Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gempar! Sebelum Tewas, Putri Menteri Permukiman Israel Ungkap Tokoh Penting Melecehkannya Sejak Kecil

Rudi Hendrik Editor : Sri Astuti - Ahad, 15 Maret 2026 - 15:15 WIB

Ahad, 15 Maret 2026 - 15:15 WIB

106 Views ㅤ

Menteri Permukiman Israel Orit Strock. Gambar: Paramotor News)

KEMATIAN Shoshana Strock, putri Menteri Permukiman Israel Orit Strock menggemparkan dunia, setelah sebelumnya dia mengungkapkan dirinya menjadi korban pelecehan seksual sejak kecil oleh orang-orang terdekat dan tokoh-tokoh penting negara.

Dilansir dari Quds News Network pada Ahad (15/3), laporan bahwa Shoshana ditemukan tewas muncul setelah ia membagikan kesaksian yang mengganggu, yang menggambarkan pelecehan terhadapnya dimulai ketika ia baru berusia dua setengah tahun

Dengan kata-katanya sendiri, ia menggambarkan “ritual sadis” yang dimaksudkan untuk menghapus identitasnya. Ia memperingatkan bahwa tokoh-tokoh berpengaruh terlibat.

“Para pelaku pelecehan adalah anggota parlemen, rabi, orang-orang yang berkuasa. Jika mereka mengatakan saya bunuh diri, jangan percaya,” katanya.

Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900

Dalam tuduhannya yang ia unggah di media sosialnya, Shoshana juga menyebut nama rabi terkemuka Zvi Thau dan menggambarkan sistem eksploitasi dan “terapi konversi” paksa di dalam lingkaran agama yang berpengaruh di Israel.

Dalam unggahan tersebut, ia mengatakan bahwa ayahnya, Avraham Strock, dan rabi terkemuka Israel, Zvi Thau, memaksanya melakukan praktik-praktik pelecehan yang dirancang untuk menekan identitas seksualnya.

Kasus ini telah menarik perhatian luas di Israel karena tokoh-tokoh politik dan agama yang disebutkan dalam tuduhan tersebut. Thau dianggap sebagai tokoh terkemuka dalam gerakan keagamaan nasionalis Israel dan menjabat sebagai pemimpin spiritual Partai Noam, yang diwakili di Knesset oleh anggota parlemen Avi Maoz.

Dalam unggahan Facebook tertanggal 12 Januari, Shoshana menggambarkan pengalaman traumatis yang menurutnya terjadi selama masa kecilnya. Ia mengatakan bahwa ayahnya dan Rabi Thau berulang kali memaksanya untuk berpartisipasi dalam ritual pelecehan yang bertujuan meyakinkannya bahwa ia bukanlah seorang lesbian.

Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa

Ia menulis bahwa ritual tersebut melibatkan penghinaan, ancaman, dan tekanan psikologis. Menurut pengakuannya, orang dewasa memaksanya untuk berpartisipasi dalam praktik-praktik yang berupaya “memprogram ulang” orientasi seksualnya.

Shoshana juga mengatakan bahwa keluarganya mengeksploitasinya untuk mendapatkan keuntungan selama masa remajanya. Ia mengatakan, pelecehan itu berlanjut selama bertahun-tahun dan meninggalkan trauma psikologis yang berkepanjangan.

Kesaksiannya juga merujuk pada kilas balik dan kecemasan parah yang terkait dengan pengalaman tersebut. Ia mengatakan ia takut akan pembalasan jika ia berbicara secara terbuka tentang pelecehan tersebut.

Dalam pernyataan sebelumnya yang dibagikan pada tahun 2025, Shoshana mengatakan ia telah mengajukan pengaduan resmi di Italia dan mencari keadilan atas pelecehan yang dilakukan oleh anggota keluarganya sendiri. Dalam pernyataan itu, ia mengatakan kedua orangtuanya dan salah satu saudara laki-lakinya telah memperkosanya.

Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka

Ia juga mengatakan bahwa pelecehan tersebut memengaruhi anggota keluarganya yang lain. Menurut kesaksiannya, adik-adiknya mengalami kekerasan fisik selama masa kecil mereka.

Dalam beberapa pekan terakhir, Shoshana mengatakan bahwa ia terus takut akan keselamatannya. Ia mengatakan bahwa ayahnya dan teman-temannya memperkosanya lagi baru-baru ini.

Kematian Shoshana Strock juga telah memperbarui pengawasan terhadap keluarga politik tempat ia berasal. Ibunya, Orit Strock, adalah tokoh senior di kubu politik pro-permukiman Israel dan telah sangat mendukung kebijakan pemerintah Israel selama genosida Gaza.

Keluarga tersebut sebelumnya menarik perhatian publik pada tahun 2007, ketika salah satu saudara laki-laki Shoshana, Zviki Strock, menghadapi hukuman karena penculikan dan penyerangan terhadap seorang remaja Palestina. Serangan itu menyebabkan korban mengalami luka parah setelah dipukuli, dilucuti pakaiannya, dan diikat di sebuah ladang sebelum berhasil melarikan diri. []

Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda