HARI ITU, Kamis, 17 September 2026, dermaga Marina Carita tidak lagi riuh oleh deru mesin speedboat. Angin laut berhembus pelan, seakan ikut berduka.
Di hadapan para jurnalis yang sejak sepuluh hari lalu menanti kabar, Gubernur Banten Andra Soni mengucapkan kalimat yang berat, “Dengan berat hati pencarian ini oleh pihak yang memiliki kewenangan dinyatakan dihentikan.”
Delapan nama masih tercatat dalam daftar pencarian. Lima jurnalis: M. Bagus Khoirunnas (Antara), Ari Basuki (Merdeka), Yudistiro Pranoto (iNews), Firdaus Wajidi (Anadolu), dan Donal Husni (jurnalis lepas). Tiga kru: Warta sang kapten, Surakman, dan Heriyanto sang pemandu. Mereka hilang sejak Senin, 7 September 2026, dalam perjalanan liputan menuju kawasan Gunung krakatau/">Anak Krakatau.
Lebih dari 500 personel dikerahkan. Wilayah pencarian mencapai 8.509 mil laut persegi. Helikopter Basarnas menyisir dari udara, KN SAR Tetuka membelah ombak selama sepuluh jam sehari.
Baca Juga: DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Hak Pekerja Diperkuat
Tiga belas benda ditemukan mengapung, life jacket, helm, jeriken. Namun semuanya dipastikan bukan milik KM Arupadhatu I. Pelampung asli kapal itu berwarna merah, kuning, dan ungu. Yang ditemukan berwarna oranye, bertuliskan MILLES.II.
Di balik tragedi ini, tersembunyi tiga pulau yang menjadi saksi bisu. Pulau Sertung, Rakata, dan Panjang. Tiga dinding kaldera purba yang menyimpan misteri kehidupan, kehancuran, dan kebangkitan.
Tiga Dinding Kaldera Purba
Pulau Panjang dan Pulau Sertung tampak di kiri-kanan. Kedua pulau itu, bersama Pulau Rakata, sesungguhnya adalah sisa-sisa dinding kaldera Kompleks Gunung Krakatau yang hancur dan tenggelam setelah letusan 1883. Kaldera itu kini mewujud cekungan raksasa di bawah laut dengan Pulau Rakata sebagai dinding di sisi selatan, Sertung di sisi barat, dan Panjang di sisi timur.
Baca Juga: Kemenag Dukung Amil Zakat Profesional dan Bersertifikat
Bayangkanlah. Lebih dari satu abad lalu, sebuah ledakan dahsyat merobek langit Nusantara. Gunung Krakatau meletus dengan kekuatan luar biasa, menghancurkan dirinya sendiri, meninggalkan tiga gugusan pulau yang kini kita kenal. Namun dari kehancuran itu, kehidupan baru justru menemukan rahimnya.
Kehidupan di Atas Bekas Luka
Di atas luka-luka purba itulah, kehidupan bersemi kembali. Penelitian menunjukkan bahwa pulau-pulau Krakatau, terutama Sertung dan Panjang, memiliki biota yang lebih muda dari Pulau Rakata. Sertung, khususnya, memiliki daratan pasir (spit) di bagian utara yang terus berubah bentuk karena arus laut, menjadi semacam laboratorium alam untuk melihat tahap awal kolonisasi kehidupan .
Tumbuhan-tumbuhan pionir mulai menjalar di tanah vulkanik. Beringin (ficus) menjadi salah satu spesies kunci yang membuka jalan bagi kehidupan lain. Lebih dari 20 spesies beringin tercatat hidup di kepulauan ini, menjadi sumber makanan bagi berbagai satwa frugivora—pemakan buah. Kehadiran beringin menciptakan umpan balik positif: semakin banyak beringin, semakin banyak pemakan buah yang datang; semakin banyak pemakan buah, semakin banyak biji yang tersebar; dan semakin banyak tumbuhan baru yang tumbuh.
Baca Juga: Forum Zakat Soroti Perlindungan dan Profesionalisme Amil
Di antara pepohonan itu, kehidupan berdenyut. Lebih dari 80 spesies vertebrata non-migran tercatat sejak 1883. Sekitar 90 persen di antaranya diyakini telah memiliki populasi yang berkembang biak. 47 spesies burung, 17 spesies kelelawar, 11 spesies reptil, dan dua spesies tikus.
