ADA perjuangan yang dimulai dengan senjata. Ada perjuangan yang dimulai dengan diplomasi. Ada pula perjuangan yang dimulai dengan satu seruan sederhana yang mengetuk hati manusia, “Al-Aqsa Haqquna!”
Bagi sebagian orang, Palestina mungkin hanya sebuah berita yang muncul di layar televisi atau media sosial.
Tetapi bagi orang-orang yang telah lama mengikuti perjuangan Al-Aqsa, Palestina bukan sekadar berita.
Al-Aqsa adalah amanah. Al-Aqsa adalah luka kemanusiaan. Al-Aqsa adalah persoalan keadilan. Dan bagi umat Islam, Masjid Al-Aqsa memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah iman.
Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia
Dari sanalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melakukan perjalanan Isra. Di sana pula beliau menjadi imam shalat bagi para nabi dalam peristiwa Mi’raj.
Allah berfirman:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra: 1).
Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya
Maka, perjalanan menuju pembebasan Al-Aqsa bukanlah perjalanan sehari atau dua hari.
Al-Aqsa adalah perjalanan panjang. Dan setiap generasi memiliki bagian sejarahnya masing-masing.
Dari 17 September 2006
Tanggal 17 September 2006 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan perjuangan Al-Aqsa di Indonesia.
Baca Juga: Melemahnya Rial Iran Secara Tajam: Bagaimana WNI Mengantisipasinya?
Pada tanggal itu, Imaam Muhyiddin Hamidy mencetuskan Ghazwah Fath Al-Aqsa, sebuah seruan untuk membangkitkan kesadaran umat dan mempersiapkan berbagai kemampuan dalam rangka memperjuangkan pembebasan Masjid Al-Aqsa. Seruan tersebut kemudian diwujudkan melalui berbagai kegiatan edukasi dan solidaritas Al-Aqsa di sejumlah wilayah Indonesia.
Ghazwah Fath Al-Aqsa (GFA) bukanlah sekadar nama. GFA adalah panggilan kesadaran. Bahwa Al-Aqsa tidak boleh hilang dari ingatan umat. Bahwa Palestina tidak boleh hanya dibicarakan ketika terjadi perang. Bahwa perjuangan harus dibangun dengan ilmu, dakwah, pendidikan, media, kepedulian kemanusiaan dan persatuan.
Dari sinilah muncul berbagai kegiatan: tabligh akbar, seminar, bedah buku, pameran foto, pemutaran film Palestina, longmarch cinta Al-Aqsha, Daurah Al-Quds, Festival, pendakian gunung, perlombaan, dan berbagai bentuk edukasi lainnya.
Satu pesan terus dikumandangkan: Al-Aqsa Haqquna. Al-Aqsa adalah amanah yang tidak boleh dilupakan.
Baca Juga: Israel dan Pertarungan Narasi di Indonesia: Dari Hasbara hingga Media Sosial
21 Agustus 2008: Kesadaran Menjadi Jaringan
Dua tahun kemudian, perjalanan itu memasuki babak baru. Pada 21 Agustus 2008, di Wisma Antara Jakarta, diselenggarakan “Al-Aqsa International Conference”.
Konferensi tersebut mempertemukan berbagai unsur umat dan menghasilkan Deklarasi Jakarta untuk Pembebasan Al-Aqsa.
Dari forum inilah lahir Aqsa Working Group (AWG) sebagai wadah untuk mengelola dan mengembangkan berbagai upaya pembebasan Masjid Al-Aqsa dan kemerdekaan Palestina. Profil resmi AWG menyebut konferensi tersebut dihadiri 71 komponen umat dari berbagai unsur.
Baca Juga: Iran di Tengah Tekanan Nuklir, Hormuz, Saudi dan Amerika
Artinya, seruan yang sebelumnya bergema sebagai kesadaran mulai diarahkan menjadi kerja bersama.
Ada pendidikan. Ada media. Ada diplomasi masyarakat. Ada aksi solidaritas. Ada bantuan kemanusiaan. Ada jaringan internasional. Ada upaya membangun hubungan dengan berbagai elemen masyarakat.
Sebab perjuangan yang panjang tidak cukup hanya dengan semangat. Ia membutuhkan organisasi, ilmu, kesabaran dan kesinambungan.
Dari Jalan Kaki hingga Jalan Kemanusiaan
Baca Juga: Dari Balfour hingga Gaza: Ketika Sekutu Lama Mulai Berjarak
Sejarah perjuangan Al-Aqsa juga mengajarkan bahwa bentuk perjuangan dapat berubah sesuai zaman.
