Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

5 Alasan Mengapa Israel Terjebak di Gaza, Kemenangan yang Tak Kunjung Datang

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Jumat, 17 Juli 2026 - 17:08 WIB

Jumat, 17 Juli 2026 - 17:08 WIB

48 Views ㅤ

Tentara Zionis Israel tewas (Sawt Beirut)

Tel Aviv, MINA – Zionis Israel berbicara tentang “kemenangan” atas Iran dalam 12 hari, membanggakan serangan tegas terhadap Hezbollah, dan memanfaatkan kelemahan Suriah. Namun di Gaza, mereka masih terjebak.

Meski telah mengerahkan 176.000 tentara reguler dan 360.000 cadangan, melawan sekitar 43.000 pejuang Hamas dan Jihad Islam, Israel belum mampu menyatakan kemenangan.

Lebih dari 1.000 hari, perang ini menjadi yang terpanjang dalam sejarah Israel. Lalu, apa yang membuat mereka sulit menguasai Jalur Gaza sepenuhnya? Berikut lima kemungkinan alasannya.

  1. Tujuan Perang yang Tidak Realistis

Sejak awal, pemerintah Israel menetapkan tujuan yang bersifat imajiner dan sulit dicapai, “menghancurkan Hamas,” “menghancurkan kekuasaannya di Gaza,” dan “mengembalikan sandera dengan tekanan militer.”

Baca Juga: Israel Culik 28 Warga Palestina di Tepi Barat, Termasuk Jurnalis Al Jazeera

Seiring waktu, tujuan ini terus bertambah, termasuk rencana deportasi warga Gaza ke negara lain. Semua ini adalah tujuan yang bisa berlangsung bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, tanpa hasil nyata.

  1. Tentara Tidak Siap untuk Perang Panjang

Pakar militer Israel, Avi Ashkenazi, mengakui bahwa tentara Israel tidak siap menghadapi perang bawah tanah dan jaringan terowongan Hamas. Mereka juga tidak siap menghadapi perlawanan penduduk Gaza yang terus mendukung pejuangnya.

“Kami melihat tentara bertempur di Jabalya untuk keempat kalinya, Khan Younis untuk kedua kalinya, Rafah untuk ketiga kalinya,” kata Ashkenazi.

Tentara kelelahan, peralatan aus, dan kurangnya pelatihan semakin memperburuk kondisi.

Baca Juga: Sedikitnya 234 Pemukim Israel Serbu Halaman Masjid Al-Aqsa

  1. Kurangnya Perencanaan ke Medan Perang

Selama bertahun-tahun, Staf Umum IDF meyakini bahwa unit lapis baja dan teknik tidak lagi diperlukan di medan perang masa depan. Mereka menganggap produksi tank terlalu mahal. Namun kenyataan di Gaza menunjukkan sebaliknya, pertempuran darat dan teknik justru menjadi tulang punggung perang ini.

Ini adalah kesalahan perencanaan yang membayakan nyawa tentara dan memperpanjang konflik.

  1. Sikap Gedung Putih yang Masih Mendua

Dalam editorial Haaretz, disebutkan bahwa satu kata dari Presiden Donald Trump sudah cukup untuk menghentikan perang di Iran. Hal yang sama bisa terjadi di Gaza. Namun hingga kini, tekanan dari Gedung Putih belum maksimal.

Ketua Komite Keuangan Knesset, Moshe Gafni, bahkan bertanya dengan lantang, “Saya tidak mengerti apa yang kita perjuangkan dan untuk apa. Apa yang kita lakukan di sana ketika tentara terbunuh sepanjang waktu?”

Baca Juga: Empat Warga Palestina Syahid dalam Pelanggaran Terbaru Israel di Gaza

  1. Perang Demi Kelangsungan Hidup Politik Netanyahu

Inilah alasan yang paling dalam dan paling menentukan. Perang ini bukan lagi tentang Gaza atau Palestina. Ini tentang kelangsungan hidup Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan koalisinya.

Jajak pendapat menunjukkan bahwa jika pemilu diadakan, partai-partai koalisi akan kehilangan sepertiga kekuatan mereka. Netanyahu takut kehilangan kekuasaan dan menghadapi konsekuensi hukum yang serius, termasuk kasus korupsi yang menggantung di kepalanya. Dengan perang, persidangan bisa ditunda dengan alasan darurat militer.

Sementara itu, para menteri ekstremis seperti Bezalel Smotrich dan Itamar Ben-Gvir menggunakan kekuasaan untuk memperluas permukiman dan mempersulit kehidupan warga Palestina.

Ultra-Ortodoks memanfaatkan momen ini untuk membebaskan pemuda mereka dari wajib militer. Ini adalah kesempatan emas bagi mereka, dan mereka tidak ingin kehilangannya.

Baca Juga: Jumlah Perempuan Palestina di Penjara Israel Capai 88 Orang

Begitulah, perang di Gaza telah menjadi perang demi perang itu sendiri. Tanpa tujuan jelas, tanpa perencanaan, tanpa strategi keluar, dan tanpa akhir yang terlihat, selain tanda kekalahan, menghadapi keteguhan perjuangan Gaza. []

Sumber: Al-Sharq al-Awsath

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Hebron Setelah 10 Hari Serangan Militer

Rekomendasi untuk Anda

MINA Sport
Internasional
Info MINA
Indonesia