Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Xi Jinping Ingin Jadikan BRICS Sebagai Penjaga Rantai Pasok Global di Tengah Krisis Timteng

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Senin, 14 September 2026 - 03:48 WIB

Senin, 14 September 2026 - 03:48 WIB

15 Views ㅤ

Presiden China XI Jinping (foto: X)

New Delhi, MINA — Presiden China Xi Jinping menyerukan negara-negara BRICS memperkuat kerja sama untuk menjaga stabilitas rantai industri dan pasokan global di tengah gangguan jalur perdagangan akibat konflik di kawasan Asia Barat.

Seruan tersebut disampaikan Xi dalam KTT ke-18 BRICS di New Delhi, India, Ahad (13/9). Ia menilai negara-negara BRICS Raya memiliki posisi strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi global karena terhubung erat dengan negara-negara berkembang dan kawasan Global South. Anadolu melaporkan.

Xi mendorong negara-negara BRICS meningkatkan koordinasi untuk mempertahankan rantai industri dan pasokan tetap stabil serta tidak terhambat. Menurutnya, kerja sama tersebut penting untuk membangun pasar yang lebih terintegrasi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia.

Pernyataan Xi muncul ketika Selat Hormuz menghadapi gangguan serius akibat eskalasi konflik di kawasan. Sejumlah kapal dilaporkan menghadapi serangan ketika melintasi jalur strategis tersebut, sementara aktivitas pelayaran dan pasokan energi global ikut terdampak.

Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global

Selat Hormuz menjadi salah satu jalur pelayaran energi paling penting dunia karena menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Gangguan berkepanjangan di kawasan tersebut berpotensi meningkatkan biaya pengangkutan, mengganggu distribusi energi dan memberikan tekanan terhadap harga minyak dunia.

Dampaknya mulai terlihat di pasar energi. Harga minyak Brent dilaporkan telah menembus level di atas 100 dolar AS per barel seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari kawasan Teluk. Kondisi tersebut mendorong sejumlah perusahaan dan pelaku perdagangan mencari sumber minyak alternatif dari kawasan lain.

Selain persoalan energi, gangguan di Selat Hormuz juga berpotensi memengaruhi perdagangan internasional yang bergantung pada jalur pelayaran kawasan Asia Barat. Gangguan transportasi dapat meningkatkan ongkos logistik dan berdampak pada harga barang di negara-negara yang bergantung pada impor energi serta bahan baku.

Dalam KTT tersebut, Xi juga mengusulkan sejumlah langkah untuk memperkuat kerja sama BRICS, termasuk pembentukan BRICS Artificial Intelligence Open Source Zone, kemitraan zona ekonomi khusus serta forum perdagangan jasa BRICS yang akan digelar China pada 2027.

Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem

BRICS sendiri kini memiliki cakupan lebih luas dibanding kelompok pendiri Brazil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan. Iran, Indonesia, Mesir, Ethiopia, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi termasuk negara yang telah bergabung sebagai anggota, sementara sejumlah negara lainnya berstatus mitra. Perluasan tersebut membuat BRICS semakin memiliki bobot dalam isu energi, perdagangan dan rantai pasok global.

Di tengah krisis Asia Barat, para pemimpin BRICS juga menyerukan penahanan diri dan penyelesaian konflik melalui dialog serta diplomasi. Deklarasi New Delhi menekankan pentingnya stabilitas kawasan sekaligus kelancaran perdagangan dan perlindungan infrastruktur energi.

Seruan Xi tersebut menunjukkan bahwa gangguan Selat Hormuz tidak lagi dipandang semata sebagai persoalan keamanan regional, tetapi telah menjadi masalah ekonomi global. Bagi BRICS, penguatan rantai pasok menjadi salah satu langkah untuk mengurangi dampak konflik terhadap perdagangan dan perekonomian negara-negara Global South. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun

Rekomendasi untuk Anda

Eropa
Internasional
Internasional
Internasional
Internasional