Kelelawar buah menjadi agen penyebar biji paling penting, terbang dari pulau ke pulau, membawa benih kehidupan di dalam perutnya.
Peluang Hidup di Tengah Bahaya
Namun kehidupan di kawasan Krakatau bukanlah kehidupan yang tenang. Gunung krakatau/">Anak Krakatau, yang muncul dari perut laut pada 1927, terus aktif. Erupsi demi erupsi mewarnai langit dengan abu dan api.
Baca Juga: Tenggelamnya KM Virgo, Polisi Tetapkan 4 Orang sebagai Tersangka
Pada 22 Desember 2018, sebuah peristiwa yang mengerikan terjadi: erupsi dan runtuhnya sisi barat daya krakatau/">Anak Krakatau memicu tsunami yang menyapu pantai-pantai Selat Sunda. Lebih dari 430 jiwa melayang.
Tsunami itu tidak hanya menghantam pesisir Banten dan Lampung. Pulau Rakata dan Sertung, yang berada kurang dari 5 kilometer dari sumber, langsung diterjang. Seluruh vegetasi pesisir di lereng-lereng curam dua pulau itu digunduli hingga ketinggian lebih dari 80 meter. Di ujung timur laut Sertung, sebuah pohon tunggal tetap berdiri setelah dilanda arus setinggi 11 meter.
Pulau Panjang, meskipun tidak disebut secara spesifik dalam studi tsunami itu, tetap berada dalam lanskap yang sama—lanskap yang terus-menerus dibentuk dan dibentuk ulang oleh kekuatan vulkanik.
Dan kini, pada September 2026, krakatau/">Anak Krakatau kembali menunjukkan gejalanya. Erupsi-erupsi kecil terus terjadi. Pada 16 Agustus 2026, dalam sebuah perjalanan melintasi perairan kepulauan, abu hitam pekat tiba-tiba membubung tinggi dari antara krakatau/">Anak Krakatau dan Pulau Sertung, mencapai 200-350 meter di atas puncak kawah.
Baca Juga: Anak Krakatau Erupsi Dua Kali, Abu Vulkanik Bergerak ke Barat Laut
Begitulah, keindahan kawasan Krakatau, yang sekaligus juga menyimpan bahaya. Setiap tahun, wisatawan datang untuk menyaksikan langsung gunung yang terus tumbuh itu.
Termasuk pada 7 September 2026, Ketika sekelompok jurnalis berangkat untuk meliput aktivitas gunung itu. Dan kini mereka tidak kembali.
Yang Tak Pernah Kembali
Hari itu, di antara Sertung dan Panjang, di depan krakatau/">Anak Krakatau, kapal Arupadhatu I melintas. Titik lokasi terakhir dikirim pukul 14.42. Komunikasi terputus pukul 15.04. Sejak itu, senyap .
Baca Juga: Rupiah Hari Ini Rp17.914 per Dolar AS
Sepuluh hari pencarian. Tiga belas benda ditemukan, tak satu pun terkait. Nelayan, kapal patroli, dan warga diminta melapor jika menemukan tanda-tanda. Operasi bisa dibuka kembali jika ada informasi baru.
Sertung, Rakata, Panjang. Tiga pulau yang berdiri di tepi kaldera. Mereka adalah saksi bisu dari kehancuran 1883, saksi bisu dari kebangkitan kehidupan setelahnya, dan kini, saksi bisu dari delapan jiwa yang hilang di perairan yang tak pernah benar-benar tenang.
Mereka yang hilang mungkin telah menjadi bagian dari misteri Krakatau. Tapi bagi keluarga yang menanti, bagi rekan-rekan yang menyalakan lilin di 22 kota, mereka belum benar-benar pergi.
Mereka masih ada di setiap doa, di setiap pencarian yang mungkin akan dimulai kembali.
Baca Juga: Ustaz Adi Hidayat Buka Sayembara Hadiah Haji Plus soal Syaikh Albani
Karena di kawasan Krakatau, kehidupan dan kematian bukanlah dua hal yang terpisah. Mereka adalah satu tarikan napas yang sama, dari abu menjadi hutan, dari hutan kembali menjadi abu, dan dari abu, kehidupan baru menemukan jalannya. []
Wallahu a’lam bish-shawab.
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Pesantren Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya Selenggarakan Shalat Istisqa
















Mina Indonesia
Mina Arabic