Tel Aviv, MINA – Sekitar 1.000 warga Israel berunjuk rasa pada Sabtu (11/7) di Tel Aviv untuk menentang pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menuntut komisi penyelidikan negara independen atas kegagalan seputar serangan 7 Oktober 2023.
Media Israel, termasuk surat kabar Haaretz dan Yedioth Ahronoth, mengatakan para pengunjuk rasa berkumpul di Lapangan Habima untuk mengkritik penanganan pemerintah terhadap urusan politik dan keamanan.
Seorang demonstran mengatakan bahwa komisi penyelidikan resmi adalah “cara yang tepat untuk membangun realitas baru di Israel,” menurut Haaretz.
Ia menuduh pemerintah “sombong dan narsis”, mengatakan bahwa pemerintah menunjukkan penghinaan terhadap warganya dan, di tengah salah satu perang paling penting di Israel, tetap fokus pada mendorong undang-undang kontroversial, memicu perpecahan, dan mengamankan kelangsungan politiknya sendiri.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Protes tersebut terjadi beberapa hari setelah Knesset memberikan persetujuan awal rancangan undang-undang yang membentuk komisi untuk menyelidiki serangan 7 Oktober, yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan menyebabkan genosida di Jalur Gaza yang telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina dan hampir 1.100 orang sejak gencatan senjata diberlakukan Oktober lalu, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Terdapat 59 anggota parlemen yang memberikan suara mendukung dan tidak ada yang menentang. Anggota parlemen oposisi memboikot pemungutan suara, dengan alasan pemerintah seharusnya tidak memiliki peran dalam memilih anggota badan yang bertugas menyelidiki perilakunya sendiri.
Netanyahu berulang kali menolak tuntutan untuk komisi penyelidikan negara independen dengan kewenangan hukum yang luas, sementara mendukung panel politik yang komposisi dan mandatnya akan dipengaruhi oleh pemerintah.
Sementara itu, militer Israel telah merilis temuan dari penyelidikan internal yang mengakui kegagalan dalam misi intinya untuk melindungi warga Israel selama serangan 7 Oktober. Penyelidikan tersebut menyebutkan kekurangan intelijen dan operasional, serta penilaian yang salah tentang kemampuan dan niat faksi-faksi Palestina.
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
Temuan tersebut memicu pengunduran diri beberapa komandan senior, termasuk mantan Kepala Staf Herzi Halevi, sementara perwira lainnya dipecat atau dikenai sanksi disiplin atas peran mereka dalam kegagalan sebelum dan selama serangan.
Kota-kota di Israel telah menyaksikan demonstrasi berulang selama berbulan-bulan yang menuntut penyelidikan atas serangan tersebut dan pertanggungjawaban para pemimpin politik dan keamanan. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran
















Mina Indonesia
Mina Arabic