Awalnya aksi massa berjalan kaki membawa poster dan bendera. Kemudian hadir seminar dan konferensi.
Lalu, media massa mulai memainkan perannya. Media sosial membuka ruang baru. Bantuan kemanusiaan dikirimkan. Para relawan datang mendekati Palestina.
Ada yang berjalan. Ada yang bersepeda. Ada yang melakukan longmarch. Ada yang membawa buku. Ada yang membawa kamera. Ada yang membawa obat-obatan. Ada yang membawa makanan.
Baca Juga: Nahkoda Baru PBNU: Akankah Gus Kikin dan Cak Imin Bersatu?
Ada pula yang membawa satu hal yang tidak terlihat tetapi sangat penting, yaitu kesadaran bahwa Palestina bukan sendirian.
Karena itu, perjuangan Al-Aqsa tidak semestinya diukur hanya dari seberapa dekat seseorang secara fisik dengan Al-Quds.
Kadang seseorang berada ribuan kilometer dari Palestina, tetapi hatinya bersama Al-Aqsha.
Ia mengajar anak-anak mengenal Al-Aqsa. Ia menulis tentang Palestina. Ia memberitakan penderitaan rakyat Palestina. Ia menggalang bantuan. Ia membangun jejaring. Ia menjaga agar generasi muda tidak melupakan Palestina.
Baca Juga: Pakta Mekkah Langkah Awal Menuju Kemandirian Pertahanan Timur Tengah
Semua itu merupakan bagian dari mata rantai panjang perjuangan kemanusiaan.
Dari Al-Aqsa ke Gaza
Kemudian dunia menyaksikan tragedi Gaza yang semakin panjang. Masjid Al-Aqsa tetap menjadi simbol penting. Namun Gaza menjadi salah satu pusat penderitaan kemanusiaan yang paling memilukan.
Di sanalah perjuangan solidaritas Palestina memasuki dimensi baru. Bukan hanya tentang tempat suci. Tetapi juga tentang manusia. Tentang anak-anak, ibu-ibu, para dokter, rumah sakit, makanan dan air. Serta tentang hak hidup, tentang kebebasan dan martabat manusia.
Baca Juga: Dunia Merindukan Kepemimpinan Muhammad SAW
Maka solidaritas kepada Palestina berkembang menjadi gerakan kemanusiaan global. Dan salah satu bentuk yang kemudian mendapat perhatian dunia adalah Global Sumud Flotilla.
Ketika Dunia Berlayar Menuju Gaza
Pada 2026, Global Sumud Flotilla kembali mengorganisasi misi internasional menuju Gaza. Menurut catatan resmi penyelenggara, misi musim semi 2026 melibatkan lebih dari 70 kapal dan lebih dari 1.000 peserta dari berbagai negara, dengan tujuan membawa bantuan serta menantang kepungan terhadap Gaza. Misi tersebut berangkat dari Barcelona pada 12 April 2026 dan kemudian mengalami intersepsi di laut.
Di antara para peserta terdapat dokter, jurnalis, aktivis kemanusiaan, pengacara, guru dan berbagai unsur masyarakat sipil.
Baca Juga: Ketika Hijrah Rasulullah SAW Menjadi Inspirasi Muslim Amerika
Mereka tidak datang sebagai pasukan. Mereka datang sebagai warga sipil. Mereka membawa bantuan. Mereka membawa kesaksian. Mereka membawa pesan, “Gaza tidak boleh dilupakan.”
Dan di sinilah kita melihat sebuah benang merah yang menarik. Pada 17 September 2006, seruan Ghazwah Fath Al-Aqsa dikumandangkan. Lalu, pada 21 Agustus 2008, Aqsa Working Group lahir sebagai wadah kerja untuk pembebasan Al-Aqsha dan kemerdekaan Palestina.
Tahun-tahun berikutnya diisi dengan pendidikan, dakwah, media, aksi solidaritas dan kemanusiaan. Dan berikutnya, pada era Global Sumud Flotilla, solidaritas Palestina telah menjelma menjadi jaringan masyarakat sipil lintas negara.
Bentuknya berubah. Teknologinya berubah. Medannya berubah. Tetapi satu hal tidak berubah, yaitu kepedulian kepada Palestina.
Perjuangan Milik Bersama
Ada satu pelajaran penting dari perjalanan panjang ini, bahwa Perjuangan pembebasan Al-Aqsa dan kemerdekaan Palestina milik Bersama, umat Muslim dan umat manusia yang masih punya jiwa kemanusiaan.
