Jakarta, MINA – Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Wamenlu RI), Anis Matta mengajak media dan jurnalis membantu publik atau masyarakat untuk bertransformasi dari pendangkalan menuju pendalaman. isu-isu internasional.
Menurutnya, tantangan utama saat ini bukan sekadar derasnya arus informasi, melainkan bagaimana publik mampu memahami persoalan secara lebih mendalam.
“Saya ulangi kembali. Kita harus membantu publik kita, mengedukasi publik kita untuk bertransformasi dari pendangkalan kepada pendalaman,” tegas Wamenlu dalam forum diskusi dengan Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (SAJID) di Jakarta, Kamis (16/7).
Ia menjelaskan, masyarakat perlu memahami bahwa informasi dan analisis yang beredar di media sering kali dibangun untuk menguatkan narasi tertentu. Karena itu, Anis mendorong media untuk tidak berhenti sebagai penerima informasi semata, melainkan mampu membangun narasi yang lebih berkualitas.
Baca Juga: Menko Yusril: Kasus Penyadapan Presiden Belum Mengarah ke Makar
Sementara itu Ketua SAJID, Bachtiar Nasir mengatakan forum tersebut menjadi ruang dialog antara pemerintah dan insan pers agar pemahaman publik terhadap isu-isu global semakin utuh.
“Penting sekali kita untuk mendengar langsung dari pihak yang memang berkiprah di dalamnya. Agar suara-suara kita menjadi penyampai kebenaran, menjadi penyampai amanah yang sesuai, tanpa menghilangkan daya kritis tentunya,” ujarnya.
Menurut Bachtiar, Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar memiliki kepentingan strategis dalam mensosialisasikan arah kebijakan luar negeri kepada masyarakat melalui peran media.
Anis juga menyoroti kelemahan akademik Indonesia dalam studi kawasan. Ia mengungkapkan bahwa Indonesia kekurangan spesialisasi dalam studi kawasan, sehingga publik dan pengambil kebijakan sering kali tidak memahami secara utuh kompleksitas masalah yang terjadi di berbagai belahan dunia.
Baca Juga: Listyo Sigit Ditahan di Mabes Polri, Kasus Penyadapan HP Presiden Prabowo
“Kita kekurangan sumber informasi, dan kita tidak memahami metodologinya, tidak memahami apa yang dipikirkan orang lain. Masalah utamanya adalah bagaimana mentransformasi publik dari pendangkalan ke pendalaman, berpindah dari sekadar tahu menuju paham,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia kerap menjadi penerima narasi global, bukan pembentuknya. Karena itu, kata Anis, perlu ada upaya serius untuk membangun kemampuan akademik, memperkuat riset kawasan, dan mengedukasi publik secara berkelanjutan agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga aktor yang mampu memengaruhi arus pemikiran global.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic