Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menjaga Malu, Merawat Iman: Refleksi Bijak tentang Tabarruj

Bahron Ansori - Ahad, 14 Desember 2025 - 12:44 WIB

Ahad, 14 Desember 2025 - 12:44 WIB

20 Views ㅤ

Tabarruj bukan sekadar memakai pakaian bagus atau tampil rapi.(Foto: ig)

SEBELUM melangkah lebih jauh, kita perlu memahami terlebih dahulu dengan bahasa yang sederhana: apa itu tabarruj?

Tabarruj bukan sekadar memakai pakaian bagus atau tampil rapi. Tabarruj adalah perilaku menampakkan kecantikan, perhiasan, atau aurat secara sengaja untuk menarik perhatian, terutama di hadapan laki-laki yang bukan mahram. Ia bisa hadir dalam bentuk pakaian ketat atau transparan, riasan berlebihan, gaya berjalan dan berbicara yang menggoda, hingga sikap suka memamerkan diri—baik di dunia nyata maupun di media sosial. Jadi, tabarruj bukan hanya soal kain di tubuh, tetapi niat di hati dan pesan yang ingin disampaikan kepada pandangan orang lain.

Islam tidak melarang wanita tampil bersih, rapi, dan indah. Yang dilarang adalah ketika keindahan itu dipamerkan, bukan dijaga. Dari sinilah persoalan tabarruj menjadi serius, karena ia menyentuh wilayah iman, akhlak, dan dampak sosial. Berikut delapan alasan mengapa tabarruj menjadi sebab murka Allah.

Pertama, tabarruj berarti melanggar perintah Allah secara sadar. Allah telah memerintahkan wanita beriman untuk menutup aurat dan tidak menampakkan perhiasan kecuali kepada yang berhak. Ketika tabarruj dilakukan dengan sengaja, itu bukan ketidaktahuan, tetapi pilihan. Setiap pilihan untuk melawan perintah Allah, sekecil apa pun, adalah bentuk pembangkangan yang mengundang murka-Nya.

Baca Juga: 4 Amalan Muslimah yang Membuka Pintu Surga

Kedua, tabarruj mengikis rasa malu, padahal malu adalah mahkota iman. Rasulullah SAW menegaskan bahwa malu adalah bagian dari iman. Tabarruj melatih hati untuk terbiasa dilihat, dinilai, dan dikagumi. Lama-kelamaan, rasa malu memudar. Ketika malu hilang, iman melemah. Dan saat iman melemah, murka Allah menjadi ancaman yang nyata.

Ketiga, tabarruj membuka pintu fitnah yang luas. Allah murka bukan semata karena pakaian, tetapi karena dampaknya. Tabarruj mengundang pandangan, memancing syahwat, dan sering menjadi awal dari dosa-dosa lain. Fitnah tidak berhenti pada satu orang; ia menjalar ke banyak hati. Islam menutup pintu ke arah keburukan, bukan menunggunya terbuka lebar.

Keempat, tabarruj merendahkan martabat wanita tanpa disadari. Islam memuliakan wanita karena iman, akhlak, dan perannya. Tabarruj justru menggeser nilai itu menjadi penilaian fisik. Ketika seorang wanita ingin dihargai karena penampilannya, bukan ketakwaannya, ia sedang menukar kemuliaan dengan perhatian semu. Murka Allah hadir saat kemuliaan yang Dia jaga justru diruntuhkan.

Kelima, tabarruj menumbuhkan kesombongan dan ketergantungan pada pujian manusia. Pamer kecantikan sering melahirkan rasa bangga berlebihan, riya, dan haus pengakuan. Hati pun sibuk mengejar “like”, pujian, dan validasi. Padahal, hati yang penuh cinta dunia sulit dipenuhi cahaya iman. Allah murka ketika hamba lebih memilih penilaian manusia daripada ridha-Nya.

Baca Juga: Belajar Tidak Harus Berhenti Meski Sudah Berkeluarga

Keenam, tabarruj menghidupkan kembali budaya jahiliyah. Al-Qur’an menyebut tabarruj sebagai ciri jahiliyah—masa kebodohan sebelum cahaya wahyu. Ketika tabarruj dianggap modern dan bebas, sejatinya itu adalah kemunduran nilai. Menghidupkan apa yang Allah benci berarti mendekatkan diri pada murka-Nya.

Ketujuh, tabarruj merusak peran wanita sebagai teladan generasi. Wanita adalah pendidik pertama. Jika tabarruj dinormalisasi, anak-anak belajar bahwa membuka aurat itu wajar, pamer diri itu biasa. Dosa yang ditiru dan diwariskan inilah yang membuat tabarruj menjadi berat timbangannya di sisi Allah.

Kedelapan, tabarruj mencabut keberkahan hidup secara perlahan. Tidak selalu murka Allah datang dalam bentuk musibah besar. Kadang ia hadir sebagai hati yang gelisah, ibadah yang hambar, dan doa yang terasa jauh. Hidup tampak baik-baik saja, tetapi kehilangan rasa cukup dan tenang.

Tulisan ini bukan untuk menghakimi, melainkan mengajak merenung. Setiap wanita punya jalan kembali. Tabarruj bukan identitas abadi; ia bisa ditinggalkan dengan kesadaran dan keberanian. Saat seorang wanita memilih menutup aurat, menjaga malu, dan kembali kepada ketaatan, Allah tidak hanya menghapus murka-Nya, tetapi menggantinya dengan rahmat, kemuliaan, dan ketenangan yang tak bisa dibeli oleh pujian manusia.[]

Baca Juga: Mitos Bantuan untuk Wanita Bercerai pada Era Genosida Israel di Gaza

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Benarkah Ibu Hamil Baca Surah Yusuf Bayinya Jadi Tampan?

Rekomendasi untuk Anda

Indonesia
Khadijah
Hikmah
Khadijah
MINA Preneur