Apa yang kita lakukan hari ini mungkin baru akan terlihat hasilnya oleh generasi yang akan datang. Kita mungkin tidak menyaksikan saat Al-Aqsa benar-benar bebas.
Kita juga mungkin tidak sempat shalat di Masjid Al-Aqsa bersama-sama dalam suasana damai. Tetapi bukan berarti perjuangan kita sia-sia.
Seorang guru mungkin hanya mengajarkan satu anak tentang Al-Aqsa. Tetapi anak itu kelak menjadi guru.
Seorang wartawan mungkin hanya menulis satu berita atau artikel tentang Palestina. Tetapi berita atau artikel itu mungkin membuka mata ribuan orang.
Seorang relawan mungkin hanya mengirim satu paket bantuan. Tetapi bagi sebuah keluarga yang kelaparan, bantuan itu bisa menjadi harapan. Seorang aktivis mungkin hanya berdiri membawa bendera Palestina. Tetapi gambar itu bisa membangkitkan kesadaran seseorang di tempat lain.
Begitulah sejarah bergerak. Sedikit demi sedikit. Langkah demi langkah. Generasi demi generasi. Dari amsa ke masa.
Dari Seruan Menjadi Kesadaran
Karena itu, setelah dua puluh tahun perjalanan sejak 2006, kita patut bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang telah kita lakukan untuk Al-Aqsa?” Bukan hanya, “Apa yang sudah dilakukan orang lain?” Tetapi, “Apa bagian yang bisa saya lakukan?”
Tentu, tidak semua orang bisa pergi ke Palestina. Tidak semua orang bisa berlayar menuju Gaza. Tidak semua orang bisa menjadi diplomat. Tidak semua orang bisa menjadi relawan kemanusiaan. Tetapi setiap orang bisa mengambil bagian.
Yang memiliki ilmu, mengajarkan. Yang memiliki pena, alat tulis, laptop, komputer, menulis. Yang memiliki kamera, mendomentasi. Yang memiliki harta, membantu. Yang memiliki mimbar, menyadarkan. Yang memiliki jaringan, menghubungkan. Yang memiliki tenaga, berkhidmat.
Dan siapa pun yang belum mampu melakukan semuanya, setidaknya jangan biarkan Al-Aqsa hilang dari hati.
Al-Aqsa Haqquna Amanah Kita
Perjalanan dari Ghazwah Fath Al-Aqsha 2006, kemudian Aqsa Working Group 2008, hingga berbagai aksi solidaritas kemanusiaan dan Global Sumud Flotilla 2026, mengingatkan kita bahwa perjuangan Al-Aqsa dan Palestina telah menjadi perjalanan panjang yang melibatkan banyak generasi dan banyak bentuk kerja.
Bukan satu orang. Bukan satu organisasi. Bukan satu negara. Bukan satu bangsa. Melainkan rangkaian panjang manusia yang memilih untuk tidak diam ketika melihat ketidakadilan.
Perjuangan itu harus tetap diletakkan dalam koridor kemanusiaan, hukum, pendidikan, dakwah, solidaritas dan upaya damai yang menghormati kehidupan manusia.
Sebab tujuan akhirnya bukan sekadar memenangkan sebuah pertarungan. Tujuan yang lebih luhur adalah menghadirkan keadilan, kemerdekaan, keamanan dan martabat manusia.
Dan bagi umat Islam, di dalamnya terdapat kerinduan yang sangat dalam, “Suatu hari nanti, semoga Allah memperkenankan kita melihat Masjid Al-Aqsa aman, bebas dari penistaan, dan menjadi tempat ibadah yang terbuka dalam kedamaian bagi manusia.”
Mungkin generasi kita belum sampai di sana. Tetapi kita boleh menjadi bagian dari perjalanan menuju ke sana.
Begitulah, dari sebuah seruan pada 17 September 2006. Dari sebuah ikrar bersama pada 21 Agustus 2008. Dari ribuan langkah para relawan. Dari pena para penulis. Dari suara para jurnalis. Dari doa para ulama. Dari kepedulian para dermawan. Dari keberanian para relawan kemanusiaan.
Hingga kapal-kapal kecil yang berlayar membawa pesan besar dari masyarakat dunia. Itu semua menunjukkan, Palestina tidak sendirian.
Dan pesan itu, insya Allah, akan terus diwariskan. Al-Aqsa Haqquna! []
Penulis, Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds Internasional
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic