugikan.

Ada keindahan dalam menyadari keterbatasan.

Baca Juga: Trump Sering Tidak Konsisten, Janji Akhiri Perang dengan Iran Diragukan

Ketika seseorang berkata, “Ini bukan bidang saya,” lalu memilih untuk mendorong dari luar, mendukung, dan mempercayakan kepada yang ahli—di situlah sebenarnya ia sedang membangun peradaban. Ia sedang menciptakan ruang bagi orang lain untuk tumbuh. Ia sedang menanam kepercayaan, yang kelak akan berbuah loyalitas dan keberkahan.

Menjadi pemimpin bukan berarti harus selalu tampil di depan. Kadang justru yang paling berdampak adalah mereka yang bekerja dari belakang, memastikan semua berjalan, tanpa harus terlihat paling menonjol.

Karena pada akhirnya, keberhasilan bukan tentang siapa yang paling banyak mengerjakan, tapi siapa yang paling tepat menempatkan peran.

Zaman ini tidak kekurangan orang hebat. Tapi ia sangat membutuhkan orang yang sadar diri. Yang tahu kapan maju, kapan mundur. Kapan bicara, kapan mendengar. Kapan memimpin, dan kapan memberi ruang.

Baca Juga: Gempar! Sebelum Tewas, Putri Menteri Permukiman Israel Ungkap Tokoh Penting Melecehkannya Sejak Kecil

Maka jika hari ini kita merasa lelah karena memikul segalanya sendiri, mungkin itu tanda—bukan karena tugas terlalu berat, tapi karena kita tidak meletakkannya pada tempat yang semestinya.

Lepaskan perlahan virus “aku sendiri cukup.” Gantilah dengan kesadaran: kita saling membutuhkan.

Di situlah letak kekuatan. Di situlah letak keberkahan. Dan di situlah, potensi besar yang selama ini terpendam akan mulai menemukan jalannya. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: 7 Tips Mudik Aman dan Nyaman, Panduan Penting agar Selamat Sampai Kampung Halaman

 

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Tausiyah
Tausiyah
Tausiyah
Tausiyah